Semangat untuk Berubah Lebih Baik, dari Hijrah dan Proklamasi

Ilustrasi semangat untuk perubahan

Suasana ulang tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2020 saat ini sesuai dengan kalender, beririsan dengan Tahun Baru Hijriyah 1442.

Pelajaran penting bagi kita yang dapat dipetik dari dua peristiwa besar ini adalah antara lain semangat akan perubahan untuk menjadi lebih baik.

Tentang Hijrah, para ahli mengklasifikasikan hijrah secara syar’i atau hijrah syar’iyyah menjadi dua jenis, yaitu hijrah secara fisik dan hijrah secara nonfisik. Sebagaimana dikutip oleh republika.co.id.

Hijrah secara fisik dapat diartikan secara sederhana sebagai upaya untuk menuju kondisi yang lebih baik dengan cara beralih secara ragawi dari keadaan yang sedang terjadi menuju keadaan yang dimungkinkan akan lebih baik dari semula. Setidaknya pindah domisili dan eksistensi.

Sementara hijrah secara nonfisik dapat dimaknai sebagai segala daya upaya untuk menjadi lebih baik dari mulai tatanan nilai hingga pertingkah laku kehidupan. Meliputi hal-hal yang bersifat spiritual, aktual hingga ideal.

Apapun, baik hijrah secara fisik dan nonfisik sejatinya menghasilkan sebuah perubahan yang kontras antara keadaan sebelumnya dengan keadaan setelahnya. Dengan kata lain, ada capaian perubahan yang signifikan.

Untuk mencapai perubahan yang terjadi itu, yang dapat diterapkan pada hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, tentu saja harus dimulai dari hal-hal yang sederhana dari kehidupan kita sehari-hari hingga persoalan rumit yang mencakup berbagai dimensi kehidupan secara komulatif.

Proses pencapaian itu tentu saja harus dimulai dengan melewati tahapan-tahapan. Sekali lagi harus melampaui babak persoalan yang amat sederhana hingga urusan runyam sekalipun.

Ada sebuah kerangka yang dapat dipakai untuk membungkus tubuh yang disebut perubahan dari hijrah untuk lebih baik itu. Penulis menyebutnya 4-T.

Pertama, perubahan i’tiqadiyah (tekad). Bahwa upaya untuk mencapai perubahan, mesti diawali dari tatanan ide yang berbentuk niat, angan-angan, tujuan, semangat dan motivasi.
Ide yang baik akan menghasilkan capaian yang baik. Inilah kunci pertama. Maka penting mengukuhkan ide untuk mencapai perubahan yang akan dimaksud.

Kedua, perubahan fikriyah (tela’ahan). Bahwa untuk mencapai ide atau niat yang baik, maka harus dilakukan dengan aneka pengkajian hingga menghasilkan rumusan yang runut dan sistematis. Tentu saja ide tidak akan diketahui apabila tidak dikomunikasikan secara baik. Nah, tatkala hal itu dikomunikasikan maka harus melibatkan daya pikir dan keterampilan untuk mengkomunikasikannya.

Ketiga, perubahan syu’uriyyah (tampilan). Tampilan ini bagian dari cara mengkomunikasikan apa yang ingin diubah dalam grade yang lebih sederhana.

Tampilan bukanlah perkara mudah. Akan banyak melibatkan berbagai indikator dari mulai warna, ukuran, dimensi, komitmen, kesadaran hingga kesan yang terbentuk dengan sendirinya. Akumulasi kesemua itu sekaligus menjadi alat kontrol dari apa yang hendak dicapai pada perubahan yang diangankan.

Keempat, perubahan sulukiyyah (tingkah laku). Tingkah laku dan kepribadian berada pada posisi tertinggi apabila diurutkan. Tidak sekedar kehendak, pemikiran dan tampilan. Lebih jauh melibatkan hal-hal akumulatif dari sesuatu yang diyakininya, yang bersifat abstrak, hingga persoalan-persoalan di luar diri yang mempengaruhi menjadi citra jati diri pada tingkah laku seseorang.

Perubahan tingkah laku kendati sulit dicapai dalam waktu singkat, namun dengan segala daya upaya dengan penuh kesadaran dan pembiasaan yang terus menerus, bukanlah sesuatu yang mustahil diraih.

Nah, untuk mengambil semangat perubahan dari suasana kemerdekaan dan hijrah, kita dapat memulai dari diri sendiri, sejak dini. Lantas disertai dengan komunikasi intens, dilengkapi pula dengan memperlihatkan melalui tingkah laku untuk menjadi lebih baik.

Semangat kemerdekaan! Semangat hijriyah! Semangat untuk terus berubah, menjadi lebih baik.*