Memaknai Usia Kemerdekaan yang Kian Renta

Rancah.com – Dirgahayu Indonesia! Indonesia Maju. Selamat 75 Tahun Indonesia Merdeka! Usia yang mulai renta untuk kebanyakan manusia Indonesia pada saat ini. Itu bila kemerdekaan diibaratkan usia hidup seseorang.

Siapapun tentu patut bergembira telah merdeka. Karenanya wajar kalau kita mesti suka cita dan berterima kasih atas semua ini kepada semua pihak yang telah berjuang mencapainya. Sekali lagi, seharusnya kita bersyukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.

Ekspresi diri sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita atas kemerdekaan Indonesia sebenarnya dapat diungkapkan dengan berbagai cara. Mulai dari cara-cara yang sederhana oleh semua warga negara, hingga hal-hal yang rumit dan super ekstrim.
Bergembira saja, itupun sudah merupakan ungkapan yang dapat dilakukan oleh perorangan. Gembira dengan ungkapan yang fenomenal, yang harus dilakukan oleh kalangan profesional. Itu juga sah saja. Umumnya, warga melakukannya dengan aneka permainan anak-anak di sekitar pemukiman warga. Semua gembira. Semua bersyukur.

Bersyukur merupakan ekspresi aktif. Menggerakan segala potensi menjadi tindakan. Tindakan yang terbentuk karena raga dan rasa yang sinkron. Sinkron menerjemahkan atas apa yang telah diraih saat ini. Pencapaian situasi merdeka sebagai bangsa Indonesia.
Merdeka sebagai bangsa sederhananya terbebas dari segala ancaman dan berbagai penindasan kemanusiaan dari pihak manapun. Bebas untuk berdaulat. Karena kebebasan adalah anugrah Tuhan.

Kini, bagi generasi milenial, nampaknya ada sesuatu yang terputus. Banyak dari generasi bangsa ini tidak mendapat kesempatan merasakan langsung bagaimana situasi yang terjadi, ketika kemerdekaan itu tidak ada, pada masa lampau.

Maka, untuk dapat mengungkapkan bagaimana memaknai kemerdekaan, yang mengusung tema Indonesia Maju, mestinya dilakukan apesiasi terhadap bagaimana merasakan secara tepat yang terjadi saat kemerdekaan dalam angan-angan, waktu itu.
Untuk itu, menggali kembali momen-momen bersejarah perjuangan dengan berbagai sudut pandang pada zamannya, merupakan pelengkap untuk dapat mengarahkan pada jalur yang benar, cara merasakan kegetiran dan beratnya memperjuangkan kemerdekaan.

Ibaratnya generasi kini harus dapat menembus waktu. Seolah kembali pada suasana zaman baheula. Ini dalam rangka memahami secara benar bagaimana realitas, saat kemerdekaan diperjuangkan bahkan direbut.

Beratnya lagi, dalam hal menggali segala bentuk dan teknis perjuangan dan perebutan kemerdekaan itu, mesti menjadi kesadaran nasional, seperti terjadi ketika perjuangan kemerdekaan dilakukan hampir semua kalangan dan di berbagai kawasan di Nusantara saat itu.

Itulah antara lain nilai yang harus ditransformasikan kepada generasi selanjutnya agar tetap mengakar dalam hati sanubari mereka. Sehingga, ungkapan syukur atas kemerdekaan tidak hampa makna.*