Mengapa Utas di Twitter Bisa Cepat Mendapat Eksposur? Ini Alasannya!

Rancah.com – Utas (threads) di Twitter merupakan kicauan panjang saling bersambung/berhubungan mengenai tema tertentu. Pengguna lama Twitter harusnya familiar karena sebelum satu kicauan bisa ditautkan pada kicauan lainnya, Tweeps menggunakan bentuk ‘kul twit’. Pengguna Twitter bisa menuliskan bahasan panjang, dengan tiap kicauan sebagai pisahan paragraf. Konten demikian banyak ditemukan dan biasanya relatif mendapat respon dari pengguna lain: bisa RT dan like-nya tinggi, kolom komentarnya ramai bahkan bisa masuk trending topic.

Beberapa waktu lalu dunia per-Twitter-an Indonesia sempat gaduh sebab utas bertema ‘pelecehan seksual’. Setidaknya ada dua utas yang menarik perhatian. Pertama, fetish kain jarik, dengan tokoh salah satu mahasiswa PTN di Jawa Timur: Gilang Eizan (GE). Kedua, kasus pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Indonesia di LN sekaligus Youtuber kenamaan: Turah Parthanyana (TP).

Berikut rekaman pencarian via google trend dampak ramainya utas terkait GE (dalam kurun waktu 30 hari terakhir dari tulisan ini dibuat, pencarian spesifik di Indonesia). Rekaman pencarian atas kasus TP tidak kami temukan.

Kehebohan atas utas tersebut atau narasi mengenai dua pelaku, dapat dikatakan ‘sudah selesai’. Sebab kabarnya GE sudah meminta maaf dan berjanji tidak melakukan ulang aksinya. TP sudah membuat pernyataan di akun Youtubenya dan utas yang mengangkat kasusnya sudah dihapus.

Hal yang penting diperhatikan sebagai rekapan isu setidaknya begini. Seperti apapun bentuk fetisisme GE, itu adalah personal sexual prefence. Masalahnya adalah GE melibatkan orang lain dalam aktivitas fetisismenya dan tanpa consent. Maka hal tersebut menjadi pelecehan seksual. Sementara dalam kasus TP, kasus tersebut debateable karena baik TP maupun ‘korban’ tidak memiliki bukti sangat jelas tentang momen pelecehan seksual. Hingga setidaknya masih menyisakan tanya seperti: kasusnya sudah ‘diselesaikan’, kenapa berita/ceritanya baru naik lagi setelah setengah tahun? Atau, benarkah TP pelaku pelecehan seksual? Namun bagaimanapun, secara umum kita semua sepakat bahwa pelecehan seksual itu keliru dan korban perlu didukung saat menyuarakan kegelisahan/kasusnya.

Ada beberapa poin yang bisa membuat dua utas tersebut naik. Pertama, popularitas atau nama baik. Baik dalam kasus GE atau TP, utas tersebut juga menyinggung popularitas: GE sebagai mahasiswa kampus ternama di Jawa Timur, TP Yuotuber kenamaan. Kedua, mindblowing. Kasus tersebut bersifat tidak mudah mudah diterima akal sehat sekali baca/dengar. GE memiliki fetis yang sangat nyeleneh. TP secara rekam jejak tidak memiliki potensi melakukan pelecehan seksual.

Utas memiliki beberapa ciri khas yang berpotensi membuatnya menjadi disukai banyak pembaca. Isi utas secara umum cenderung personal, baik utas tersebut bersumber dari si pembuat secara pribadi maupun cerita orang lain. Pembaca akan merasa seolah memiliki teman berbagi dengan persepsi ‘di luar diri mereka ada orang lain yang merasakan hal yang sama’. Dengan memilih gaya bercerita, pembaca akan lebih mudah menyerap pesan tanpa merasa digurui. Utas memiliki banyak variasi tema, bisa juga berupa sebuah opini respon atas hal-hal yang sedang populer dibicarakan. Selain itu, informasi disampaikan dengan bahasa yang ringan, dan dengan format yang ringan pula (kicauan). Membaca sekian kicauan (meski banyak) terasa lebih ringan dibanding membaca laman situs yang panjang, apalagi dengan bahasa yang sangat dekat dengan pembaca.

Walau utas sedemikian menarik, Twitter sebagai wadahnya tentu punya kekuatan tersendiri hingga membuatnya bisa dinikmati. Kekuatan ini tentu, baik langsung maupun tidak langsung, mendukung kepopuleran utas. Sederhananya, segala hal dalam platform Twitter mendukung tiap komponen satu sama lain.

Kekuatan pertama yang paling mudah dilihat adalah kemudahan. Micro-blogging satu ini memudahkan pengguna untuk berbagi hal apapun (utamanya secara tekstual) dengan jumlah karakter yang pendek (pada Tweet/kicauan). Pengguna bisa merasa bebas dan mudah berekpresi lewat kicau karena sedikit hal yang mereka keluarkan sudah menjadi tanda mereka eksis dalam platform. Kemudian hal ini dalam penggunaan jangka panjang mengundang kecenderungan pengguna untuk berbagi hal sekelebat-sederhana dalam hidup secara real-time. Walau tentu isi kicauan bisa berupa hal yang serius/dalam, atau memiliki muatan emosi tertentu.

Selanjutnya kemudian kemudahan untuk menyebar ulang kicauan (ReTweet/RT). RT memungkinan suatu konten/informasi mendapat eksposur lebih luas. RT juga memberikan legitimasi moral terentu pada seorang pengguna, seperti merasa up to date, merasa melakukan suatu hal besar, merasa berbuat baik dll. Dalam kasus donasi misal, jika seorang pengguna Twitter menemukan informasi mengenai donasi namun belum bisa memberikan donasi secara langsung, melakukan RT atas informasi tersebut menjadi opsi paling umum yang bisa dilakukan. Dan tentu pengguna kadang bisa merasa sudah berbuat hal hebat. Membantu informasi tersebut mendapat ekposur lebih besar iya, namun apa yang kita lakukan dengan RT sebenarnya tidak segagah itu juga. Senang membantu orang boleh, tapi tidak perlu terlalu merasa gagah hanya dengan tindakan kecil.

Twitter juga memiliki reputasi sebagai media sosial yang jarang (atau bahkan belum pernah) mengalami gangguan ‘server down’. Hal ini tentu membantu untuk melanggengkan proses persebaran informasi tanpa masalah, dan juga membuat pengguna lebih loyal. Selain itu, Twitter juga masih memberikan ruang bagi akun anon/alter. Akun-akun tanpa identias jelas dengan berbagai maksud tersebut masih bertebaran di Twitter, merasa nyaman untuk berekspresi apapun. Bahkan terkadang, utas yang ramai dibicarakan pun berasal dari akun yang tidak terlacak dengan pasti siapa empunya.

Satu hal menarik lain mengenai Twitter adalah tanda pagar (tagar, atau istilah aslinya hashtag). Tagar menjadi skema klasifikasi tema bahasan tertentu di Twitter yang kemudian banyak diadopsi oleh media sosial lain. Pengguna dapat menggunakan tagar A untuk menandai kicauan dengan tema A. Tagar dengan banyak kontribusi kicau tertentu akan dimasukkan algoritma pada trending tab (walau dalam perkembangan lanjut, algoritma Twitter juga memasukkan beberapa kata kunci tanpa tagar yang berkaitan dengan tema pada trending tab). Trending topic menandakan banyak orang sedang membicakan suatu hal di waktu tertentu. Keberadaan trending tab kemudian, mau tidak mau memaksa pengguna mengafirmasi tema tertentu sedang hangat dibahas. Trending topic kemudian muncul menjadi hal yang seperti harus direspon.

Sebagai catatan akhir, naiknya suatu utas di Twitter dan ramai diperbincangan memang dapat dipengaruhi oleh ekosistem platform seperti disebut sebelumnya dan nilai spresifik dari suatu utas. Naik-ramainya utas dan bagaimana orang-orang merespon dapat dilihat dan dipetakan dalam beberapa pola. Melihat bagaimana suatu utas bisa dapat digunakan sebagai wawasan tentang apa yang orang-orang ramai bicarakan, sekaligus di sisi lain sebagai strategi pemasaran jika ingin menggunakan utas sebagai pilihan saluran pemasaran.

Catatan. Tulisan ini merupakan opini pribadi lewat pengamatan atas algoritma dan kebiasaan warganet.