Tatkala Lansia Haus Kuasa

Rancah.com – Karena memiliki keahlian dalam mengolah kata dan strategi, Mbah Durna akhirnya diangkat untuk menduduki jabatan sebagai Penasihat Raja Astina. Durna yang juga seorang pendeta itu sangat piawai dalam hal kemiliteran dan ilmu kanoragan, maka dia juga diangkat menjadi guru untuk mendidik Kurawa dan Pandawa.

Namun, pendidikan yang ia berikan, yang seringkali membuat Pandawa terkesima, kadang bersifat  abu-abu dan mencelakakan. Yang jelas Durna memang berpihak kepada Kurawa, sehingga suatu ketika ia memberi nasihat kepada Bima, yang tujuannya hendak menjerumuskan Bima agar anggota Pandawa yang paling perkasa itu binasa. Sementara Bima menganggap Durna sebagai guru yang baik, sehingga nasihat dan perintahnya itu ditaati seakan-akan nasehat itu jalan hidup baginya.

Meskipun lahir dari kasta Bhramana, Mbah Durna menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan dan penuh penderitaan. Kondisi itu mengajarkan kepadanya untuk menjadi orang yang lemah lembut, santun, tapi sesungguhnya dibalik itu hatinya diliputi dendam, rencana-rencana jahat, seperti suka menjadi penghasut dan mengadu domba.

Kemunculan Mbah Durna sebagai pendeta dan penasehat di istana Astina lebih merupakan kebutuhan politis ketimbang demi menjawab kebutuhan akan kegersangan spiritual. Sebab agama memang memiliki daya tarik sangat besar dalam kehidupan masyarakat Astina, dan potensi itulah yang diincar Mbah Durna untuk digodok. Jadilah agama sebagai tunggangan yang murah meriah dalam meraih tujuan duniawi dengan segala kenikmatannya. Dengan memiliki kedudukan tinggi, kini dendamnya kepada kehidupan masa lalunya bisa ia lampiaskan dengan mudah.

Aroma politis itu terasa begitu menusuk. Akibatnya para murid dari Kurawa dan Pandawa justru dijauhkan dari nilai-nilai kesakralan dan kesucian agama. Semua digiring agar yang tampak tidak lebih dari sekedar legal formal dan hukum belaka. Halal-haram. Hitam-putih. Lalu persaingan kekuatan fisik dan taktik licik yang akhirnya paling menonjol dari semua ajarannya.

Seiring berjalannya waktu, persaingan antara Kurawa dan Pandawa semakin tampil dalam wujud ganas dan beringas, saling menyerang dan  melontarkan benci serta caci-maki. Bahkan fitnah pun seolah-olah sah, asalkan dikemas secara indah dengan tata krama. Itulah buah ajaran Sang Pendeta Durna, yang kelak dikemudian hari menggiring Kurawa dan Pandawa pada perang Bharatayuda.

Sosok dan spirit Mbah Durna itu selalu muncul di berbagai jaman, yang pada akhirnya selalu memicu lahirnya peperangan. Tidak terkecuali di Indonesia. Sosok yang tampil sebagai tokoh agama, yang berhasil membodohi rakyat dengan label dan simbol agama, yang tentu nantinya akan mudah digiring dengan iming-iming surga. Iming-iming surga yang dijual murahan oleh para agamawan gadungan itu telah membuat sebagian orang rela mati, bahkan mengajak keluarga dan orang lain untuk mati berjamaah. Mereka mati sebelum sempat melihat bahwa junjungan mereka ada yang hobi mengkoleksi film porno. Ada yang penjual narkoba. Ada pula yang hobi adu jago. Ada yang ternyata menggelapkan uang jamaah haji dan umroh. Ada yang menggalang dana untuk teroris ISIS. Semua itu menggunakan surga sebagai umpannya.

Dalam dunia modern Mbah Durna menyatakan bahwa hancurnya Agama Islam sebetulnya karena penyusupan oleh agen rahasia Mosad, CIA atau komunis. Mbah Durna modern juga mengatakan rusaknya agama karena ada agama lain yang mengiming-imingi harta benda kepada umat agar murtad.

Padahal sesungguhnya, Islam rusak karena ulama, sebagai pemimpin dan panutan umat, tidak berakhlak mulia. Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan, namun karena ini memang bukan persoalan yang terlalu rumit. Akhlaq Rosulullah saw yang sempurna itulah yang membuat agama ini mampu berdiri tegak di tengah masyarakat jahiliyah. Akhlaq itulah yang menjadi daya pesona utama sehingga dengan berjalannya waktu orang-orang dengan penuh kesadaran dan suka rela berduyun-duyun menerima dakwahnya, menerima ajaran Islam. Itulah kenapa Rosulullah saw bersabda bahwa beliau tidak diturunkan kecuali untuk menyempurnakan akhlaq. Akhlaq itulah senjata utama beliau dalam berdakwah.

Perilaku Rasulullah yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari itulah yang jauh lebih dasyat pengaruhnya bagi umat. Sebuah suritauladan yang menggores kuat dalam benak, lebih kuat ketimbang sejuta nasehat. Sebab umat itu lebih membutuhkan suritauladan ketimbang dijejali ayat-ayat yang dilontarkan hanya lewat mimbar Jumat.

Sejarah membuktikan bahwa Islam mengalami jaman keemasan ketika dipimpin oleh insan-insan yang berakhlaq mulia. Sejarah juga mencatat bahwa Islam mengalami kemunduran ketika pemimpinnya berakhlak buruk. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa agama sama dengan akhlaq. Jadi tidak berakhlaq sama dengan tidak beragama. Ya, sesederhana itu. Akan tetapi, kita malah dijauhkan dari pokok persoalan. Ketika umat mengalami kemunduran, agama lain dijadikan kambing hitam. Mencurigai ada intelijen jahat dan konspirasi tingkat tinggi yang mendisain semua ini. Lantas solusinya buat pasukan yang siap mati memerangi kambing hitam-kambing hitam ilusi itu.

Bukannya membenahi umat beragama, Mbah Durna modern malah semakin memperburuk. Semakin menjauhkan diri dari ruh agama, tapi justru merasa paling agamis dan mengklaim paling Islami, dan bahkan merasa menjadi juru bicara Tuhan. Yang berbeda dengan kelompoknya dituduh munafik, dianggap kafir dan distempel calon penghuni neraka, untuk kemudian sah diperangi. Terpeleset lidah didemo dengan hebat sebagai penista agama. Tersinggung luar biasa. Tapi giliran ada travel haji dan umroh yang menipu triliuanan uang umat, biasa-biasa saja. Anggap lumrah ketika ada uang rakyat yang diembat dengan memakai istilah-istilah berbau akhirat. Lebih lucu lagi santai dan damai saja ketika kitab suci dibilang fiksi. Akhirnya teriak ganti sistem sebagai solusi. Sebetulnya, demi agama atau demi ingin berkuasa, mbah?

Tatkala lansia haus kuasa, maka mati-matian berusaha untuk mengelabuhi masyarakat, agar bisa digiring untuk kembali mengulang kisah Bharatayuda.