Mencicipi Masakan Tidak Membatalkan Puasa(?) Ini Penjelasannya Menurut Fikih

 

 

Ramadan adalah bulan yang penuh barokah. Di dalamnya ada banyak keutamaan-keutamaan yang dapat kita dapatkan. Keagungan dan keutamaan bulan Ramadan akan memberikan hikmah dan nikmat yang tak terbantahkan apabila kita melakukannya dengan penuh keikhlasan.

Sebagai mukmin, kita harus memanfaatkan bulan suci ini dengan semaksimal mungkin. Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt, dengan zikir, pikir, dan tafakur.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim)

Mencicipi Masakan

Salah satu hikmah puasa adalah kenikmatan berbuka. Setelah seharian kita tidak makan dan tidak minum, menjelang berbuka puasa adalah saat yang sangat dinantikan. Berbagai menu masakan telah disediakan untuk menikmati indahnya berbuka.

Namun, sebelum semua masakan tersedia, tentu harus ada tangan-tangan ikhlas yang harus melakukan proses memasak. Ibu rumah tangga biasanya sebagai seseorang yang mengikhlaskan diri menyediakan menu masakan. Di antara proses penyediaan menu makanan adalah mencicipi masakan.

Bagaimana hukum mencicipi masakan menurut fiqih? Dalam sebuah keterangan dijelaskan, ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa mencicipi masakan tidak membatalkan puasa. Nabi saw bersabda, “Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongan.” (HR Bukhari).

Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari di atas menjelaskan bahwa mencicipi masakan untuk mengetahui rasa yang diinginkan hukumnya boleh. Tetapi kebolehannya disertai dengan syarat tidak sampai ke tenggorokan. Bagaimana kalau masakan tersebut sampai (tanpa sengaja) ke tenggorokan? Apakah batal puasanya?

Dalam sebuah kaidah fiqih dikatakan, “Ridha bissyai’ ridha bima yatawalladu minhu; sesuatu yang direlakan maka apapun yang timbul dari kerelaan itu juga (harus) direlakan.” Kaidah fiqih ini menjelaskan bahwa kalau mencicipi masakan itu boleh, maka akibat dari mencicipi adalah masuknya makanan ke tenggorokan. Dengan syarat tidak berlebih dan tidak disengaja. Sehingga, dalil awal dari kebolehan adalah kewajaran sesuatu yang timbul oleh kebolehan tersebut.

Untuk lebih memahami korelasi hukum syar’i dalam hal mencicipi masakan, lebih baiknya kalau kita dalami dulu hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan demikian, kita akan dibawa pada pemahaman bahwa mencicipi masakan ini berada di luar koridor yang membatalkan puasa.

Batalnya Puasa

Di dalam kitab Syarah Fathul Qarib al-Mujib, karangan Syeh Muhammad bin Qasim al-Ghazy, atas matan kitab Al-Ghayah wat Taqreeb, karangan Syeh Abi Suja’ Ahmad bin Husin Al-Ashfahani ada sepuluh perkara yang dapat membatalkan puasa. Penjelasan ini dapat dilihat pada kitab tersebut, dijelaskan pada halaman 25 s.d. 26.

Pertama, makan dan minum secara sengaja. Sedangkan makan atau minum tanpa disengaja maka tidak membatalkan puasa. Kedua, memasukkan sesuatu ke dalam lubang yang ada di tubuh. Seperti telinga, mulut, hidung, dan mata. Ketiga, berobat melaui lubang anus atau alat vital. Keempat, muntah yang disengaja. Kelima, bersetubuh atau bersanggama secara sengaja. Jika bersanggama karena lupa, maka tidak membatalkan puasa sebagaimana makan atau minum yang tidak disengaja.

Keenam, keluar mani dengan sengaja, baik dengan cara onani, masturbasi, maupun lainnya. Ketujuh s.d. kesepuluh, haid, nifas, gila, dan murtad. Mengenai haid dan nifas ada ulama yang berpendapat bahwa mereka boleh dan sah berpuasa. Karena mereka hanya diberi keringanan untuk tidak berpuasa. Sebab, seorang wanita haid atau nifas akan membuat tubuh mereka lemah dan lelah. Sehingga mereka diberi rukhsoh (keringanan) untuk tidak berpuasa dan diganti (qadha’) pada hari yang lain.

Menurut jumhur ulama, (Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi) mereka bersepakat bahwa haid dan nifas seorang wanita membatalkan puasa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah, ia berkata, “Kami pernah kedatangan hal itu (haid), maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha salat.” (HR. Muslim).

Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mencicipi masakan untuk memberikan rasa yang sesuai bagi penikmatnya adalah boleh. Apalagi sudah ada hukum fiqih tersendiri, sebuah hadis sebagaiman disampaikan di atas. Maka kebolehan mencicipi masakan (bagi orang yang biasa memasak) tidak terbantahkan sesuai dengan hukum syar’i. Wallahu A’lam!