Budaya “Manak Salah” Yang Harus Diubah Di Bali

Pasangan suami istri yang melahirkan bayi kembar buncing di Bali

Rancah.com – Mereka adalah suami istri dari Bali yang dianugerahi dua buah hati yang sehat. Harusnya mereka bahagia dan mengadakan syukuran untuk menyambung kebahagiaan itu. Tetapi mereka malah harus menjalani sanksi adat untuk mengasingkan diri selama 3 bulan di kuburan seda. Alasan mereka diberi sanksi yaitu karena mereka melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Bayi kembar buncing yang masih merah tidak tahu apa-apa menjadi alasan kedua orang tuanya dijatuhi hukuman adat.

Bali dihantui mitos ” Manak Salah” sejak zaman kerajaan Hindu. Anak kembar buncing yang lahir dari keluarga kerajaan akan membawa anugerah dan kemakmuran bagi tempat sekitar. Jika anak kembar buncing lahir dari keluarga jelata (dalam golongan Sudra atau Jaba), maka akan membawa malapetaka dan kedukaan. Rakyat rendah ini yang melakukan kesalahan dengan melahirkan bayi yang hanya boleh dilahirkan dari rahim seorang ningrat.

Sebuah Awig-Awig (hukum adat) kemudian diciptakan. Isinya mengatur tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk membersihkan desa dari kotoran yang konon disebabkan oleh lahirnya anak kembar buncing.

Seluruh keluarga termasuk bayi diharuskan mengasingkan diri di ujung desa (biasanya di dekat kuburan) selama 3 bulan. Tempat pengasingan dijaga oleh sejumlah orang untuk memastikan mereka yang dihukum tidak bisa pergi. Hanya sang suami yang boleh meninggalkan kurungan dan meminta-minta di sekitaran desa untuk menghidupi keluarganya selama masa pengasingan. Setelah masa pengasingan berakhir, keluarga itu harus mengadakan upacara Mecaru sebagai tindakan akhir untuk membersihkan desa. Dan bisa ditebak, bahwa upacaranya tidak akan murah.

Banyak argumen yang mengatakan bahwa Manak Salah adalah sebuah produk adat yang tidak ada hubungannya dengan ajaran agama, melainkan lahir akibat sekolompok orang di masa lalu yang hanya mementingkan egonya sendiri. Tradisi ini tercipta akibat keluarga ningrat dahulu tidak sudi bila rakyat jelata menyamai hal-hal yang mereka lakukan. Maka dengan gampangnya rakyat jelata ini dianggap berdosa dan harus dihukum berat.

Padahal sudah ada peraturan dari pemerintah Bali yang melarang praktik budaya ini. tetapi budaya irasional ini masih dijalani dengan patuh oleh beberapa desa adat di Bali.

Hukum adat dibuat oleh masyarakatnya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di masa lalu. Maka secara logika, hukum ini bisa diubah jika tidak cocok dengan perkembangan zaman dan moral umum yang berlaku. Semoga adat ini bisa diubah ataupun dihilangkan, karena produk adat ini adalah bukti memalukan yang mencederai hak asasi manusia di zaman yang seharusnya masyarakatnya mengedepankan logika dan kesetaraan lebih dari apapun.