Apa Merayakan Hari Valentine itu Penting ?

Rancha.com – Hari kasih sayang atau yang lebih familiar dengan Valentine Day, yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari merupakan perayaan yang dirayakan hampir di seluruh dunia. Khususya dirayakan oleh pasangan remaja, dengan memberikan ucapan yang romatis atau barang-barang identik beruansa warna pink.

Perayaan hari valentine dengan terbuka sangat diterima dan dianggap menjadi budaya di masyarakat, termasuk Indonesia. Sadar atau tidak budaya ini seperti sudah menjadi perayaan yang wajib untuk dirayakan, sehingga bagi mereka yang tidak ikut merayakannya dianggap kuno sebab budaya massa sudah mengesahkannya menjadi pola kehidupan yang modern.


BEBERAPA kelompok dominan (penguasa) yang telah sejak lama memanfaatkan 14 Februari sebagai hari kasih sayang, telah membangun suatu presepsi yang menyatakan bahwa valentine suatu cara untuk mengekspresikan kasih sayang antar umat manusia, maka perayaan ini dengan mudah diterima karena berlandaskan suatu universal, yaitu rasa kasih sayang.

Di Roma kuno, nama Valentinus seorang martir, tetapi hubungan antara martir tersebut dengan perayaan hari kasih sayang ini tidaklah jelas. Bahkan Paus Gelasius II, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir ini. Namun oleh sejumlah orang tetap saja 14 Februari dinyatakan sebagai hari Santo Valentinus.

Menurut Ibid, perayaan ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969, sebagai upaya untuk menghapus santo-santo yang asal muasalnya masih jadi pertanyaan dan berbasis legenda saja.

Bagi masyarakat yang menerima mentah-mentah kebiasaan ini tanpa mengkritisi latar belakang peristiwa tersebut, tidak akan pernah tahu apa makna dari hari kasih sayang itu sendiri. Pada kenyataannya perayaan tersebut didasari legenda yang kebenarannya diragukan, jadi kita menganut budaya yang tidak jelas, dengan berpijak pada budaya tanpa dasar yang kuat.

Belakangan tidak dapat dipungkiri  bahwa fenomena valentine budaya menjadi semakin berdiri kokoh, karena secara tidak sadar penerimaan hegemoni dalam perayaan valentine, juga mendorong degredasi moral dengan melibatkan perilaki seks yang mengatas namakan cinta atau kasih sayang.

Lebih mirisnya lagi, masyarakat yang merayakan perayaan ini merasa bangga seolah-olah mereka telah satu tingkat lebih tinggi daripada mereka yang tidak merayakannya. Tentu perayaan ini sudah membentuk pola pikir masyarakat yang jauh dari kata ke-timuran ditambah dengan adanya konsumsi masyarakat yang didikte oleh pasar dengan segala macam produk-produk untuk valentine, justru membuat para kapitalis memanfaatkan moment (valentine) sebagi penghasil pundi-pundi keuntungan.

Jadi, apakah Valentine Day, itu penting?

Padahal hari kasih sayang itu dapat kita berikan setiap hari kepada keluarga atau orang-orang terdekat tanpa menunggu, hari 14 Februari.



    KOMENTAR