Cara Mengontrol Kemarahan Ketika Menghadapi Perbedaan

Rancah.com – NIETZSCHE dilahirkan pada tahun 1844-1900 dari keluarga baik-baik, bapaknya meninggal saat dia kecil, dia dikenal sebagai pendeta kecil, sejak kecil dia gampang sakit, dan sangat pemalu, kisahnya dimulai pada saat dia remaja.

Saat remaja sekitar umur 23 tahun NIETZSCHE mendeklarasikan bahwa dirinya adalah atheis (tidak bertuhan), akan tetapi pernyataan NIETZSCHE itu dianggap biasa saja oleh orang sekitar, karena hal itu biasa dialami kebanyakan remaja pada saat itu yang sedang mengalami perasaan pintar, perasaan keren, perasaan berbeda dari yang lain, dan semua hal itu akan berhenti dengan sendirinya, tapi tidak kepada NIETZSCHE.

Bermulanya pemikiran NIETZSCHE yang berawal dari mendeklarasikan dirinya atheis ternyata menghasilkan pemikiran-pemikiran yang

luar biasa dari seorang NIETZSCHE, kehidupannya sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dia suka menyendiri, dia tidak terlalu suka pergaulan, dia sempat mengajar di universitas pada saat itu, tetapi tidak lama, dia lebih suka single fighter dengan menulis semua karya-karya pemikirannya.

FRIEDRICH WILHELM NIETZSCHE Seorang filosof kontroversi dalam karya karya pemikirannya

NIETZSCHE merupakan seorang filosof yang “mengiyakan hidup”, menghargai kehidupan, menikmati kehidupan, memandang kehidupan ini dengan segala masalah dan kepahitannya adalah sesuatu yang harus diterima terlebih dahulu kemudian dicari jalan keluarnya.

Menurut NIETZSCHE, aturan atau norma yang ada setelah kedatangan Socrates, Plato, dan Aristoteles, itu menyebabkan kerusakan naluri bibit-bibit unggul kebudayaan yang terhalang oleh dominasi ikut ikutan yang timbul akibat aturan atau norma yang dibuat, dengan alasan rasionalitas universal, padahal untuk mendobrak segala batas dan kekurangan diperlukan bibit-bibit unggul yang bebas dalam dorongan hidup, inilah manifestasi “mengiyakan hidup”. Semakin banyak aturan semakin manusia tidak bisa mengekpresikan kreatifitasnya dan semakin tidak bisa menikmati hidup, salah satunya adanya pencitraan pencitraan yang dilakukan manusia untuk dipandang orang yang normanya bagus, padahal aslinya tidak seperti itu, dan sebenarnya orang lain pun menyadari itu, makanya disebut pencitraan.

Memang, setiap orang harus punya pedoman-pedoman moral/prilaku, untuk membedakan mana baik, buruk dan pas, akan tetapi menurut NIETZSCHE, orang-orang salah salah menyikapinya, seolah-olah aturan moralitas dan norma hidup yang ada itu sifatnya natural yang memang ada dalam diri kita, dan kata NIETZSCHE itu adalah salah, karena aturan moralitas dan norma hidup tersebut adalah buatan manusia, dan yang membuat nya bisa plato, locke, hegel, Buddha, Jefferson, dll. Dan kita merasa itu natural, mereka plato dan kawan-kawan merasa menemukan hukum moral tersebut, padahal mereka itu cuma membuatnya saja, apapun jenisnya, dan aturan moral dibuat sesuai dengan konteks dan perspektif pembuatnya.

Jadi, karena aturan moral tersebut adalah buatan, maka sifatnya berubah ubah, tidak absolut, maka boleh saja dikritik kalau kita merasa tidak pas, karena itu hanyalah sebuah perspektif pembuatnya.  Tidak ada kebenaran diluar manusia dan masayarakat, hidup tidak akan memiliki makna sebelum kita sendiri yang memberinya makna, misalnya saja, gereja itu tidak sakral bagi orang muslim, dan begitupun sebaliknya, itulah bukti tidak absolutnya, makna-makna moral semacam itulah yang dikasihkan orang tua kita diwaktu kecil, dan nilai moral ditanamkan dengan cara ancaman untuk menciptakan rasa takut, atau dengan bahasa tidak boleh dan kualat. Maka makna itu adalah buatan.  Artinya aturan moral yang ada ini bisa saja keliru, tidak harus diikuti, dan brontaklah kalau itu terasa tidak pas.

Bukti yang bisa kita rasakan kalau aturan moral yang ada ini berubah ubah, misalnya waktu dulu kita menganggap sesuatu itu adalah bagus tapi nyata nya di saat sekarang itu menjadi tidak bagus, coba cermatilah perjalan hidup kita tentang moral-moral yang sudah berubah-ubah, dan itu bisa saja dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan, dll. Misalnya lagi, dulu perempuan sangat tidak baik jika keluar malam, tapi sekarang perempuan pulang jam 11 jam 12 malam tidak apa-apa, itulah bahwa aturan moral bisa berubah-ubah.  Jadi aturan moral itu adalah pilihan kita masing-masing, bisa saja pilihan kita sama dengan orang-orang yang telah membuat aturan moral, tetapi ingat lah selalu bahwa orang lain pun punya pilihannya masing-masing. Dan pilihan yang kau pilih bukanlah sesuatu yang absolut, tidak ada kebenaran absolut yang ada pada manusia.

Berawal dari sini NIETZSCHE mengeluarkan sebuah teori yang namanya GENEALOGI MORAL, Genealogi artinya penyingkapan kedok nafsu-nafsu, kebutuhan-kebutuhan, ketakutan-ketakutan, dan harapan-harapan yang terungkap dalam sebuah pandangan tertentu mengenai dunia, termasuk dalam moralitas.  Moralitas artinya semacam bahasa isyarat dari emosi-emosi, dengan alasan rasionalitas, obyektifitas atau universalitas pandangan tertentu, padahal sebenarnya semua itu hanya menunjukkan persektif yang terbatas dari penganutnya.

Biasanya terciptanya sebuah moralitas dalam masyarakat didasari dari ketakutan-ketakutan, harapan-harapan, kebutuhan-kebutuhan, naluri-naruli manusia untuk bertahan hidup, maka genealogi moral berfungsi untuk melacak dari manakah dasar moralitas tersebut yang ada di suatu masyarakat.  Contoh, nyi roro kidul mungkin sebenarnya tidaklah terlalu penting keberadaannya, tetapi dengan adanya cerita nyi roro kidul maka masyarakat menjadi bermoral terhadap lautan, seperti menghargai lautan, menjaga pantai agar tetap bersih, karena dibalik itu ada harapan, ketakutan, dan kebutuhan-kebutuhan dari laut itu. Kita tidak boleh membawa alquran dengan cara ditenteng dengan tidak sopan, maka mungkin saja dibalik moral yang kamu lakukan terhadap alquran ada ketakutan, harapan yang kembali kepada diri sendiri.  Maka moralitas hanyalah sebuah symbol dari harapan, kebutuhan, dan pandangan tertentu masyarakat, dan setiap kelompok-kelompok masyarakat mempunyai symbol symbol moral sendiri.  Maka kebenaran moral itu tergantung dari perspektif masing-masing dengan didasari genealoginya.

NIETZSCHE membagi dua jenis moralitas, moralitas tuan dan moralitas budak.  Moralitas tuan yaitu ungkapan hormat dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri, mereka sangat yakin bahwa segala tindakannya adalah baik, moralitas ini tidak menunjukkan cara bagaimana seharusnya seseorang bertindak, namun bagaimana sesorang menentukan tindakan baik/buruk itu adalah pribadinya sendiri.  Kebalikannya adalah moralitas budak, artinya seseorang tidak pernah berbuat dari diri mereka sendiri, sebab tergantung pada perintah tuannya, yang dianggap baik adalah simpati, kelemah-lembutan, kerendahan hati, dll. Dan pada kenyataannya manusia itu kebanyakannya moralitas budak, sesuatu yang kau anggap baik atau buruk itu tidak pernah dari keinginan diri sendiri akan tetapi dari luar diri, mungkin dari kiayi, ustad, quran, hadis, kitab, buku, dll, maka kebalikannya adalah moralitas tuan, itu dari dirinya sendiri, insiatifnya sendiri, atas keputusanya sendiri, atas analisisnya sendiri, atas pertimbangannya sendiri.  Dan hasil dari sistem nilai kedua macam moral tersebut pun berbeda, moralitas budak misalnya yang sering dikembangkan adalah pasrah, ikhlas, tanpa pamrih, harmonis, rendah hati, dll.  Kalau moralitas tuan yang sering dikembangkan  misalnya, kita harus maju, kita harus menentukan nasib sendiri, dll.  Maka bagi pandangan budak, mentalitas tuan itu adalah mentalitas arogan, orang sombong, dll, dan bagi tuan, mentalitas budak itu mentalitas orang normal, seperti relasinya juragan dan buruh, buruh yang baik itu gak pernah complain, disuruh apa aja jalan, mau susah susah, dll.  Dua macam inilah yang ada pada manusia dalam perjalanan hidupnya.  Ketika mentalitas budak sudah melekat pada diri seseorang maka kecendrungan untuk bangkit lagi dalam perjuangan hidup hampir tidak ada, karena misalnya ditutupi dengan surga di kehidupan setelah mati nanti, juga orang-orang seringkali salah menyikapinya, ketika kalah dalam sesuatu beralasan “ah ini kan Cuma permainan, ah aku kan cuma mengalah, dll, itu semua tanpa disadari para moralitas budak memelihara rasa iri dengki, dan sifat-sifat jelek lainnya didalam diri mereka.  Hal ini menyebabkan transvaluasi nilai (penjungkirbalikan nilai) yaitu sentimen kebencian terpendam yang dipelihara oleh kaum budak yang kemudian menghasilkan kekuatan kreatif yang menghasilkan nilai-nilai dan menjungkirbalikkan penilaian baik-buruk dari moralitas tuan, penjungkirbalikan nilai semacam “balas dendam” tetapi dalam lingkup imajiner, sebab sesudah peristiwa tersebut semua rendah, lemah, menderita, malah disebut “baik”, sedangkan yang agung, berdaulat, bagus, malah disebut “jahat”.