Diskusi Ringan Keluarga Nelayan

Peristiwa malam itu bisa jadi malam terakhirnya berada di teras rumah. Seseorang datang menghampiri karno yang sedang menikmati angin malam. “Jika kamu ingin selamat, kamu dan keluarga harus segera pindah dari sini!” Karno diam tak berkutik dengan pistol di depan wajahnya.

Anak kelas 3 SMA dengan perawakan kurus dan hitam manis itu sempat terkejut terhadap tamu tidak di undang yang ada di hadapannya. “Apa maksud anda?” tanya Karno sambil menyembuyikan takutnya. “Ini perintah tuan besar.” lelaki dihadapnya menjawab dengan garang. “Dimana ayah mu?” pertanyaan berikutnya datang dari seseorang yang ada di sebelah kirinya. “Ayahku belum pulang.” Karno menjawab dengan penuh khawatir karena berusaha mengelabui. Mendengar jawaban dari karno, tamunya pergi tanpa meninggalkan jejak.

Dengan ekspresi wajah kedua alisnya yang mengkerut, ayah Karno yang sempat mendengarkan percakapan Karno dengan tamunya keluar dari kamar menghampiri karno yang sudah berada di ruang tamu. “Belum selesai satu masalah, ee ada tamu membawa musibah!” celotehnya geram.

Malam itu hujan rintik-rintik, angin laut membawa ombak hingga kebibir pantai. Tak jauh dari pantai, sebuah rumah yang cukup sederhana bercat warna hijau tinggalah karno bersama kedua orang tuanya. Dibalik perkampungan nelayan yang padat penduduknya terdengar dialog kecil kaum kusam yang sedang berkeluh kesah.

Disaksikan secangkir kopi yang baru saja di sedu oleh ibunya, karno bertanya kepada ayahnya. “Ayah, bagaimana ceritanya dulu Ayah dan Ibu bisa tinggal di pesisir pantai?” “Apa ayah  dan ibu tidak takut sunami?” tanya karno kepada ayahnya. “No, sunami itu rahasia Tuhan. Yang kita lakukan sekarang ini adalah ikhtiar untuk menentukan takdir dari Tuhan.”

“apa gunanya ikhtiar yah jika laut sudah tidak di indahkan.” Ibu Karno menyesalkan kehadiran limbah industri yang di buang ke laut. “tuan-tuan besar hanya memberi janji yang tak menjamin bukti. Bagi nelayan, laut adalah surganya, apakah mereka tidak cukup dengan istana dan segala kekuasannya.” Setelah merasa kesal, ibunya meninggalkan karno dan ayahnya untuk tidur.

Sambil menyeruput kopi yang ada dihadapannya, Karno kembali menanyakan pertanyaan yang tadi belum sempat di jawab oleh ayahnya. “Yah, bagaiman ceritanya ibu dan ayah dulu bisa tinggal di pesisir pantai?” Mulailah ayahnya bercerita kepada karno. “Jadi begini no, dulu sebenarnya ibu dan ayahmu tinggal di sebuah daerah yang tak jauh dari pasar induk, namun karena letak tampat tinggal ayah dianggap mengganggu pemandangan kota, maka ayah dan ibu di pindahkan ke pesisir pantai.” Jelas ayah karno dengan singkat.

“Lalu kenapa pesisir pantai yang menjadi pilihan?” Karno memotong pembicaraan ayahnya. “Mereka beralasan ayah dan penduduk yang lain akan lebih mudah mencari penghasilan dari laut, padahal pesisir pantai ini dulu masih hutan bakau. Niat mereka baik sih, kan karno tau sendiri bumi kita ini kaya baik dari sektor laut maupun darat.” Ayahnya menjelaskan.

Setelah merasa cuku menjawab pertanyaan anaknya, kini giliran ayahnya yang melemparkan pertanyaan kepada karno. “Kamu tahu no bahwa negara sedang tidak baik-baik saja?  “maksud ayah?” spontan karno meminta penjelasan. Kamu tahu bahwa hari ini nelayan mulai dijauhkan dari lautnya, petani kehilangan tanahnya? Apa kamu juga tidak melihat masyarakat yang sudah kehilangan pasarnya? Semua sudah dibutakan oleh uang karno. Pendidikan di komersilkan, demokrasi diperjual belikan, hingga kemerdekaan bangsa ikut digadaikan. Demikianlah yang terjadi hari ini!

Karno hanya diam. Diamnya menimbulkan sejuta pertanyaan. Tapi apalah daya karno yang hanya sebatas anak nelayan. Apa yang barusan ia dengarkan seakan tidak begitu dihiraukan. Maklum, karno masih butuh pengetahuan yang cukup untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya. “mungkin presiden kita sedang bercanda yah. Manapun seorang pemimpin mau menelakai bangsa dan negaranya sendiri.” Hahahaha karno tertawa mencoba menggoda ayahnya.

Setelah tertawa terbahak-bahak, karno teringat kejadian di terah rumahnya yang sempat membuat ia ketakutan. Ayah “apakah keberadaan kita disini menyusahkan tuan-tuan besar?” tanya karno kepada ayahnya yang semakin keritis dan penuh pensaaran. Ayahnya balik bertanya kepada karno, “kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya kembali sang ayah kepada karno. “Karena kita slalu dianggap penduduk liar tiap kali ada tuan-tuan besar datang kesini yah.” Ayahnya pun tersenyum kepada karno. “Karno, suatu saat kamu harus berani menanyakan langsung pertanyaanmu itu kepada mereka. Sebenarnya, kita atau justru mereka yang menyusahkan?” Sudahlah, ini sudah larut malam mari kita tidur. Demikian kalimat penutup diskusi dari ayahnya kepada karno.

Bersambung…