Perempuan dan Kekerasan Seksual

Menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kekerasan seksual dapat diartikan sebagai suatu tindakan berdasarkan pembedaan berbasis gender yang berakibat atau akan berakibat kesengsaraan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman terjadinya perbuatan pemaksaan, atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruang publik maupun pribadi. Kekerasan seksual juga cukup beragam, seperti perkosaan, perdagangan manusia untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, intimidasi/serangan bernuansa seksual, kontrol seksual, pemaksaan aborsi & kehamilan, penghukuman tidak manusiawi & bernuasa seksual, serta pemaksaan perkawinan.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan kejahatan yang sangat memilukan ini, diantaranya adalah faktor internal dan faktor internal, dimana faktor internal ini berkaitan dengan kepribadian seseorang yang memiliki prilaku seks yang menyimpang. Adapun faktor eksternalnya meliputi, kebiasaan dari sesorang yang gemar mengkonsumsi film pornografi, pengaruh dari lingkungan sekitarnya, kurangnya pengawasan serta pendidikan seksual yang belum maksimal dilakukan oleh orang tua dan masih lemahnya penegakan hukum oleh pemerintah.

Kekerasan seksual tidak pandang bulu dan merupakan ancaman yang nyata bagi kebebasan dan kemerdekaan individu. Hal ini tentunya dapat dicegah dengan pengajaran dan pemahaman yang baik mengenai hal tersebut. Namun, pada kenyataannya pendidikan seksual masih dianggap sesuatu yang tabu dan sangat sedikit dibahas, baik di instansi pendidikan maupun dalam keluarga. Peran guru, orang tua, dan kerabat sangatlah penting dalam hal ini.

Baca Juga :   Tujuh Momen Ramadan Yang Paling Dinantikan

Terancamnya kebebasan individu dengan adanya kekerasan seksual juga dapat diperparah dengan sikap victim blaming atau menyalahkan korban. Banyak kasus kekerasan seksual yang malah dalam penyelesaiannya tidak memberikan keadilan yang penuh dan malah membuat korban semakin terpojokkan. Salah satu contohnya adalah pemerkosaan yang berujuang pembunuhan terhadap Yuyun. Ada sebagian orang yang malah menyalahkannya karena pulang sekolah sendirian, atau karena tidak menutup tubuhnya dengan hijab atau jilbab. Bahkan, ada pula pejabat publik yang melontarkan pernyataan serupa. Hal ini tentu harus disikapi dengan tegas, bahwa kekerasan seksual—apapun bentuknya—bukanlah kesalahan korban. Tidak pantas rasanya jika menambah derita korban yang seakan memberikan pembenaran terhadap perilaku yang dialakukan pelaku. Seperti contoh di atas, apakah seorang anak berusia 14 tahun, dalam perjalanan menuju rumah dari sekolah, dan masih mengenakan seragam sekolahnya membuat ia pantas menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan. (bandung. poerwandari dkk, 2000)

Adapun pemikiran aneh terhadap korban kekerasan seksual, terutama pemerkosaan seperti suatu kasus dinikahkannya pelaku dengan korban lalu dapat menjadikan cara tersebut sebagai jalan keluar dan membersihkan nama baik. Diamininya hal semacam itu tentu tak terlepas pula dari pemikiran yang memojokkan korban dan membuatnya seolah-olah kotor dan hina. Tentu kita tahu relasi kuasa yang timpang antara korban dan pelaku menjadikan pelaku memilki kendali lebih terhadap korban dan menjadikannya tidak berdaya. Bukan mau korban, hal tersebut bisa terjadi.

Baca Juga :   Perkembangan Kondisi Lingkungan Pemicu dan Bencana Hidrometeologi atau Alam di Indonesia

Seperti sebelumnya saya sudah menjelakan bahwa pencegahan kekersan seksual sangatlah penting. Selain pendidikan seksual yang memadai, dapat pula dilakukannya menanaman moral, akhlak, budi pekerti, dan pengajaran agama atau kepercayaan yang sesuai dapat membuat seseorang terhindar untuk melakukan kekerasan seksual. Latihan bela diri juga sangat membantu individu agar dapat menyelamatkan dirinya dari ancaman kekerasan seksual. Peran negara dan pemerintah selaku pemegang otoritas tertinggi juga sangat berpengaruh. Selain hukuman yang sesuai, pengajaran dan pelatihan juga sangat berguna bagi para pelaku kekerasan seksual agar lebih bisa memahami dan mengerti bahwa hal tersebut salah dan merugikan orang agar di kemudian hari tidak mengulangi kesalahannya dan semata bukan hanya karena jera atau takut terkena hukuman, tetapi juga paham secara mendalam mengenai perilakunya tersebut.

Baca Juga :   Masih Bingung Dengan Potensi Diri? Simak Ulasan Berikut Ini

Kekerasan seksual mungkin akan terus terjadi dalam bentuk apapun. Peran kita selain menjauhkan diri dari segala perbuatan itu juga dengan mengedukasi sesama menganai bahaya kekerasan seksual dan pentingnya pencegahannya. Tentu tidak dengan cara-cara yang malah memperparah keadaan, karena kekerasan seksual tidak lagi memandang apa yang dikenakan korban, atau dimana mereka berada, namun lebih kepada tidak terkontrolnya nafsu berahi dan pemahaman yang salah atau kurang tentang seksualitas.