Ketika Identitas Mahasiswa Dilupakan

Seperti yang saya rasakan sampai saat ini, bahwa mahasiswa sangat menghwatirkan bagi bangsa dan negara maupun buat kpribadiannya, karna kebanyakan mahasiswa zaman sekarang hanya bersifat apatis tanpa memikirkan identitas yang di miliki sebagai mahasiswa, saya pun pernah mendengar kata seorang salah satu teman “ Tidak peduli salah jurusan, tidak peduli dosen killer, tidak peduli semester tua atau muda yang penting ngampus“.

Kalau pun semua mahasiswa mengatakan hal tersebut, bagaimana nasib bangsa ini? sebagai iron stock mahasiswa di harapkan menjadi manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan bangsa ini. Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikanya ,norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya.


Mahasiwa sebagai iron stock berarti mahasiwa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, mengantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiwa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya Soft Skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, Kemampuan memposisikan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaanya, sebagai seorang mahsiswa, apakah kita sudah siap melanjutkan tongkat estafet dan apakah kita sudah memiliki semua keahlian itu?

Seperti yang kita ketahui, identitas secara umum dapat diartikan citi-ciri atau keadaan khusus seseorang, maka dapat saya simpulkan bawa Identitas mahasiswa sesungguhnya  adalah ciri-ciri khusus dari sesorang yang sudah terdaftar di perguruan tinggi  baik swasta maupun negeri yang memiliki kepribadian khusus yang menjadikan ia berbeda dengan pelajar SMA dan setingkatnya bahkan pemuda.

Saya dapat sebutkan ciri-ciri mahaiswa adalah “Memiliki otonomi tinggi” tidak bergantung pada pihak manapun, karena idealismenya jarang memiliki kepentingan politik tertentu. “berpendidikan tinggi” maka secara politis telah mengalami sosialisasi politik lebih tinggi. Di kampus mereka mengalami akulturasi karena heteregonitas lingkungan. Kondisi tersebut memungkinkan transformasi dalam tataran nilai pada mahasiswa.

Perbedaan pada ciri – ciri inilah yang nantinya akan menentukan identitas mahasiswa. Bahwa mahasiswa adalah “intelektual muda” (Ali syari’ati : manusia-manusia tercerahkan yang kritis atas kondisi jumud masyarakat & siap memimpin menuju keadaan lebih baik). Maka kita mahasiswa dapat menyebutkan diri sebagai kaum intelektual yang memiliki idealisme yang kuat dalam pemikirannya.

Mahasiswa yang di asumsikan dan didefinisikan sebagai kaum intelektual dengan tri fungsinya (Agent of change, social of control, dan iron stock). Saat ini telah mengalami berbagai dekadensi atau penurunan, entah itu dalam gerakan maupun pemikiran. Mengapa demikian, karena dapat kita lihat bersama dari sebuah sejarah gerakan mahasiswa dengan rentetan sejak pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan hingga masa reformasi saat ini. Hakikat mahasiswa dengan tri fungsinya seharusnya semakin meningkatkan peran dan fungsinya dalam membangun dan menata Republik Indonesia ini, namun kini telah kehilangan identitasnya.



    KOMENTAR