Manusia dan Berbagai Polanya, Ini Komentar Penulis

Manusia dan Berbagai Polanya
Sumber gambar : Pinterest

Dalam menjalani hidup nih, pasti deh kita suka baca – baca quote yang menyentuh, membikin baper, membikin sadar, dan banyak sekali membikin otak kita berpikir keras. Wajar lah, namanya juga baca kalo ga baca ya ga bisa membikin apapun, dong. Sama aja seperti kita baca buku atau kitab sekolah pasti jatuhnya membikin berpikir keras. Kalo ga pengen berpikir ya namanya ga hidup, sob!.

Pasti tuh kalian atau kita sering baca kutipan salah satunya tetang kebaikan. Misal nih ; “ Lakukan kebaikan agar dibalas kebaikan pula. Karena apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu tuai “; “ Bumi sudah dipenuhi orang – orang jahat, makanya jadilah salah satu orang baik “. Ya intinya semacam itu lah ya.

Gue tidak mengkritik yang bikin quote sih, karena emang tidak ada salahnya. Ya bagus lah sebagai self reminder untuk selalu jadi baik. Kutipan juga kan seni, rangkaian kata yang indah tapi bisa diserap oleh pembaca. Lantas apakah gue tidak pernah membaca quote? The answer is I often do that. Iya gue sering baca kutipan. Karena hidup di era bersosial media yang penuh dengan orang melankolis, makanya setiap nge-refresh home pasti keluar quote. Tapi bagus sih bisa bikin sadar akan diri sendiri, ga jadi gampang menyalahkan orang lain. Eaaa

Sebenarnya sesi kali ini gue cenderung membahas soal ‘kebaikan‘ itu sendiri. Seperti yang tertulis dalam kutipan bahwa bumi sudah dipenuhi orang – orang jahat.  Sebenarnya dari dulu banget nih bumi sudah dipenuhi orang – orang jahat karena yang mengisi  bumi adalah manusia. Ga tahu lagi kalo yang jadi penghuni bumi Cuma hewan, tumbuhan, air, tanah. Pasti ga ada yang namanya kelangkahan makhluk hidup, kaga ada yang namanya tawur atau demo, intinya bumi sepi, damai, dan tentram.

Kembali lagi bahwa sejatinya manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dengan sudah memiliki nafsu, akal, watak, emosi, dan lainnya. Kalau kita berbuat baik ke seseorang yang timbul adalah dua opsi. Opsi yang pertama, seseorang tersebut akan membalas kebaikan kalian suatu saat nanti. Opsi yang kedua, seseorang tersebut ignore dengan kebaikan kalian.

 Nah yang jadi pertanyaan , kenapa sih seseorang bisa ignore dengan kebaikan seseorang? Ada yang bilang nih, “ Hidup itu harus realistis “ gitu kan. Ya emang bener kalau hidup harus realistis, lantas apakah karena ke – realistisan tadi membuat seseorang harus lupa dengan yang namanya ‘ balas budi‘?.

Dari SD gue sering baca di buku pelajaran banyak banget kalimat ‘ balas budi kepada sesama manusia ‘ semakin menginjak dewasa, semakin gue sering bertemu dan berinteraksi dengan orang, semakin pembalajaran yang kita dapet semasa kecil itu tidak ada artinya. Hilang gitu aja. Seakan – akan masa kecil ya masa kecil aja, hidup di jaman sekarang kalo nerapin ilmu dari masa dulu jatuhnya bikin kita keok. Lantas apakah pembelajaran semasa kecil tidak memberi nilai positif? Ada cuma kita salah mempergunakannya.

Ya gue tidak menyalahkan orang – orang yang bepikir “ Gue manusia, udah dari sononya diciptakan dengan emosi  dan perasaan yang beda – beda. Ya wajarlah gue jahat ke orang karena perwatakan gue udah alamiah “. Bener sih pemikirannya, ga ada salahnya. Tapi perlu gue kritik, kalo pada dasarnya Sang Pencipta juga menciptakan perasaan baik kepada umatnya.

Pengalaman gue pribadi nih, karena gue sering baca – baca quote akhirnya membikin gue untuk mengubah sikap menjadi manusia yang lebih baik. Jadi ya gue mencoba untuk baik kepada orang lain, kalo ada yang kesusahan atau kesulitan gue tolongin, kalo ada yang nyakitin hati gue ya gue sebisa mungkin untuk ignore. Karena udah keseringan nge set diri seperti itu jatuhnya jadi kebiasaan di kehidupan sehari – hari. Tapi gue sadar, sebenarnya semua itu hanya nyakitin batin gue sendiri.

Mindset atau pola pikir  ‘ menjadi manusia yang lebih baik ‘ itu salah. Yang benar adalah ‘ menjadi manusia yang lebih bisa menghargai manusia lain’. Itu sih intinya.

Karena gini sob, sebenarnya balik lagi kalo manusia diciptakan dengan membawa emosi, nafsu, perasaan. Intinya sih itu semua alamiah. Karena alamiah maka sebenarnya manusia itu memiliki perasaan yang seimbang, kadang baik kadang juga jahat. Sebenernya baik dan jahat ini ada porsinya sendiri dan tau timing kapan dia muncul.  Jadinya nih, ketika seseorang berusaha untuk berbuat baik tapi tidak dihargai maka timbullah perasaan untuk ignore ke manusia lain.

Watak manusia juga gitu, berbagai macam. Kadang juga bikin kita jadi bingung untuk menempatkan diri dihadapan orang tersebut seperti apa. Karena  ya tadi, semakin kita dewasa semakin kita berhadapan dengan banyak orang baru. Jadilah kita dituntut untuk bisa saling menghargai. Kadang pola ‘ fake’ atau bermuka dua juga dibutuhkan ketika mengadapi seseorang. Gue tidak menyarankan untuk pencitraan loh ya, just be your self anyways. Tapi kalo dirasa pencitraan itu butuh untuk kalian lakukan karena kondisi yang dorurot, ya monggo – monggo aja sih.

Yang terpenting adalah menjadi individu yang lebih bisa menghargai sesama manusia. Dan lagi, jangan ngasih makan nafsu atau ego. Tapi kalo bisa ngontrol sih tidak masalah. Itu sih intinya.

Oke, terimakasih sudah membaca 800+ words di wall kali ini. oh iya, kali ini sesi #IniKomentarPenulis episode 2. Kalau gue pikir, gue kan pengannya di sesi ini tuh lebih santai. Jadilah gue memustukan make “lo – gue ” disini. Karena gue pengen orang – orang tahu tentang opini gue. Dan gue juga menerima komentar atas pemikiran dan opini gue yang dirasa ada kontranya dengan pembaca.

We learning together. Ciao!