Puncak Patah Hati Adalah Tertawa Kepada Diri Sendiri

Cewek gelisah karena patah hati

Puncak Patah Hati Adalah Tertawa Kepada Diri Sendiri – Saya yakin kamu pernah patah hati. Entah dulu atau hari ini atau beberapa yang hari lalu. Jangan menangis, kamu harus tertawa. Sakit hati banyak faktornya. Ada yang sakit hati karena omongan orang lain, ditinggal kekasih, dan bahkan sakit hati karena ditolak dalam pekerjaan, dan masih banyak lagi faktor patah hati.

Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah merasakan sakitnya hati? Saya kira semua orang pasti pernah, sedang, atau akan merasakan patah hati pada akhirnya. Jangan salahkan dirimu ketika kamu mengalami sakit hati, karena bisa jadi, melalui sakit hati kamu bisa lebih tegar, semangat, dan yakin serta optimis dalam menjalani segala sesuatu.

Sakit hati tidak perlu disesali, karena menurut saya sakit hati adalah rahmat, nikmat dari Tuhan. Tuhan memberikan rasa sakit hati kepada kita bukan karena benci atau malu memiliki hamba seperti kita, melainkan Tuhan sedang memberikan kasih sayangnya.

Terkadang Tuhan cemburu ketika seorang hambanya lebih mendambakan kekasihnya daripada Tuhannya sendiri. Dengan begitu Tuhan buat dia sakit hati agar ingat bahwa ada Tuhan yang selalu ada untuknya. Tuhan tidak mau diduakan oleh apapun dan siapapun.

Sakit hati merupakan sebuah anugerah bagi kita yang mengalaminya. Bagaimana tidak? Sangat banyak manfaatnya. Saya contohkan ketika seorang laki-laki sedang patah hati yang dikarenakan ternyata kekasih yang dia cintai sedang mencintai orang lain, dan kita mengetahuinya. Bagaimana rasanya? Sakit sekali. Tapi ada manfaatnya, dan manfaat itu tergantung bagaimana kita mengekspresikan rasa patah hati.

Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) itu pernah bertanya kepada seorang yang karya sastranya buruk (kita sebut puisi saja). Gus Dur bertanya “Kayaknya kamu nggak pernah patah hati ya?”. Dijawab oleh pemuda itu dengan singkat, “Tidak pernah, Gus. Kok tahu, Gus?”, lalu Gus Dur melayangkan sebuah sindiran tapi berbentuk guyonan, katanya “Pantes puisimu jelek”.

Dalam arti yang mendalam, kalimat “pantes tulisanmu jelek” yang dilayangkan Gus Dur kepada pemuda itu, memiliki arti bahwa ketika manusia pernah merasakan patah hati, maka karya sastranya akan indah. Patah hati bisa membuat karya sastra yang kita ciptakan mengandung artistik dan sastra yang tinggi.

Jika saja pemuda itu pernah sakit hati, mungkin Gus Dur bilang “Loh, pernah? Kok jelek puisimu? Mungkin sakit hatimu belum parah ya?”. Lantas pemuda itu menjawab “Iya biasa sih, Gus”, dan Gus Dur langsung menyambar “Pantes puisimu jelek”.

Dari sini kita bisa mengambil hikmah dari rasa patah hati. Patah hati yang diekspresikan dalam hal yang positif, maka akan pula menjadikannya sebuah kenikmatan dan memacu produktivitas, seperti membuat puisi tadi.

Tapi jika ekspresi patah hati dilakukan dengan cara yang negatif, maka tidak bisa dipungkiri hasil patah hati bukan lagi kenikmatan, melainkan keburukan. Semisal kamu lagi patah hati, lalu kamu menangis sambil membentur-benturkan kepalamu ke dinding, ya jadi ancur kepalamu. Nanti bisa jadi monumen patah hati benjol.

Kembali ke topik Gus Dur tadi, ketika patah hati dirasa belum parah, dalam menulis puisi hasilnya akan tetap buruk (biar enak ya kita sebut tidak bagus lah). Namun juga berlaku sebaliknya, ketika patah hati memang sudah parah berat, maka hasil menulis puisi akan indah.

Dengan keindahan tersebut, kita tidak akan menangis karenanya, melainkan kita akan tertawa terbahak-bahak. Menertawakan siapa? Ya menertawakan diri kita sendiri lah, orang sudah patah hati kok puisinya indah. Merasa bodoh sekali, patah hati yang produktif.

Puncak dari sebuah kebahagiaan adalah menangis. Dan puncak dari kesedihan adalah tertawa. Sehingga puncak dari patah hati adalah menertawakan diri sendiri. Karena apa? Ya karena kita sendiri yang bercinta. Berani bercinta ya berani merasakan patah hati bukan?. Kalau tidak berani patah hati, ya jangan bercinta.

Kita sendiri yang meminta untuk menjalani dan menjalin hubungan, kok ketika diputus malah patah hati dan menangis tersedu-sedu, kan nggak lucu. Atau jangan-jangan orang yang patah hati, lalu sedih sekali itu tidak paham apa itu cinta?. Cinta saja tidak paham, apalagi patah hati, kan begitu?

Dimulai dari membaca opini ini, jangan berani bercinta jika takut patah hati. Dimulai dari membuka artikel ini, jangan menangis karena patah hati. Dimulai dari apa yang saya tulis dan kamu baca ini, mengembara lah ke sanubari terdalam kamu, carilah makna cintamu, jika sudah menemukannya, barulah kamu boleh bercinta, dan jangan lupa konsekuensinya, kamu akan merasakan bahagia dan bisa jadi kamu akan patah hati.

Jangan lupakan kata-kata ini!

“Puncak kebahagiaan adalah menangis. Dan Puncak dari kesedihan adalah tertawa” (Taufik W.R. Hidayat, Penulis Agama Para Bajingan)

Jika kamu sedang patah hati, ekspresikan dengan hal yang positif dan tertawalah!.