Ukirlah Sejarah Mu Sebelum Meninggalkan Dunia

(sebelum membaca artikel ini sebaiknya baca terlebih dahulu artikel yang berjudul ‘Apakah Kamu ingin Menjadi SUPERMAN? Begini Caranya).

FRIEDRICH WILHELM NIETZSCHE mengatakan, “dunia ini terus berulang-ulang dan abadi”, dunia ini, segala baik-buruknya, luhur-nistanya, agung-kerdilnya, akan hancur dan kemudian akan muncul kembali dengan segala detailnya, persis sama berkali-kali sampai tak terhingga, ada orang baik mati kemudian dikehidupan mendatang hidup lagi orang baik yang sama persis, peristiwa yang selalu berulang-ulang abadi, memang memuakkan, namun, hidup ini harus diterima, jalani sampai umurmu habis, “inilah yang disebut mengiyakan hidup”.  Dan ini berarti kiamat itu tidak ada, kiamat itu ada bagi diri kita masing-masing, dan kata NIETZSCHE bukti paling jelas adalah teori hukum kekekalan energy (albert einstain), energy itu tidak akan bisa hilang dan kekal, energy hanya bisa berubah akan tetapi tetap kekal, dan manusia ini termasuk energy, maka ramalan kiamat jenis apapun tidak akan pernah benar, dulu pernah diramalkan tahun 1987 akan kiamat, setelah itu tahun 1999 tanggal 9 bulan 9, dan yang paling dahsyat ramalan kiamatnya pada tahun 2012 tgl 21 bulan 12, dan nyatanya kiamat tidak terjadi.  Jadi manusia itu punya hak penuh terhadap hidupnya, dan katanya NIETZSCHE tuhan itu sudah mati, dan kitalah yang membunuhnya…, kapankah kita membunuh tuhan..?, tuhan mati saat manusia sadar ternyata merekalah yang “menciptakan” tuhan, dalam agama islam tuhan lah yang menciptakan kita dan alam semesta, tetapi kalau NIETZSCHE kebalikannya, manusialah yang “menciptakan” tuhan, setelah “menciptakan” kemudian sadar kalau dia sendiri yang menciptakan tuhan, dan pada saat itulah tuhan mati.  Dengan matinya tuhan, maka mati pula ide-ide dan kebenaran-kebenaran universal, buktinya kalau tuhan itu kita yang menciptakan adalah : misalnya, apakah tuhan NU dan muhammadiyah sama..?? mungkin jawabannya sama, tetapi kenyataannya dalam prakteknya beda, jadi katanya NIETZSCHE manusia sendirilah yang mengkontruksi, dan mengkonsep tuhan itu dikepalanya masing-masing, dan begitu sadar maka disitulah tuhan mati, tuhan yang ada dikepala kita ini yang dibunuh, ada juga yang sering rebutan tuhan, “ini adalah kehendak tuhan kamu yang salah”, kemudian lawan bicara berkata “Lho ..ini juga kehendak tuhan”, kenapa bisa rebutahan tuhan, itu dikarenakan tafsiran kita masing-masing tentang tuhan, maka kata NIETZSCHE bunuh saja tuhan yang ada dikepalamu. Dengan tuhan itu mati maka segala yang membelenggu kamu sehingga tidak kreatif, tidak bisa mengekspresikan diri, karena takut masuk neraka karena adanya kebenaran-kebenaran universal itu, akhirnya bisa bebas dan bisa melakukan apa yang kamu kehendaki dengan perspektif nilai-nilai kebenaran yang kita miliki masing-masing.

Semakin cerdas manusia semakin sedikit perannya tuhan, zaman primitive semuanya diurusi oleh tuhan, karena banyak tidak memahami segala sesuatu, tidak mengerti fenomena alam misalnya, semain canggih sains yang ditemukan manusia, maka peran tuhan semakin kecil, bahkan saat ini manusia sudah bisa merekayasa genetika, cloning manusia, semakin besar peran manusia maka peran tuhan semakin nganggur, dan kata NIETZSCHE jika tuhan mati maka manusia akan bebas dari kecengengan transendental, yaitu ketika kita punya tuhan kita sering cengeng, ketika terasa mendapat ujian selalu berkeluh kesah kepada tuhan dan meminta tolong, sebenarnya kalau ujian mau lulus maka harus belajar, malah membuat kita menjadi cengeng, tidak tahan banting, sengsara sedikit lari ketuhan, apa saja diserahkan ke tuhan, dan itu membuat malas berusaha, itulah yang dimaksud kecengengan transendental, Tuhan disuruh mengurusi A sampai Z , dan akhirnya menjadi mentalitas budak, tidak mandiri, tidak berani dan selalu takut melakukan apa-apa, apa-apa selalu dacari fatwanya, dalilnya, padahal manusia itu sudah mempunyai akal sehat, gunakanlah akal sehat itu, tak perlu cari-cari dalil dan fatwa, ini sebenarnya semacam kecengengan, karena terbiasa bermental budak akhirnya tidak kreatif dan tak bisa mikir, padahal sudah punya akal sehat, sering juga kita mendengar, apabila ayat-ayat tidak bisa dipahami maka kembalikan kepada tuhan, padahal kitab suci diberikan kepada kita sebagai pedoman, jadi sebaiknya fikirkanlah dengan akal sehat yang dimiliki, kenapa dikembalikan lagi kepada tuhan, padahal tuhan sudah memberikan petunjuk, tetapi malah dikembalikan lagi, itu dikarenakan malas berfikir dan bermental budak tadi.  Maka dengan matinya tuhan dikepala kita, tidak ada lagi manusia pengecut yang melarikan diri dari dunianya dengan berlindung dibawah naungan tuhan, jangan jadikan tuhan kambing hitam, jangan jadikan tuhan pelarian terakhir, dan sering kita mengatakan itu adalah kehendak tuhan dan tidak bisa dilawan, memangnya kita mengerti kalau itu kehendak tuhan?!!.

Disamping itu juga kematian tuhan akan menimbulkan yang namanya NIHILISME, pertama-tama yang dialami seseorang akan kebingungan karena sudah lama terbiasa tergantung pada tuhan, seperti akan kehilangan arah, kesepian, merasa sendirian, dan merasa tidak ada maknanya hidup ini karena kalau tuhan tidak ada maka semua nilai-nilai tidak ada gunanya.

NIETZSCHE membagi dua macam NIHILISME, nihilisme pasif, dan nihilisme aktif, jika seseorang itu mengalami nihilisme pasif maka dia akan menjadi pesimis bahwa nilai-nilai itu tidak ada dan hidup ini tanpa tujuan. Sebenarnya dia merindukan nilai-nilai makna dan moralitas itu, namun tak sanggup menemukannya. Dan jika dia nihilisme aktif, maka dia setuju terhadap hilangnya nilai makna, namun itu berarti kemenangan dan kebebasan, lalu melahirkan nilai-nilai baru yang diciptakan sendiri, dan akhirnya kita bisa menjadi manusia super dan bersaing dengan para moralitas tuan.

Menurut NIETZSCHE agama mempunyai dampak negative, yaitu : agama hanyalah kontruksi social, namun masyarakat secara membuta mengikutinya seolah itu adalah kebenaran sejati, agama membuat orang menjadi pasif, hanya ikut saja apa kata mereka yang mengatas namakan “kata tuhan” yang menyebabkan lama-kelamaan will to power yang dimiliki akan mati, orang menjadi tidak tahan banting, gampang menyerah gara-gara agama, kemudian tuhan menjadi kambing hitam, tuhan menjadi pelarian, bukan dirinya sendiri, dia menjadi pengecut dan tidak agresif.

NIETZSCHE tidak menyukai demokrasi, sosialisme, komunisme : menurut NIETZSCHE ideology-ideologi tersebut membuat orang-orang idiot yang menjalankan sistemnya, karena semua ideology itu didasarkan kepada kesetaraan, meskipun jelas tidak setara, karena pasti ada beberapa orang yang lebih unggul, dan sistem ideology tersebut membuat masyarakat yang bodoh selalu saja menang sementara sedikit orang jenius yang kuat dipaksa untuk menyesuaikan diri, sepintar apapun orang, sekuat apapun orang kalau tidak dipilih masyarakat maka dia tidak akan menjadi pimpinan,  kalau saja narkoba itu  suara terbanyaknya boleh maka dia akan menjadi boleh, inilah logika ideology tersebut, dan ini mebuat orang menjadi kerumunan/ikut-ikutan, pribadinya menjadi tidak outentik, maka untuk itu, ikutilah “will to power” yang kamu miliki, nikmatilah hidup dan bebas di dunia dengan makna dan nilai-nilai mu sendiri, jangan jadi bagian dari kerumunan, tunjukkan dirimu dalam sejarah.!