Kebijakan Surya Untuk Kemajuan Listrik Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan survei penduduk tahun 2010 mencapai 237.641.326. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,5% – 2,5% per tahun.

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan kebutuhan energi terus melonjak naik. Salah satu bentuk energi yang dibutuhkan adalah energi listrik. Energi listrik digunakan diseluruh kehidupan dari kegiatan rumah tangga sampai dengan industri skala besar.


Berdasarkan data ketenagalistrikan nasional sampai dengan tahun 2018 kapasitas pembangkit listrik yang terpasang mencapai 64,5 GW dengan 85 % masih berasal dari pembangkit energi fosil. Kemudian pertumbuhan permintaan listrik, diproyeksikan mencapai 2.214 TWh (BaU), 1.918 TWh (PB), 1.626 TWh (RK) pada tahun 2050 atau naik hampir 9 kali lipat dari permintaan listrik tahun 2018 sebesar 254,6 TWh. Laju pertumbuhan permintaan listrik rata-rata pada ketiga skenario sebesar 7% (BaU), 6,5% (PB) dan 6,0% (RK) per tahun selama periode 2018 – 2050. Pertumbuhan permintaan listrik di Indonesia masih didominasi oleh sektor rumah tangga, sektor industri, dan sektor komersial. Dari tiga sektor tersebut peningkatan permintaan listrikĀ  dipengaruhi paling besar akibat penggunaan listrik pada pendingin ruangan dan lampu.

Melihat kondisi permintaan listik yang terus mengalami peningkatan serta ketersediaan pembangkit listrik yang masih didominasi dari energi fosil maka munculah beberapa inovasi teknologi diantaranya solar cell dan parabola solar lighting. Prinsip teknologi ini adalah memanfaatkan energi surya untuk menghasilkaan sumber energi listrik untuk teknologi solar cell dan menghasilkan pencahayaan alami pada interior bangunan untuk teknologi parabola solar lighting. Kedua teknologi ini akan mengandalkan ketersediaan energi surya sehingga membutuhkan wilayah yang menerima pancaran matahari sepanjang tahun.

Posisi matahari dan kedudukan wilayah di permukaan bumi memberikan pengaruh nyata terhadap ketersediaan energi surya. Indonesia yang berada dalam khatulistiwa mempunyai potensi energi surya yang cukup besar sepanjang tahunnya. Indonesia menerima radiasi yang tegak lurus dibandingkan wilayah negara lainya. Berdasarkan catatan outlook energi Indonesia potensi energi surya Indonesia pada saat ini mencapai 207,8 GWp. Tidak diragukan lagi bahwa energi surya adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang dihasilkan. Dengan kondisi ini maka memungkinkan untuk penerapan penggunaan teknologi solar cell dan parabola solar lighting.

Inovasi implementasi pemanfaatan energi surya terus diupayakan agar nilai investasi terjangkau. Penerapan solar cell saat ini telah diintegrasikan pada bangunan. Pemasanganya akan diintegrasikan di kulit terluar bangunan seperti fasede dan atap. Sehingga dengan adanya teknologi ini maka bangunan akan menghemat 30% – 40% dari keseluruhan energi listrik yang dibutuhkan. Kemudian untuk teknologi parabola solar lighting merupakan inovasi terbaru yang telah dikembangkan untuk layak diimplementasikan. Parabola solar lighting memiliki tingkat investasi yang terjangkau dimana teknologi ini membutuhkan peralatan yang sederhana karena tidak memerlukan konversi energi.

Berbagai upaya implementasi tenaga surya terus dikembangkan, namun belum optimal karena hanya terdapat tekad dari sektor pemerintah, namun dari sektor lain kesadaran penggunaan energi terbarukan khususnya tenaga surya masih rendah. Potensi tenaga surya yang cukup besar di Indonesia seharusnya menjadi momentum seluruh sektor untuk bersama memanfaatkanya demi mewujudkan Indonesia green energy.

Melihat hal tersebut maka diperlukan sebuah kebijakan yang mengharuskan penggunaan tenaga surya. Gagasan kebijakan ini untuk penggunaan tenaga surya pada bangunan industri, perkantoran, institusi pendidikan, dan pemerintah. Keempat sektor ini dirasa mampu untuk mengimplementasikan kebijakan ini karena ditinjau dari berbagai aspek khususnya aspek keungan untuk investasi implemantasi.



    KOMENTAR