Sang Provokator Handal

Sang Provokator Handal
ilustrasi Abu Jahal

Dia termasuk orang yang disegani oleh kaumnya. Gaya bicaranya memang menarik dan mampu membakar semangat. Dia tidak biasa dibantah. Dia tidak biasa disepelekan. Siapapun yang berseberangan dengannya pasti akan dihabisi. Dia juga memiliki keberanian yang langka.

‘… Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih’. { Al Anfal 32}

Inilah ucapannya yang sangat fenomenal. Keberanian menantang Tuhan yang membuat setan-setan pun bergidik mendengarnya. Ya, dia adalah Abu Jahal, Sang Provokator yang paling handal pada jamannya. Lidahnya terampil dalam melontarkan hinaan, sehingga selalu memancing sorak-sorai dari kaumnya. Mulutnya mahir dalam mencaci-maki dan menyebarkan fitnah, sehingga semakin menanamkan kebencian dan kedengkian di hati para pendukungnya.

Akan tetapi apa lantas Allah menghujaninya batu dari langit, atau mengirimkan azab yang pedih? Tidak. Bahkan sebaliknya Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang mengalami penderitaan yang berat akibat embargo kaum kafir Quraisy. Ditambah lagi Rasulullah SAW kehilangan orang-orang yang paling beliau cintai, sehingga tahun itu disebut sebagai tahun kesedihan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal dan kaumnya merasa pihaknyalah yang berada di jalan kebenaran. Semuanya serba terbalik.

Sang Provokator yang bicaranya selalu dengan nada tinggi itu sebetulnya sedang bercerita tentang jiwanya yang sangat menderita. Sikap temperamennya itu sebetulnya sedang menuturkan tentang jiwanya yang gersang dari cinta. Sementara musuh besarnya, Rasulullah SAW, adalah orang yang hatinya bebas dari kebencian, tutur katanya sering mendermakan kesejukan, dan itulah permata spiritual, yang sebetulnya di relung hati Abu Jahal yang terdalam,  merasa iri.

Seiring berjalannya waktu, Sang Provokator yang paling sadis dan bengis itu semakin merasa besar kepala. Pesta-pesta dirayakan sebagai wujud kemenangan atas prestasi mereka membuat kaum muslimin terusir dari negerinya. Ya, Rasul SAW dan pengikutnya akhirnya hijrah ke Madinah.

Abu Jahal merasa lebih terhormat dibanding Rasulullah SAW, karena ia memiliki banyak harta dan salah seorang keturunan bangsawan Quraisy. Bila bertemu Rasulullah di jalanan, Sang Provokator itu berseru mengejek, “Orang yang mengabarkan wahyu dari langit  ini adalah anak Abu Kabsyah!” (Abu Kabsya adalah suami Halimah, perempuan desa yang menyusui dan merawat Rasulullah SAW ketika kecil)

Di lain waktu Sang Provokator itu berseru, “Inilah pelayan Abu Thalib yang mengabarkan kata-kata dari langit!” Tujuannya tentu saja adalah untuk menggiring opini masyarakat bahwa urusan wahyu itu adalah soal yang agung dan mulia, jadi tidak mungkin diturunkan kepada orang desa, orang miskin, dan tidak berpendidikan. Meskipun Abu Jahal tahu betul bahwa nasab Rasulullah SAW adalah orang-orang mulia.

Al Walid binl Mughirah, salah satu pembesar Kabilah Quraisy yang kaya raya dan sangat disegani, adalah pamannya Abu Jahal, yang juga sorang provokator handal.

Suatu hari Al Walid berkata kepada kaumnya, “Kalian menganggap Muhammad gila, apakah kalian pernah melihatnya gila? Kalian telah mengatakan dia seorang peramal, apakah kalian pernah melihat dia meramal? Kalian menuduhnya seorang penyair, apakah kalian pernah melihat dia membaca syair? Kalian menuduhnya pendusta, apakah kalian pernah melihatnya berdusta?”

Semua pertanyaan itu mereka jawab, “Tidak pernah!” Kemudian mereka ganti bertanya, “Kalau memang demikian, lalu dia itu apa sebenarnya?”

Al Walid dengan penuh keyakinan menjawab, “Dia tiada lain adalah seorang tukang sihir. Bukankah kalian telah melihat dia sering memisahkan seorang suami dengan istrinya, anak dengan orang tuanya, budak dengan tuannya?”

Mendengar itu orang-orang Quraisy bersorak-sorai. Luapan kegembiraan itu membuat tempat aula seolah bergetar. Mereka berpesta seolah-olah telah memenangkan suatu peperangan.

Penggiringan opini bahwa Muhammad SAW adalah orang desa miskin dan sebagai tukang sihir itu cukup efektif. Apapun yang disampaikan oleh Beliau dan apapun peristiwa ajaib sebagai bukti kenabian selalu diingkari dengan dalih itu adalah sihir belaka.

Dari waktu ke waktu dakwah Rasulullah SAW semakin berat. Beliau sampai harus pergi ke batas kota untuk menyampaikan ajarannya kepada orang-orang yang hendak masuk ke Makkah. Bahkan Beliau harus pergi jauh ke Thaif demi untuk mengajak umat manusia ke jalan kebenaran. Ketika semua itu menemui jalan buntu, Beliau pun hijrah ke Madinah.

Sang Provokator handal pun merasa bangga atas kemenangannya, yang membuat Nabi dan kaumnya terusir dari kampung halaman. Akan tetapi, itu semua hanya sementara. Sangat sementara.

Oleh: Tri Handoyo