Valentine Day: Melati dari Kohati untuk Negeri

Aromanya harum, bentuknya indah, itulah bunga Melati.  Salah satu jenis bunga populer yang banyak dicari orang. Entah itu sebagai tanaman hias, untuk pernikahan, mengharumkan ruangan, atau untuk bahan baku kosmetik. Keindahan melati sudah tentu tidak dapat dibantahkan lagi. Secara fisik keindahannya dapat kita nikmati mulai dari mekar bunganya, elok bentuk tangkainya, ditambah dengan aromanya yang seakan membawa aura spiritual ke alam semesta.

Teruntuk kohati, Sesungguhnya tanpa adanya peringatan hari valentine pun kalian adalah perempuan dengan penuh kasih sayang. Melati yang kalian berikan bukanlah suatu ritus simbolik yang berdalih retoris untuk menunjukkan rasa kasih sayang, melainkan gerakan keperempuanan yang meletakkan bunga melati dalam lambangnya dengan arti “kasih sayang yang suci dan tulus”. Demikian melati dari kohati untuk negeri yang saya maksudkan. Maka filosofi melati dalam logo kohati itu hendaknya termanifestasikan dalam bentuk perkataan dan tindakan kohati sebagai wujud dari pada eksistensi kohati untuk negeri.


Bila ditinjau dari berbagai literatur tentang asal muasal dan latar belakang sejarah perayaan hari Valentine mungkin terdapat banyak versi. Tak ada yang pasti versi mana yang benar. Namun yang pasti hari Valentine kini telah menjadi gejala budaya yang mengglobal ke hampir seluruh penjuru dunia tak terkecuali di Indonesia. Maka eksistensi kohati menjadi salah satu hal yang sangat penting, karena ia menjadi “laboratorium hidup” dalam menghasilkan HMI-wati yang berkualitas menghadapi masa depan. Sedangkan, aktualisasinya menyatakan dalam tindakan nyata untuk mengadakan pembaharuan dan perbaikan dalam menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah. Akselerasinya adalah semangat dalam melakukan percepatan peran sosiologis dan politis yang ditunjukkan sebagai lembaga yang ikut mewarnai masa depan Indonesia.

Kita percaya bahwa kohati tidak akan terbawa oleh arus zaman. Meskipun Valentine identik dengan pemberian kartu ucapan, bingkisan kado, cokelat, bunga, Kencan, makan malam, hingga pesta hura-hura melengkapi perayaannya. Kohati tetaplah menebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama tanpa harus tertipu oleh bujuk rayu konsumerisme atas dalih “kasih sayang”. Ingatlah bahwa Kohati Sebagai lembaga perkaderan memiliki tujuan yang mulia, yakni “terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita.”

Terlepas daripada pro dan kontranya perayaan Valentine. Saya tidak akan menanyakan posisi kohati di pihak yang mana? Saya juga tidak akan klaim antara yang pro dan yang kontra. Prihal kasih sayang, Tentu kita semua tahu bahwa Tingkat kepedulian seorang perempuan didasari oleh kekuatan kasih  sayang, cinta, love, tresna, rahiim, atau apapun istilahnya. Maka sekali lagi saya tegaskan. Tidak peduli dengan statusnya yang jomblo atau pacaran, semua sama saja. Kohati jangan sampai terjebak kepada Peringatan hari Valentine yang hanya sebatas untuk menunjukkan rasa kasih sayang dengan ritual konsumerisme dan penyaluran hasrat (baca: seksual).

Tradisi valentine tidak boleh menjadikan Kohati budak cinta. Kohati adalah laboratorium perempuan untuk menempa diri dengan penuh kesadaran yang kemudian menghijrahkan diri dan mengenal fitrahnya sebagai perempuan. Hal ini senada dengan mars Kohati, “Wahai hmi-wati semua sadarlah kewajiban mulia, membina, pendidik tunas muda tiang negara jaya.” Perempuan dengan paras yang cantik adalah hal yang biasa, namun perempuan yang sadar akan peran perempuan adalah hal yang luar biasa. Perempuan-perempuan Islam yang menjadi tonggak panji Islam bukan saja memeperkokoh keimanan namun juga keilmuan.

Seperti yang dituliskan dalam buku “hmi-wati untuk negeri” Melati dari kohati untuk negeri juga merupakan motivasi untuk berjuang hmi-wati yang siap ditempah dan ditempatkan sebagai ujung tombak untuk mengantisipasi dan menjawab permasalahan-permasalahan mahasiswi dan perempuan pada umumnya. Kohati juga harus siap untuk menjadi seorang ibu yang membina anak-anak untuk generasi emas bagi agama dan negara. Menjadi ruang gerak muslimah-muslimah muda yang berpotensi secara kualitas dalam masyarakat. Karena perempuan itu bukan hanya di dapur, di sumur, di kamar, tapi juga bisa di kantor dan berkarir dengan mahir.

Pada akhirnya Valentine menurut saya tak ubahnya sebuah tradisi. Seperti yang dilansir dari laman wikipedia.org, Hingga kini budaya dan tradisi Valentine senantiasa terus berkembang. Walaupun banyak orang yang menilai bahwa hari Valentine bukanlah hari yang spesial, karena berbagi kasih sayang itu nggak cuma satu hari (saya pun juga setuju dengan hal ini). Setidaknya dengan perayaan Valentine kita kembali diingatkan agar kita selalu berbagi kasih sayang dan perhatian kepada sesama umat manusia termasuk bangsa dan negaranya. Demikin pula kohati. Jangan sampai kehilangan kasih sayangnya.



    KOMENTAR