Motivasi Surat Ad-Dhuha untuk Nabi Muhammad SAW

Surat Ad-Dhuha

Rancah.com – Seperti yang sudah diketahui, surat Al-Dhuha adalah surat ke-93 dalam Al-Qur’an. terdiri dari 11 ayat, 40 kalimat, 170 huruf ini, termasuk dalam kategori surat yang sering dibaca dan banyak dihafal oleh orang-orang muslim, khususnya negara Indonesia sendiri. Surat ini bisa dikatakan surat yang tidak asing ditelinga kalangan orang muslim.

Mengenai sejarah turunnya surat Al-Dhuha ini, Ibnu Al jauzi berpendapat bahwa surat Al-dhuha turun di kota Makkah dan ini telah disepakati oleh para ulama’. Dan Imam Qurthubi juga berkata surat Al-dhuha ini adalah Makkiyat. begitu juga dengan Ibnu Abdul Kafi berkata bahwa surat ini Makkiyat.

Ibnu Asyuri berkata: “surat Al-Dhuha ini terdiri dari sebatas ayat. Untuk tertib turunnya, surat ini turun setelah surat Al-fajr dan sebelumnya surat Al-Insyirah. Dikuatkan juga pendapat ini oleh Abu Amru Ad-Daani bahwa surat ini terdiri dari 11 ayat, dan tidak bertentangan mengenai hal ini, begitu juga yang dikatakan oleh Ibnu Abdul Kafi, Al Alussi dan lain-lain.

Surat Al-Dhuha hampir sama dengan surat-surat lainnya dalam aspek ulum Al-Qur’an secara umum. Namun ada hal-hal sisi lain yang menonjol dan jarang diketahui orang-orang untuk membedakan antara surat ini dan lainnya yaitu tentang Asbabun Nuzul nya.

Surat Al-Dhuha menjadi saksi bisu Nabi Muhammad SAW pernah bersedih amat dalam. Ini diawali ketika Nabi Muhammad SAW tidak lagi menerima wahyu beberapa waktu. Untuk penyebab dan waktu tidak turunnya wahyu sendiri terdapat perbedaan riwayat.

Contohnya dalam kitab Shofwat al-Tafasir karya Muhammad Ali As-Shobuni menyampaikan bahwa surat ini turun ketika Rosulullah menangis tak henti hentinya dan tidak bangun sekitar dua atau tiga malam. Kemudian datang seorang wanita. Dia adalah Ummu Jamil, Istri Abu Lahab. Ummu Jamil berkata :”Aku melihat syaithanmu (jibril) telah meninggalkanmu!!! Aku tidak melihat syaithanmu di dekatmu sekitar dua atau tiga malam” kemudian Allah menurunkan surat Al-Dhuha ini.

Berbeda dengan apa yang dijelaskan dalam kitab Lathoif Al-Isyarat karya Imam Al-Qusyairi. Di sini ada dua riwayat yang dicantumkan oleh Imam Qushairi: Yang pertama, turunnya surat ini disebabkan, tidak datang malaikat Jibril kepada Nabi satu hari dan kemudian ada Ahli Makkah berkata :”Muhammad telah dibenci Tuhannya” kemudian turunlah riwayat yang berpendapat lain mengenai ketidak datangan Jibril, ada yang mengatakan 40 hari, 12 hari dan 25 hari.

Yang kedua, sebab tidak datangnya malaikat Jibril dikarenakan ada seorang yahudi yang bertanya tentang kisah Dzul Qornain dan Ashabul Kahfi, dan Nabi berjanji menjawabnya dan tidak mengucapkan “Insyaallah”.

Selanjutnya pendapat Ibnu Katsir sendiri ini cenderung sama dengan pendapat kitab-kitab Shofwat al-tafasir karya Muhammad Ali As-Shobuni, bahwa surat ini turun disebabkan Nabi Muhammad bersedih sehingga tidak bangun satu sampai dua malam. Yang kemudian datang seorang perempuan yang berkata: “wahai Muhammad, aku tidak melihat Syaithanmu lagi, melainkan dia telah meninggalkanmu kemudian setelah itu barulah Allah menurunkan surat Al-Dhuha.

dari paparan di atas sudah jelas bahwa garis besar turunya surat Al-Dhuha ini dikarenakan rasa sedih nabi Muhammad ketika malaikat Jibril tak kunjung datang, ditambah dengan ejekan kepada Nabi Muhammad oleh wanita dari Quraisy. Kitab Shofwat al-Tafasir karya Muhammad Ali As-Shobuni disebutkan bahwa wanita yang mengejek itu adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab. sedang di redaksi yang lain, tidak menyebutkan secara jelas siapa wanita itu. Adapun sedikit perbedaan yang di cantumkan dalam kitab Lathoif Al-Isyarat karya Imam Al-Qusyairi dikarenakan adanya seorang Yahudi yang bertanya tentang kisah Dzul Qornain dan Ashabul Kahfi, dan Nabi Muhammad berjanji tanpa mengucapkan “insyaallah” ini kualitas nya masih bisa dikatakan lemah dan juga belum ditemukannsejauh jangkauan penulis dengan sumber lain yang telah di cantumkan.

Adapun perbedaan dari tiga sumber yang telah dicantumkan di atas mengenai Asbabun Nuzul, hanya terletak pada berapa lamanya malaikat Jibril tidak datang. Untuk hal ini Imam Ibnu Katsir Muhammad Ali As-Shobuni secara tidak langsung sepakat bahwa ini terjadi sekitar dua atau tiga malam.

Setelah melalui proses sedih yang teramat dalam dengan jangka waktu yang masih ada perbedaan antara 1 hari, ada juga yang 40 hari, 12 hari dan 25 hari tidak menerima wahyu, barulah dahaga penantian Nabi terobati dengan Allah menurunkan surat Al-Dhuha kepada Nabi Muhammad untuk membebaskan nabi dari perasaan-perasaan negatif terhadap apa yang telah terjadi pada Nabi, serta jaminan kepada Nabi bahwa Allah tetap peduli dan melalui surat itu menemukan kedamaian dan harapan baru. tentunya yang perlu dipahami, motivasi dalam surat Al-Dhuha ini bukan hanya di peruntukkan Nabi, tapi bagi semua umat manusia khususnya orang Islam. Wallahu a’lam.