Mengenal Lebih Dekat Anarko-Sindikalisme

Seperti yang kita dengar dari masyarakat luas bahwa kaum anarkis identik dengan sekelompok anak muda yang merusak fasilitas milik orang kaya maupun umum, pembuat onar, vandalisme, melempar bom molotov dan sejenisnya, aksi mereka tersebut konon pada konsepnya untuk melawan kapitalisme dan fasisme. Kelompok yang berlambangkan huruf “A” yang dilingkari huruf “O” tersebut tersebar di sejumlah negara, dengan konsep gagasan tatanan dunia tanpa negara yang mengatur dan tanpa kelas sosial.

Anarko-Sindikalis merupakan cabang dari Anarkis yang berkonsetrasi pada kaum buruh, dimana anarko dalam bahasa Yunani “anarchos” yang berarati tanpa pemerintahan dan penguasa. Secara harfiah Anarko-Sindikalis merupakan serikat pekerja tanpa penguasa.

Anarko sendiri menganut filsafat anarkisme yang merupakan aliran filsafat yang menolak segala bentuk lembaga yang bersifat hirarkis dan permanen terutama lembaga yang mengatur, mengontrol dan mengkoordinasi kehidupan manusia baik dalam level personal maupun sosial. Oleh karena itu. Paham ini menolak adanya institusi negara maupun lembaga-lembaga sosial lainnya yang menurut mereka akan membuat masyarakat menjadi statis dan memunculkan penindasan struktural baik secara ekonomi, sosial-politik, maupun kultural, mereka menggaungkan kehidupan sosial yang alami, dimana masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri tanpa intervensi dan sub ordinasi dari otoritas manapun. Misalnya seperti yang kita lihat dan ketehaui, kehidupan anak punk yang dimana setiap individu-individu bebas tanpa aturan yang membelenggu dan tanpa otoritas yang mengatur mereka, akan tetapi mereka mempunyai solidaritas yang tinggi dikalangan mereka karena mereka merasa sanasib dan sepenanggungan.

Sesungguhnya filsafat anarkisme tidak seperti yang kita bayangkan sebagai pemikiran yang chaostik tanpa hukum, filsafat ini pada dasarnya ingin melawan segala bentuk dominasi dari manusia yang satu atau lebih (kelompok) terhadap manusia yang lainnya. Dasar pemikirannya adalah bahwa manusia diciptakan dengan keadaan merdeka yang bukan untuk saling menguasai satu sama lain akan tetapi melain setara satu sama lain. Oleh karena itu, segala bentuk kekuasaan yang di dominasi individu maupun kelomok adalah bentuk ketidakadilan. Bentuk dominasi itu biasanya dilakukan oleh sebuah kekuasaan yang terorganisir dan bersifat lembaga, maka dari itu konsenkuensi dari ide dan paham anarkisme harus melawannya.

Dasar-dasar anarkisme sudah dibangun sejak abad 17 oleh Gerrard Winstanley dan William Godwin yang berasal dari Inggris, dalam pemikiran Gerrard Winstanley mengenai masyarakat ideal ialah, dimana setiap orang yang memiliki harta untuk dijual kemudian hasilnya dibagi kepada  sesama (masyarakat) bukan untuk diri sendiri, dalam hal ini akan terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Kemudian dalam pemikiran ini ditransformasikan dalam bentuk gerakan sosial-politik sehingga pemikiran Gerrard Winstanley dengan mengusung semboyan, kebebasan, persamaan dan persaudaraan dapat memberi kontribusi dalam menundukkan monarki Prancis pada zamannya yang telah berkuasa selama berabda-abad. Dalam hal gerakan rakyat di Prancis tersebut memancing gairah dari beberapa pemikir Eropa untuk mengembangkan Filsafat Anarkisme yang kemudian pada abad ke 19 dan 20 muncul tokoh-tokoh filsuf yang mengembangkan paham Anarkisme yang diantaranya ialah, Max Stirner dari Jerman, Pierre Joseph Proudhon dari Prancis, Mikhail Bakoenin dan Peter Kropotkin dari Russia. Keempat tokoh ini mengajarkan langsung kepada pekerja untuk menumbuhkan kesadaran akan perlunya revolusi sosial, pada kurun waktu yang sama juga muncul pergerakan yang bercorak Sosialis-Komunis yang dipelopori oleh Karl Marx. Dari pemikiran-pemikiran mereka ini terbentuklah serikat-serikat pekerja diseluruh dunia.

Pada sekitar awal abad 20, Rudolf Rocker seorang filsuf Jerman yang berhijrah ke AS yang sering dianggap sebagai bapak Anarko-Sindikalis dalam risalahnya yang berjudul “Origin Of Anrcho Sindicalism”, ia menulis “Bersama dengan pendiri sosialisme, kaum anarkis menuntut penghapusan semua monopoli ekonomi serta kepemilikan atas tanah dan semua sarana produksi lainnya,yang harus dimanfaatkan oleh semua tanpa pembedaan, karena kebebasan sosial dan personal hanya dapat dipahami pada dasar keuntungan ekonomi yang setara bagi setiap orang. Bahwa perang melawan kapitalisme harus bersama an juga denan berperang melawan semua institusi kekuasaan politis. Karena dalam sejarah, eksploitasi ekonomi selalu bekerjasama dengan penindasan sosial-politik. Eksploitasi dan dominasi orang terhadap sesamanya tidak dapat dipisahkan, dan masing-masing saling mengkondisikan”.

Anarko-Sindikalis memandang sarikat pekerja sebagai potensi kekuatan pergerakan revolusioner perubahan sosial, dimana mereka mengingkan sistem negara dan kapitalisme dengan sebuah masyarakat baru dikelola secara demokratis oleh kaum pekerja itu sendiri, Anarko-Sindikalis berupaya menghapus kepemilikan pribadi terhadap tanah dan alat-alat produksi yang akan melahirkan dua kelas sosial dalam masyarakat yaitu, kelas majikan (Kaum Borjuis) dan kelas pekerja (Kaum Proletar).

Lambang dari Anarkis yang diambil dari tokoh filsuf Pierre Joseph Proudhon dari Prancis yang mengatakan “Anarchy Is Order”, dimana O berarti Order, sedangkan A berarti Anarchi.