Apakah Kamu ingin Menjadi SUPERMAN? Begini Caranya

(sebelum membaca artikel ini sebaiknya baca terlebih dahulu artikel yang berjudul (cara mengontrol kemarahan ketika menghadapi perbedaan).

FRIEDRICH WILHELM NIETZSCHE

seorang filosof kontroversi dalam karya karya pemikirannya

Transvaluasi nilai yang terjadi akibat dari ketidak mampuan para mentalitas budak yang akhirnya memunculkan ideology kedalam, artinya yang batin dianggap lebih baik daripada yang lahir, kalah pada lahirnya tidak apa-apa yang penting menang pada batin, padahal yang terjadi sebenarnya menurut NIETZSCHE, orang menipu dirinya sendiri, setiap orang sebenarnya ingin sukses, setiap orang sebenarnya ingin maju, setiap orang sebenarnya ingin mandiri, mengatur dirinya sendiri bahkan mengusai, tetapi dengan sistem yang ditransvaluasi ini dia sebenarnya sudah menipu dirinya sendiri, nilai-nilai dasar kemanusiaan yang ingin sukses, ingin maju, ingin mandiri, dijungkirbalikkan sehingga yang tampil bukan dia, yang tampil dirinya yang palsu, yang pura-pura, dirinya yang ditutupi oleh sistem nilai yang ditransvaluasi tadi, katanya NIETZSCHE dia menjadi manusia setengah hewan, dia menyiksa dirinya sendiri, seperti binatang laut yang hidup di darat, harusnya dia menyadari kalau dirinya binatang laut, karena sama-sama ingin maju maka bertandinglah, dengan seperti itu akhirnya kesejatiaan manusia sebenarnya dianggap bukan manusiawi, “sudahlah tidak apa-apa yang penting rukun, sudahlah tidak apa-apa yang penting damai”, dengan alasan-alasan ini kamu tangguhkan bahwa sebenarnya kamu ingin maju, dan orang-orang seperti ini mengingkari dirinya sendiri.

Yang menyedihkan lagi moralitas “budak” ini bisa bertahan bahkan menjadi dominan, itu dikarenakan institusi-institusi social budaya, termasuk agama menyediakan fiksi-fiksi dengan menyatakan keutamaan-keutamaan sifat seperti rendah hati, mengalah, susah harta tetapi kaya hati, kalah lahir menang batin, dll, sehingga menyebabkan masyarakat sudah merasa tidak bisa bertindak kuat seperti kaum ningrat.  Akhirnya masyarakat tidak berani melampiaskan hasrat kemanusiaan sejatinya “kehendak untuk berkuasa”.  Contohnya narasi-narasi para penceramah tentang surga dan neraka, yang mana sangat mengerikan dan menyenangkan, padahal kalau kamu jeli di dalam alquran dan hadist tidaklah terlalu banyak penjelasan tentang surga dan neraka, akan tetapi itu semua ada di dalam tafsir-tafsirnya dan bahkan tafsir tersebut ditafsirkan lagi oleh para penceramah-penceramah sehingga terdengar sangat menakutkan dan sangat menyenangkan yang melampaui batasan-batasan sebenarnya, malahan belakangan ini hal-hal yang menakutkan dan menyenangkan tersebut dipakai beberapa orang untuk kepentingan marketing penjualan.  Narasi-narasi seperti inilah yang melanggengkan transvaluasi (penjungkirbalikan nilai), sehingga para mentalitas tuan akan bertahan, dan para mentalitas budak tidak berdaya untuk berkompetisi menuju mentalitas tuan.  Andaikan saja Indonesia dulu punya mentalitas tuan kemungkinan Indonesia tidak mungkin lama dijajah belanda, bahkan pada akhirnya dengan adanya narasi-narasi tersebut para mentalitas budak menjadi menikmati ketersiksaan tersebut.

Katanya NIETZSCHE, kehendak untuk berkuasa adalah dorongan yang berasal dari setiap orang untuk berkreasi, mencapai kebesaran, dan kemudian memperoleh kekuasaan, akan tetapi selama berabad-abad, dorongan ini ditekan dan disingkirkan oleh agama dan sistem moralitas universal, sebenarnya setiap batin manusia menuntut untuk lebih menonjol dari suatu kerumunan dan menguasai segalanya. Cermatilah diri kita masing-masing secara jeli bahwa sebenarnya kita ini ingin berkuasa, (merasa diri bisa melakukan sesuatu, sering menyatakan bahwa suatu info lebih dulu mengetahui walaupun hanya didalam hati, menyatakan keberadaan kita ini sangat penting di tengah-tengah kerumunan, dll), semua itu adalah tanda-tanda kehendak berkuasa yang ada pada diri manusia, dan ini adalah fitrah kesejatian manusia. Sering tidak disadari, bahwa manusia setiap saat selalu mencari cara untuk menyatakan kehendak kekuasaannya, walaupun tak satu orang pun yang mengakuinya, misalnya pada zaman sekarang memposting di sosmed, selfy sedang berada disuatu tempat wisata, dan pastinya setelah itu perhatian kamu tertuju kepada berapa banyak like dan coment yang didapatkan, semakin banyak koment dan like semakin kamu senang, dan seolah-olah semua itu dalam kendalimu.  Dan semua ini menurut NIETZSCHE adalah wajar saja, itulah sebenarnya kesejatian fitrah manusia, akan tetapi hal ini di halangi oleh agama, sistem moral masyarakat, dan itu dianggap tidak sopan dan tidak bermoral, yang diartikan pamer, pencitraan, dll. Katanya NIETZSCHE itulah sebenarnya manusia dan harus begitu, andaikan manusia tidak seperti itu makan dunia ini sepi, tidak ada kompetisi.  Maka dari itu para moralitas tuan menjadi sedikit persaingannya, karena para moralitas budak sudah malas untuk berjuang dan terhipnotis dengan indahnya surga dan pedihnya neraka.

NIETZSCHE mengatakan, kehendak berkuasa itu adalah daya hidup paling dasar dalam diri manusia, bahkan pengetahuan pun bekerja sebagai instrument kekuasaan, kehendak mengetahui sesuatu bergantung kepada kehendak untuk menguasai.  Tujuan pengetahuan itu bukan menangkap kebenaran tertentu, melainkan untuk menundukkan sesuatu.  Setiap pengetahuan tergantung kebutuhan kita, termasuk kebutuhan akan obyektifitas.  Tidak ada kebenaran obyektif, semua kebenaran itu bersifat perspectival, artinya tergantung sudut pandang penafsirnya, dan perspektif sipenafsir adalah kehendak untuk berkuasa.

Oleh karena itu maka seharusnya manusia itu berkompetisi untuk menjadi SUPERMAN, katanya NIETZSCHE manusia itu terbagi dua, yaitu manusia super dan manusia kawanan, manusia super itu dia vital, semangat, teguh, terampil, bebas, berdaulat, “ningrat”/elite, dan jumlahnya sedikit, seperti para tokoh-tokoh besar, orang-orang terkenal.  Kebalikannya adalah manusia kawanan/kerumunan biasanya mereka lemah, pengecut, budak, tunduk, setia kawan, dan jumlahnya terlalu banyak.  Padahal fitrah kita adalah kehendak berkuasa (will to power) dan untuk merealisasikan nya kita harus menjadi manusia super.  Manusia super itu bebas namun bukannya tidak bermoral, hanya saja mereka mampu menciptakan nilai-nilai sendiri, setelah sebelumnya ditransvaluasi oleh para budak, dia bisa kembali mentransvaluasikan ulang kembali dan menciptakan nilai-nilai yang baru sesuai kehendaknya.  Merekalah orang-orang yang “mengiyakan” hidup, orang-orang yang realistis dalam hidupnya, bebas, ekspesif, dan tidak menutupi dengan kedok seperti yang dilakukan para budak. NIETZSCHE mengumpakan manusia super itu contohnya gabungan antara tokoh Julius sesar dan jesus. (seniman, filosof, dan orang suci).  Mereka menjadi agen yang merubah, bukan sosok yang diubah, dia mampu mengikuti will to powernya, dan dia mampu mengekspresikan dirinya secara bebas.

Semua manusia super itu tidak sama, mereka ini benar sesuai diri mereka masing-masing karena memiliki jalan sendiri-sendiri,mereka berada diluar dari cara hidup social, mereka punya gaya hidup alternative sendiri, jangan di bayangkan kalau manusia super itu adalah pemimpin di masyarakat, katanya NIETZSCHE bukan itu, karena pemimpin itu terpaksa mengurusi orang lain, beresiko membuat diri jadi tuhan baru, bisa menghalangi yang lain untuk menjadi manusia super baru. Justru manusia super itu adalah mampu menunjukkan outentik dirinya, mampu untuk tidak tenggelam didalam kerumunan.  Maka jadilah manusia super persi diri kita masing-masing, jika kamu bertanya apa yang harus dilakukan seorang manusia super, maka NIETZSCHE tidak akan menjawabnya, karena kalau dia menjawabnya, maka kita akan meniru/mengikutinya, yang berarti bukan kehendak kita sendiri, maka tidak akan bisa menjadi manusia super.  Jadi yang perlu kita lakukan yaitu ikutilah kehendakmu, dan ikutilah dorongan batinmu, maka kamu akan menjadi manusia super.




Loading...

close