Daripada Baku Hantam Mengapa Tidak Buku Hantam Saja?

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan aksi parodi yang dipelopori oleh beberapa kader-kader dari salah satu partai di Indonesia, sebut saja inisialnya PAN. Aksi baku hantam dan saling lempar membuat tempat rapat Konggres ke V PAN yang digelar di hotel Clarion, Kendari, gaduh dan porak poranda. Hal ini menambah deretan panjang dari polah dan tingkah politikus yang menyimpang dan tidak menunjukkan etika yang baik sebagai wakil rakyat.

Mengingat peristiwa baku hantam ini, saya jadi berpikir bahwa mengapa mereka tidak menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan diskusi atau musyawarah yang santai dan kondusif. Melihat hal tersebut, saya sempat bertanya-tanya apakah mereka yang mengaku ‘Wakil Rakyat’ ini tidak memikirkan dampak dari apa yang mereka perbuat? Apakah ini yang menjadikan bangsa ini terus berkembang bukan terus maju?


Para wakil rakyat barangkali lupa bahwa dengan cara mengkaji lebih dalam suatu masalah itu dapat melahirkan keadaan yang damai dan tenang. Hal ini mengingatkan pada cara mengilhami sebuah buku, di mana ketika kita menemui kalimat atau kata yang tidak dipahami maksudnya kita bisa menelaah lebih dalam dan jauh, bersama teman diskusi atau komunitas. Bagaimana maksud kalimatnya dan apa makna didalamnya? Tentu kita bisa lebih belajar mencerna dengan akal dan pikiran yang sehat.

Dengan cara meningkat konsentrasi dan nalar berpikir yang kritis pada apa yang sedang dibahas, suatu masalah akan dengan mudah diselesaikan. Terkadang pemahaman orang-orang dalam menyelesaikan suatu problem memang berbeda-beda, namun jika itu sudah menyangkut urusan politik tentu jelas yang didalamnya merupakan orang-orang yang mempunyai SDM yang mumpuni, karena mereka adalah orang-orang pilihan.

Tetapi ditarik kembali pada peristiwa beberapa hari yang lalu, daripada baku hantam mengapa tidak buku hantam saja. Dengan buku hantam, bisa jadi kita lebih banyak belajar dan menambah banyak perbendaharaan kata, dengan cara menghantam kalimat-kalimat atau kata yang belum kita pahami dengan ideologi, argument, gagasan atau konsep yang baik, sehingga yang kita dapatkan adalah ilmu. Setelah kita mendapatkan ilmu, kita bisa bersikap dan berperilaku sebagaimana ‘baiknya’ bukan sebagaimana ‘memalukannya’.

Jadi lebih baik baku hantam atau buku hantam?



    KOMENTAR