Romantisnya Lalu Lintas Yogya dan Para Pahlawan Yang Terlupakan

Woy Mas Dap standarmu!”

Seorang pengendara motor beat hitam di belakang mengingatkan. Seketika saya langsung ngecek bagian onderdil spare part motor bagian bawah.


“Oh yo suwun mas dap. “

Benar saja ‘Jagang‘ motor saya belum kembali ke habitatnya. Masih ‘Njenthar‘ nyaris bersentuhan dengan aspal jalanan. Untung ada mas-mas baik di belakang. Apa yang akan terjadi seandainya standar motor itu ‘ngasruk’ benda-benda di aspal? Sekitar 70 % potensi nyungslep mungkin bisa terjadi. Inalillah..

Fenomena mengingatkan standar yang masih ‘njenthaar’ di jalan raya tentu tidak asing lagi bagi masyarakat indonesia, khususnya DIY dan sekitarnya. Fenomena saling mengingatkan seperti ini seperti sudah menjadi kesepakatan bersama antar pengendara motor.

Tradisi yang sudah turun-temurun di jalan raya seperti ini, tentu sangat bernilai kemanusiaan yang tinggi. Hal ini tentu sesaui ideologi bangsa indonesia, dimana menjadi manusia yang beradab adalah sebuah harapan dan cita-cita besar bagi manusia Indonesia. Bukankah ini salah satu contoh peradaban manusia?

Selain peristiwa diatas tentu masih banyak kejadian-kejadian ‘peri kemanusiaan’ di jalanan. Lantas apa saja fakta-fakta di jalan raya yang memiliki nilai-nilai kemanusian yang sesuai dengan kazanah ideologi Bangsa?

Berikut ini beberapa kenyataan di jalan raya yang memiliki nilai filosofis yang mungkin sangat baik untuk kelangsungan hidup manusia;

Pertama , Peristiwa Lampu Sein. Sebagai manusia tentu kita tidak lepas dari sifat lupa. Pada dasaranya sifat ini bisa hadir kapan saja dimana saja tanpa kompromi. Apalagi saat dimana kita sedang sibuk, tentu banyak hal yang kita lupakan.

Tak terkecuali saat berkendara di jalan raya. Saat kita belok kanan kiri, dimana saat itu juga kita harus menyalakan lampu sen, untuk memberi tanda bahwa kita akan melakukan atraksi belok kanan maupun kiri. Nah pasca belok kadang secara tidak sadar kita lupa belum mematikan lampu sen hingga berpuluh-puluh meter setelahnya

Bayangkan saja Misal ada motor di belakang kita mau menyalip melalui jalur samping kanan, kemudian lampu sein masih menyala di bagian kiri. Tentu pengendara di belakang akan mengira kalau kita memang mau belok kiri. Padahal disaat bersamaan kita juga akan menyalip motor di depan. Potensi kecelakaan sekitar 70%. Nauzubilah..

Untungnya, di jalanan sepanjang kota jogja ada saja orang baik yang selalu bersedia dengan ikhlas mengingatkan lampu sen kita.

Mas lampu Reteng-mu mas, mbok pateni wae, nyepeti!

“Lampu sein mu matikan saja mas, bikin rusak mata saja!”

Kita patut bersyukur hidup diantara orang-orang baik di Negeri ini. Selalu siap dan sigap untuk selalu mengingatkan sodaranya yang kadang khilaf tidak mematikan lampu sen. Inilah sejatinya nilai-nilai Pancasila hidup di sepanjang jalan kota Yogya.

Kedua, Fenomena Pengatur Lalu Lintas Tanpa Seragam. Bagi manusia yang tinggal di Yogya tentu tidak asing dengan mas-mas, bapak-bapak bahkan ibu-ibu dengan sukarela mengatur lalu lintas atau membantu menyebrangkan orang-orang yang ingin melakukan aktivitas penyebrangan. Orang orng baik ini hampir bisa di temui disetiap sudut kota romantis ini.

Lihat saja contohnya di sekitaran jalan sebelah utara kampus UIN Sunan Kalijaga, ada seorang yang masih relatif muda dengan bahagia ia mengatur lalu lintas (membantu menyebrangkan) sambil berjoget joget ala sobat ambyar dan menyanyikan beberapa lagu.

“Kartonyono…
Stop.. Stop! Ayo-ayo maju Gas tipis-tipis mas. Hati-hati ojo yak-yak an!”

Tentu fenomena ini sangat menetralisir riuhnya jalanan sepanjang yogya. Selain menghibur, mereka dengan suka rela menyelamatkan nyawa kita dari ancaman-ancaman kecelakaan yang bisa saja terjadi kapan saja.

Mereka pun tidak pernah memaksa seseorang untuk memberinya imbalan. Bahakan tak sedikit pengendara yang melewatkan begitu saja tanpa ucapan terimakasih. Toh para pahlawan jalanan ini tetap ikhlas dalam rangka berupaya menanamkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh pekerjaan mulia yang sering dilewatkan banyak orang.

Ketiga, Peran musisi jalanan di perempatan Bangjo. Lihatlah asap tebal membumbung tinggi di udara, rentetan peristiwa salip-menyalip kendaraan tak terhindarkan. Belum lagi kalau ada suara kenalpot blombongan yang aduhai menyebalkan. Huft sungguh suasana yang tidak menarik bagi insan yang sedang di landa rindu seorang kekasih.

Lagi lagi kita patut bersyukur dengan para pengamen yang biasanya stay tune di perempatan-pertigaan bangjo sepanjang jalan. Dengan cekatan para musisi jalanan ini dengan ikhlas menolong jiwa-jiwa kesepian dengan menghadirkan lagu-lagu hits di kalangan kawula muda.

“Kartonyono ning Ngawi medot janjimu… ” Tung tak tung tung jos-jos.

Seketika pikiran dan hati kita ‘Mak Pyar’ mendengarkan sentuhan irama-irama lagu dipadukan dengan alat musik ‘tung tak tung tung’ yang benar-benar terdengar ramah lingkungan.

Bayangan saja betapa kelamnya kehidupan di jalanan Yogya tanpa lagu dan musik-musik seperti ini. Sungguh penentram hati dan pikiran yang terkadang terlewatkan oleh bangsa sendiri.

Rentetan keindahan-keindahan sepanjang jalan yogya ini kadang tenggelam dari riuhnya suasana. Bahkan lensa kamera kadang hanya sibuk ‘memotret luka’ dan sering melewatkan moment-moment kegembiraan ini.

Terlepas dari segala ‘kekampretan‘ di jalanan yogya. Ini hanya sedikit contoh dari banyak kejadian yang mungkin patut kita beri apresiasi setinggi-tingginya. Bukankah sudah semestinya kita mengucapkan banyak Terimakasih kepada para pahlawan jalanan ini? Atau jangan-jangan setelah ini kita masih berdebat apakah orang-orang ini pantas disebut Pahlawan?

“Kok kebangeten men 
Sambat belas raono perhatian
Jelas kubutuh atimu 
Kubutuh awakmu
Kok kebangeten men.Tung Tak Tung Des!



    KOMENTAR