Kemana Perginya Hujan Wilayah Indonesia Selama Periode Musim Hujan 2019/2020?

Sudah memasuki bulan kedua awal tahun 2020, namun indikasi curah hujan masih belum menunjulan kegiatannya bahkan di kawasan yang masuk sebagai kawasan dengan 2 musim saat inipun juga menunjukan kondisi yang hampir sama dengan kondisi periode sebelumnya. Dimana curha hujan yang turun masih terbatas di kawasan tertentu dengan kondisi keseringan terbatas pada kawasan lokal di Jakarta dengan 5 kali kejadian hujan sangat lebat hingga ekstrim terjadi dan giat sejak awal tahun hingga tanggal 9 Februari 2020 atau genap selama 40 hari. Pada periode selama 40 hari kawasan jakarta termasuk Jabodertabek dan sekitarnya telah mengalami curah hujan yang terjadi ham,pir setiap hari dengan hari-hari terutup awan dengan hujan ringan hingga hujan ekstrim. Dan kondisi udara sejuk dengan suhu udara rendah/dingin telah dirasakan bagi yang tinggal di kawasan Jabodetabek selama lebih dari sebulan di awal tahun 2020. Dan kini suasana kondisi hujan yang semula turun telah berganti dengan udara cerah dan suhu lebih hangat dari kondisi sebelumnya terutaam di awal tahun. Kondisi yang demikian tidak berlangsung di kawasan lain di wilayah Indonesia secara menyeluruh bahkan kawasan yang seharusnya memasuki musim hujan terutama di wilayah Indonesia bagian Tengah hujan masih sulit bterjadi. Bukti dan dukungan lain dengan indikasi kurang hujan  atau curahan hujan di bawah kondisi normal atau reratanya dapat diperhatikan dari kejadian bencana hidrometeorologi basah yang kurang marak dan meluas. Bencana Hidrometeorologi basah ini terkait dengan kondisi lingkungan yang basah akibat kelebihan curahan hujan yang berlanjut banjir, banjir bandang, banjir lumpur dan tanah longsor yang giat di kawasan perbukitan atau pegunungan. Bencana hidrometeorologi basah yang terjadi terbatas pada kawasan tertentu P. Sumatera, P. Jawa, P. Bali dan P. Sulawesi pada lokasi tertentu yang terbatas. Sebagaimana kini hampir seluruh kawasan musim di Indonesia telah masuk dalam musim hujan, namun perkembangan curah hujan yang turun sangat terbatas dan belum mencerrminkan kondisi di atas 50 % kawasan Indonesia dan khususnya kawasan musim di Indonesia. Hitungan ini dihitung secara kasar berdasarkan pengamatan curah hujan yang dikur dari pengukuran stasiun pengamatan seluruh Indonesia dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)selama ini. Keseringan hujan lebih sering terjadi di wilayah Indonesia bagian Barat yang mulai marak di awal Februari dengan kawasan Indonesia bagian Tengah dan bagian Timur. Kini perkembangan sebaran curah hujan masih lokal hingga tidak merata di seluruh kawasan Indonesia yang merata namun untuk kawasan musim juga masih belum menunjukan indikasi musim hujan yang baik bagi kegiatan pertanian.

Situasi dan kondisi cuaca dan iklim kawasan Indonesia masih mengikuti pola saat musim hujan tahun 2019 lalu, hanya saja kini kawasan yang turun hujan lebih sedikit meluas namun kondisinya di bawah kondisi normal atau reratanya. Walau kini sebagian besar kawasan musim wilayah Indonesia yang berada di kawasan selatan ekuator dari Barat ke Timur dengan tiupan angin barat yang mantap dan meluas sejak awal bulan Februari 2020. Kondisi angin baratan yang umumnya giat dengan turunnya curah hujan di seluruh kawasan Indonesia yang masih sulit merupakan kondisi yang menyimpang dari kondisi normalnya. Dan sebagaimana selama musim hujan itu pengaruh gangguan cuaca yang dahulu sebelum tahun 1970 disebut dengan sumbu angin teduh (= tenang dan taka angin bertiup) atau istilah asingnya “doldrum” yang kemudian diterjemahkan sebagai daerah palung ekuator dan daerah konvergensi antar tropis (DKAT atau ITCZ) istilah setelah tahun 1980 hingga kini. Sepertinya gangguan cuaca ini tidak sepenuhnya giat di sepanjang daerah dari arah Barat hingga Timur wilayah Indonesia. Belum lahgi kegiatan gelombang tropis yang dikenal dengan Madden Julian Osilasi (MJO) yang membentuk cuaca buruk dan baik dengan siklus 30 – 40 hariannya sebagai bagian gangguan cuaca regional – global saat memasuki perairan kawasan Indonesia mengalami peluruhan kegiatannya. Sehingga gugusan badai tropis yang umumnya digiatkan oleh MJO tidak berkembang secara baik dan selama ini baru 3 badai tropis yang ada di kawasan Ausyralia Utara dan belum muncul sama sekali di perairan selatan wilayah Indonesia. Dimana secara total jumlah badai tropis yang umumnya giat saat garis edar semu matahari bergeser ke arah utara mulai akhir Desember hingga Maret. Namun dari data yang ada dari gambar liputan awan maupun pola aliran udara di lapisan bawah masih belum menunjukan kegiatan badai tropis yang umumnya marak dan meluas giat mulai Samudera India barat daya wilayah, selatan hingga tenggara wilayah Indonesia atau timur laut Australia. Situasi gambara global dan regional aliran udara ini dengan minimnya gangguan cuacanya, maka kegiatan cuaca yang umumnya giat masih belum menunjukan kegiatannya yang berarti. Dari pengembangan kondisi suhu muka air laut kawasan Indonesia sejak akhir tahun 2019 hingga kini di medio bulan Februari 2020 dengan kondisi suhu muka laut yang hangat yang memberi dukungan uap air dalam pembuatan awan dan hujan wilaayh Indonesia. Kondisi perkembanga suhu yang enggan menghangat dengan perkembangan kondisi simpangan suhu muka laut yang lebih tinggi dari rerata atau normal bulanannya, sepertinya tidak teralisir. Karena informasi dari Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat yang menyebut bahwa bumi masuk dalam periode dinginnya sejak tahun 2010 hingga satu siklus kegiatan matahari berikutnya (tahun 2032 mendatang). Dan tahun 2019 – 2020 kian minimum kegiatan matahari yang umumnya mempengaruhi pancaran radiasi yang minimum pula. Sepertinya kondisi periode pendinginan bumi yang mulai tahun 2010 hingga kini mungkin hal yang menyebabkan masalah kondisi suhu muka laut yang normal hingga rendah. Ataukah kondisi arus dalam laut yang telah mengubah kondisi dingin ? Ini mungkin saja terjadi dan perlunya pengamatan dan pncermatan atas kondisi dinamika dalam laut yang hingga kini belum diketahui dengan benar. Sebagai pengembangan ilmu meteorologi yang memasukan pengetahuan interaski laut – udara atau sebaliknya, kiranya situasui dan perkembangan sepertinya megharapkan untuk digunakan dalam menilai kondisi cuaca dan iklim yang seharusnya banyak hujan seiring dengan puncak musim hujan, namun berlaku malah berbalikan dengan kondisi kurang.


Adanya kecenderungan kondisi alam yang berlingkup global dan regional yang tidak mungkin dilakujkan oleh teknologi buatan manusia yang lebih berlingkup mikro hingga lokal. Situasi dan kondisi alami dengan kondisi yang sedikit di atas normal atau sama dengan rerata bahkan ada yang di bawah merupakan kondisi yang kurang mendukung turun hujan atau hujan datang. Seiring garis edar semu matahari yang kini akan memasuki lintang tempat wilayah Indonesia sekitar 10 derajat hingga 0 derajat Lintang Selatan, mungkinkah kondisi suhu muka laut akan naik dan menjadi hangat untuk menggiatkan gangguan cuaca dalam rangka pembuatan awan dan hujan yang marak. Kiranya kondisi ini sangat diharapkan agar hujan akan datang dalam masa mendatang di kawasan musim Indonesia di luar kawasan Jawa bagian Barat khususnya Jabodetabek. Semoga gangguan kondisi alam yang akan mendukung pembentukan awan dan hujan dengan pembentukan awan yang meluas dalam masa medatang sering garis edar semu yang bergeser ke arah utara ini. Yang jelas hujan marak dan meluas membutuhkan kondisi yang mendukung perkembangannya, bila kondisi perkembangan mendukungnya maka hujan akan datang dengan situasi kondisi peredaran udara yang mendukung perkembangannya.



    KOMENTAR