Freedom of Speech, Berani dalam Bicara!

Freedom of speech atau kebebasan berbicara adalah nilai yang memberikan jaminan terkait kebebasan berbicara secara bebas tanpa adanya pembatasan akan tetapi tidak termasuk dalam hal menyebarkan kebencian. Sejarah awal freedom of speech sendiri ada pada saat jaman romawi kuno, freedom of speech sering dilambangkan dengan syair-syair, karya seni, diskusi publik maupun teaterikal yang berisi pesan keritik terhadap pemerintah. Semakin menuju modern amerika merupakan negara yang menjunjung tinggi freedom of speech. Lebih bebas lagi di amerika mereka diberikan kebebasan untuk memiliki agama maupun tidak, bahkan dalam jaminan hak Bill of Right terdapat hak untuk memiliki senjata sebagai alat untuk perlindungan diri.

Di Indonesia setelah reformasi 1998 bergulir, kebebasan berpendapat telah diatur dalam undang-undang 1945 pasal  28E ayat (3) “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Jadi dalam undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa kita sebagai warga negara Indonesia memiliki kekebasan berpendapat tanpa harus takut untuk dihukum ataupun mendapat ancaman dari pihak lain.

Akan tetapi perlu diingat bahwa kebebasan berbicara di Indonesia juga memiliki undang-undang yang mengikat, yakni dalam pasal 28J ayat 2 “dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”. Adapun pasal yang dijadikan acuan atau nilai-nilai yang terkandung dalam undang-undang 28J adalah pencemaran nama baik, UU ITE, Penistaan, Fitnah, Penghinaan ringan, pengaduan palsu, dan lain sebagainya.

Freedom of speech merupakan nilai yang penting dalam suatu masyarakat, melalui freedom of speech kita memiliki kebebasan berbicara tanpa harus takut akan di intimidasi atau di bredeli. Mengingat pentingnya hal tersebut setidaknya kita harus tau mengapa freedom of speech ini perlu dalam bermasyarakat. Berikut alasan mengapa kita perlu tau dan berani dalam berbicara

Pertama, Freedom of speech menjamin kebebasan berpendapat, kebebasan berpendapat merupakan hal penting dalam diri manusia, melalui pendapat kita bebas beropini terlebih untuk mengangkat kasus-kasus yang tengah terjadi disekitar kita khususnya di Indonesia, melalui kebebasan berpendapat kita dapat menumbuhkan “awareness” kepada banyak orang. Namun, opini yang kita buat harus jauh dari SARA dan tidak menyebabkan konflik publik. Seperti beberapa influencer yang mulai terlena dengan kebebasan berpendapat sehingga memicu pro dan kontra publik. Kebebasan berpendapat juga memberikan kita kebebasan untuk tidak berpendapat, sepertihalnya memilih diam atau memilih tidak peduli terhadap suatu permasalahan.

Yang kedua, kebebasan berekspresi, tidak jauh berbeda dengan kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi menjamin warga negara untuk turut serta dalam pengambilan keputusan negara (dalam hal ini politis) seperti demonstrasi. Kebebasan berekspresi juga memuat hak untuk beragama, dan berorganisasi, mengenakan simbol-simbol keagamaan atau organisasi. Kebebasan berekspresi ini merupakan hak dasar bagi warga negara, pun merupakan hak warga negara yang paling banyak dilanggar. kebebasan berekspresi harus disalurkan dengan cara yang elegan, dan halus serta memiliki saran yang membangun ditengah keritik yang dibuat. Akan tetapi seringkali cara yang halus dan cerdaspun masih menuai banyak masalah, hal ini dikarenakan sifat diri sendiri yang kurang mampu menerima keritik, sehingga menimbulkan komunikasi yang kurang baik. Di Indonesia berapa banyak berita tentang pemukulan aparat kepada demonstran, pelecehan, atau organisasi yang dicap makar, mengganggu kestabilitasan negara dan harus dibubarkan.

Ketiga, freedom of speech menjamin kebebasan berintelektual. Kebutuhan akan ilmu pengetahuan adalah hak bagi seluruh manusia, pengetahuan akan menciptakan sumberdaya manusia yang baik. Melalui freedom of speech kita dapat menyuarakan atau berhak mencari ilmu pengetahuan ataupun termasuk kebenaran terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, kebenaran sejarah, dan keritik atas ilmu pengetahuan tersebut. Freedom of speech membantu kita dalam menyuarakan dan berhak meminta ilmu yang kita inginkan untuk kita pelajari, selain dampaknya pada akademisi, mereka dibebaskan dalam membuat karya tulis ilmiah yang sifatnya untuk keritik pemerintah, atau rekomendasi kebijakan. Pada prakteknya di Indonesia ilmu pengetahuan dibatasi seperti kasus penyitaan buku-buku yang berbau ideologi kiri oleh oknum aparat, dan pembubaran diskusi sensitif oleh ormas-ormas. Hal ini dikarenakan masyarakat yang kurang mampu menerima buku-buku atau film-film yang berbau kontradiktif akan ilmu pengetahuan atau sejarah. Tentunya ini dapat mencederai kebebasan dalam berintelektual di Indonesia.

Keempat, mencapai kestabilitasan negara. Tanpa disadari ketiga jaminan freedom of speech diatas turut serta dalam meningkatkan kestabilitasan negara. Adanya kebebasan berekspresi dan berpendapat mampu menciptakan “check and balances” dalam pemerintahan. Kebebasan melakukan keritik akan membuat mata pemerintah terbuka atas problem yang mereka hadapi, kebebasan beropini juga dapat memblow-up kasus di daerah-daerah yang mungkin luput dari pengawasan pemerintah. Kebebasan mengenakan simbol-simbol organisasi dan keagamaan memberi indikasi kesehatan demokrasi disuatu negara. Serta kebebasan mencari ilmu pengetahuan akan menjadi modal besar bagi negara untuk maju.

Freedom of speech merupakan nilai yang dibawa oleh arus demokrasi. freedom of speech membentuk masyarakat untuk berani mengeritik dan belajar berlapang dada untuk dikeritik. Keberanian masyarakat untuk berbicara merupakan modal awal yang bagus untuk membentuk demokrasi. Akan tetapi, dilematisnya adalah kebebasan berbicara tersebut tidak diiringi oleh pengetahuan yang cukup sehingga banyak masyarakat yang mengutarakan pendapat dan harus berakhir di bui. Maka dari itu perlu bagi masyarakat untuk menyampaikan keritiknya dengan bahasa yang halus dan tidak melanggar undang-undang.