Organisasi Bukan Tempatnya “Apa”

Organisasi Bukan Tempat Memenuhi Hasrat Pribadi, Tapi Kelompok

Organisasi Bukan Tempatnya “Apa” – Banyak orang mencari “apa” ketika berorganisasi. Banyak yang mencari ini, itu, dan lain-lain, yang dapat menguntungkan mereka sendiri. Tapi mereka tidak mau berkorban, sehingga apa yang ditungganginya tidak mendapat keuntungan yang seharusnya (simbiosis mutualisme).

Menurut Oliver Sheldon (1956:114) dalam bukunya yang berjudul The Philosophy of Management, dia berpendapat bahwa organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para individu atau kelompok-kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas, sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari usaha yang tersedia. Ada pandangan yang lain dari pendapat Sheldon, bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian tujuan bersama (Mooney, 1974:62). Sedangkan Barnard dalam Dasar-Dasar Organisasi menjelaskan bahwa organisasi adalah suatu sistem tentang aktivtas-aktivitas kerja sama dari dua orang atau lebih sesuatu yang tak berujud dan tak bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hal hubungan-hubungan.

Beberapa pengertian di atas memberi kita wawasan bahwa arti organisasi itu cukup luas, meliputi: organisasi sebagai proses pembagian kerja, organisasi sebagai kumpulan orang atau kelompok, dan organisasi sebagai sistem kerja sama dan hubungan-hubungan untuk mencapai tujuan. Sehingga dapat disimpulkan secara sederhana bahwa organisasi merupakan kumpulan dua orang atau lebih atau kelompok-kelompok yang di dalamnya terdapat pembagian pekerjaan yang terkoordinasi demi terwujudnya visi (tujuan) bersama.

Sehingga “apa” yang dicari sebagian orang saat berorganisasi tidak akan didapatkannya tanpa orang tersebut benar-benar berserikat, bekerja, dan bersama menuju visi yang satu. Organisatoris lah yang menciptakan “apa” itu, artinya “apa” tidak tiba-tiba ada begitu saja. Dan “apa” itu tercantum dalam tujuan organisasi. Pada asasnya seseorang hanya akan bersedia masuk ke dalam organisasi apabila kebutuhan organisasi dirasa sama dengan kebutuhan orang tersebut (Sutarto, 1984:6).

Jadi tempat yang tepat bagi seseorang untuk menjadi organisatoris adalah organisasi yang di dalamnya memiliki kesamaan kepentingan atau tujuan dengan seseorang tersebut. Tanpa begitu, “apa” yang diinginkan seseorang tersebut tidak akan pernah tercapai, karena organisasi juga sebagai jembatan/perantara. Sebagaimana organisasi aktivis 1998 pada masa orde baru. Pada waktu itu, organisasi aktivis sebagai penyambung lidah rakyat, sebagai jembatan untuk mengantarkan aspirasi rakyat agar penguasa mendengarnya.

Di organisasi tidak ada “apa’, namun organisasi dapat mengalami perubahan. Tiada kehidupan tanpa perubahan. Sutarto (1984:414) dalam bukunya Dasar-Dasar Organisasi menyebutkan dua (2)  faktor penyebab organisasi dapat berubah; faktor internal organisasi, seperti kegiatan yang bertambah banyak, adanya peralatan baru, perubahan tujuan, penambahan tujuan, perluasan wilayah kegiatan, tingkat pengetahuan, tingkat keterampilan, sikap, serta perilaku orang di dalamnya,; dan faktor eksternal, seperti adanya peraturan baru, perubahan kebijakan dari organisasi tingkat yang lebih tinggi, perubahan selera masyarakat terhadap produksi pabrik, perubahan mode, perubahan gaya hidup masyarakat.

Dua (2) faktor penyebab di atas merupakan sebuah tantangan bagi organisasi secara langsung dan tidak langsung bagi organisatoris di dalamnya. Sehingga dari perubahan-perubahan yang kompleks tersebut membutuhkan sebuah pengembangan organisasi agar “apa” yang diinginkan individu (organisatoris) dan organisasi itu sendiri dapat tercapai.

Bennis (1981:612) mengartikan pengembangan organisasi sebagai suatu jawaban terhadap perubahan, suatu perubahan pendidikan yang kompleks yang diharapkan untuk merubah kepercayaan, sikap, nilai, dan susunan organisasi, sehingga organisasi dapat lebih baik dalam menyesuaikan dengan teknologi, pasar, dan tantangan yang baru serta perputaran yang cepat dari perubahan itu sendiri. Berbeda dengan Bennis, Herbert (1981:472) dalam bukunya yang berjudul Dimensions of Organizational Behavior memberi pengertian pengembangan organisasi dengan suatu yang direncanakanm proses yang sistematis yang menerapkan asas-asas dan praktek ilmu perilaku yang dikenalkan dalam kegiatan organisasi secara terus-menerus untuk mencapai tujuan penyempurnaan organisasi secara efektif, wewenang organisasi yang lebih besar serta efektivitas organisasi yang lebih besar.

Sedangkan Beckhard dalam Huse dan Bowditch (1977:394) mendefinisikan pengembangan organisasi sebagai suatu usaha (1) berencana (2) meliputi organisasi keseluruhan, dan (3) diurus dari atas, untuk (4) meningkatkan efektivitas dan kesehatan organisasi melalui (5) pendekatan berencana dalam proses organisasi, dengan memakai pengetahuan ilmu perilaku. Dan French dan Bell, Jr. mengemukakan bahwa pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang untuk menyempurnakan proses pemecahan masalah dan pembaharuan organisasi, khususnya melalui menajemen yang lebih efektif dan kerja sama budaya organisasi – dengan memberi tempat khusus pada budaya tim kerja formal – dengan bantuan agen perubahan, atau “katalisator” dan memakai teori serta teknologi ilmu perilaku terapan, termasuk riset tindakan.

Dari pendapat di atas mengenai arti daripada pengembangan organisasi adalah rangkaian kegiatan penataan penyempurnaan yang dilakukan secara berencana dan terus-menerus guna memecahkan masalah yang timbul sebagai akibat dari adanya perubahan sehingga organisasi dapat mengatasi perubahan serta menyesuaikan diri dengan perubahan dengan menerapkan ilmu perilaku yang dilakukan oleh pejabat dalam organisasi sendiri atau dengan bantuan ahli dari luar organisasi (Sutarto, 1984:418).

Dari sini kita dapat memahami bagaimana “apa” yang organisasi dan organisatoris ingin dapatkan bisa benar-benar tercapai. Dari bagaimana cara memilih organisasi yang tepat dan bagaimana mencari alternatif dalam mengembangkan organisasi ketika dari internal dan eksternal organisasi timbul penyebab tantangan organisasi. Jadi kita tidak bisa hanya berlari atau malah berjalan di tempat saja untuk mendapatkan “apa” di dalam organisasi, kita perlu berpindah ketika organisasi mengalami perubahan. Bahkan ketika ternyata visi pribadi dengan organisasi dirasakan tidak sama, kita perlu berpikir dua kali untuk melanjutkan, untuk terus belajar mendalami karena tidak sesuai visi pribadi, atau beralih kepada organisasi yang se-visi dengan visi pribadi. Itu semua tergantung anda, agent of change.

Pada asasnya seseorang hanya akan bersedia masuk ke dalam organisasi apabila kebutuhan organisasi dirasa sama dengan kebutuhan orang tersebut (Sutarto, 1984:6).