Gangguan Cuaca DKAT(ITCZ) Melemah – Usir Hujan Kawasan Jabodetabek

Sudah lebih sehari curah hujan kawasan Jabodetabek tidak turun hujan pada kawasan yang meluas, meski angin baratan dan awan masih sering dijumpai dengan kualitas dan kuantitas yang menurun. Pada bagian lain suhu lebih hangat sudah dirasakan bila dibandingkan dengan situasi dan kondisi yang dirasakan dalam 1 – 3 hari ini. Menyimak arah angin di lapisan terbawah dekat permukaan yang umumnya dari arah Barat – Barat daya dengan kecepatan lemah hingga sedang dan munculnya daerah divergensi atau udara terberai terjadi di atas Jawa bagian Barat seiring beberapa pusat tekanan rendah yang merupakan bibit Siklon atau Badai Tropis di Samudera India barat daya Jaaw Barat. Kondisi keberadaan pusat tekanan rendah menarik masa udara basah dari Samudera ke arah Barat Daya dan sebagian massa udara basah terarah ke arah timur seiring tekanan rendah atau badai tropis yang giat di daratah Australia Utara hingag Timur kawasan Australia Utara. Situasi dan kondisi juga diperparah oleh kondisi suhu muka laut sekitar kawasan perairan Indonesia tidak menunjukan kondisi yang hangat untuk mendukung penguapan dan pembentukan awan. Selain itu juga mendukung pembentukan pusat tekanan rendah di Samudera India selatan wilayah Indonesia yang mengakibatkan kegiatan palung tekanan rendah ekuator yang bersamaan dengan Daerah Konvergensi Antar Tropis (DKAT) kurang kegiatannya. Kondisi juga bersamaan dengan naiknya tekanan udara baik belahan utara maupun belahan seiring garis edar semu matahari yang kini kembali peregeseran menuju ke garis ekuator atau kathulistiwa. Kini pola angin dari arah Timur – Utara masih cukup giat bertiup di atasa wilayah Utara ekuator dan dari arah Barat Laut – Barat Daya bertiup di atas wilayah selatan. Sesuai penjelasan bahwa kawasan Australia Utara telah memasuki awal musim hujan di awal bulan Februari 2020 seiring curah hujan yang tinggi dan tercapai kriteria curah hujan yang harus tercurah. Selain itu kondisi ini juga diikuti dengan tiupan angin baratan atau angin dari arah barat yang meluas untuk kawasan Australia yang juga masuk kawasan Indonesia sebelah selatan yang juga bertiup angin baratan yang meluas dari kawasan barat hingga kawasan timur Indonesia. Sebagaimana angin baratan yang bertiup di atas wiklayah Indonesia termasuk kawasan Australia merupana angin musim atau muson yang bertiup umumnya 1 – 3 bulan, maka kondisi angin barat yang kini sedang bertiup berpeluang untuk tetap bertiup minimal 1 – 3 bulan baru akan memasuki masa peralihan yang butuh waktu 1 – 2 bulan. Dengan demikian angin barat di atas kawasan Indonesia selatan ekuator yang memasuki awal musim hujan bersamaan dengan tiupan angin barat tidak selamanya akan dalam kondisi kurang hujan. Justru kurang hujan yang terjadi seperti yang kini juga berlangsung bukan saja kawasan Jabodetabek yang lebih dari 2 hari suhu hangat dan langit cerah – berawan berasal dari kondisi gangguan cuaca semata.

Gangguan akibat udara terberai atau divergensi dengan angin yang menyebar ini merupakan jenis kondisi yang umum juga giat di sepanjang garis palung ekuator dan Daerah Konvergensi Antar Tropis DKAT. Keberadaan gangguan cuaca yang berskala global namun dalam pemanfaatan dapat berlaku secara regional seperti wilayah Benua Maritim Indonesia, dalam kegiatan gangguan cuaca ini terdapat pula daerah divergensi namun sifatnya pada kawasan regional yang lebih kecil. Keberdaan gangguan divergensi umumnya terjadi saat massa udara terberai masuk ke sirkulasi tekanan rendah di bagian barat dan bagian timur seperti kondisi yang kini telah dan sedang berkembang untuk kawasan Jawa bagian Barat.  Selain itu keberadaan suhu muka laut yang masih belum naik untuk mendukung penguapan sepertinya masih perlu dukungan enersi yang cukup besar misal garis edar semu matahari kian mendekat. Atau adanya arus dalam laut itu sendiri yang hingga kini memberi keterbatasan untuk membaca situasi dan perkembangan kondiosi cuaca mulai permukaan laut hingga puncak atmsofer. Keberadaan posisi suhu muka air laut yang kini terus mejadi prioritas dalam penelitian untuk diketahui dengan baik. Menilik situasi dan kondisi laut yang kini berlangsung dan sebaran curah hujan yang juga masih  belum juga menunjukan sebaran curah hujan yang marak dan meluas . Sepertinya indikasi kurang hujan sepertinya akan terjadi danb berlangsung di kawasan Musim wilayah Indonesia di luar kawasan Jawa bagian Barat yang sepertinya sudah masuk musim hujan sejak awal tahun. Kawasan jawa bagian Baratpun juga mengalami kondisi awalm musim hujan yang mundur antara 1 – 3 bulan.  Sedangkan kemana curah hujan pergi spertinya kepergian atau tiadanya hujan yang turun ini sebagai akibat kondisi udara terberai dan didukung suhu muka laut yang lambat untuk naik. Perkembangan yang lambat suhu muka laiut selain berasal dari arus dalam laut juga berasal dari radiasi matahari yang sejak akhir tahun 2018 hingga kini matahari dalam kondisi minimum. Kegiatan mninimum ini berkaitan dengan proses elektromagnet yang terjadi di permukaan matahari kurang giat seiring jumlah bintik matahrai (sunspot)dan ledakan matahari (solar flare) dalam kondisi minimum. Kondisi pancaran radiasi rendah ini dapat dirasakan dengan kondisi selama januari – awal Februari 2020 untuyk kawasan Jabodetabek yang sering hujan turun dengan kondisi suhu udara rendah atau kondisi dingin seperti di kawasan pegunungan terjadi lebih sebulan di awal tahun 2020. Situasi dan kondisi perginya curah hujan yang bersifat sementara ini sepertinya akan turun hujan untuk masa waktu hingga akhir musim hujan yang sepertinya akan mundur sekitar akhir April hingga akhir Mei 2020. Hitungan ini berasal dari panjang musim hujan antara 1 – 4 bulan, maka akhir musim hujan atau memasuki masa peraloihan mulai bulan Mei hgingga Juni 2020 mendatang.


Situasi pergi dan datangnya curah hujan kawasa Jabodetabek telah diulas dan dibahas dengan memperhatikan situasi dan perkembangan kondisi cuaca dan kondisi kegiatan matahari sereta kondisi suhu muka air laut. Pergi atau hilangnya curah hujan disebakan adanya perubahan pola aliran udara yang menyebakan munculnya berairan udara atau divergensi aliran angin baratan di atas kawasan jabodetabek. Kondisi ini juga didukung dengan kondisi suhu muka laut yang masih menunjukan kenaikan akibat sering tertutup awan selama kurang lebih sebulan di awal tahun. Adanya peluang suhu naik seiring garis edar yang akan terjadi sekitar akhir Februari atau awal Maret berpeluang menaikan suhu muka laut dan munculnya gangguan cuaca yang sepertinya kecil peluangnya bila menyamai kondisi seperti di awal tahun 2020 atau menjelang medio Februari 2020 saat kawasan Jakarta terukur hujan ekstrim. Indikkasi hujan sedang – sangat lebat sepertinya merupakan kondisi curah hujan kawasan Jakarta khususnya Jabodetabek. Kiranya tulisan singkat ini dapat menjadi informasi dalam menyikapi kondisi alam sekitar kita  khususnya kawasan Jabodetabek yang 5 kali dengan curahan hujan sangat lebat hingga ekstrim.



    KOMENTAR