Khatib Jumat, Motivator yang Belum Berfungsi Optimal

Di Indonesia sempat ngetrend kegiatan ceramah motivasi yang berhasil mendongkrak popularitas beberapa motivator papan atas. Ada Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, Jamil Azzaini, Ippho Santosa dan lain-lain. Mario Teguh bahkan sempat punya acara sendiri di salah satu stasiun TV nasional dengan label Mario Teguh Golden Ways.

Bila menyimak suasana ceramah motivasi yang acapkali terasa hening dan syahdu, karena begitu menyentuhnya kata-kata yang disampaikan sang motivator, mengingatkan pada ceramah yang setiap pekan bisa kita dengarkan, yakni khutbah Jumat.

Di luar persoalan ritual ibadah, secara substansial sebenarnya tak ada perbedaan mendasar dari khutbah Jumat dengan ceramah motivasi. Isinya sama-sama bertujuan memotivasi pendengarnya, bedanya hanya untuk apa motivasi itu dibangkitkan.

Ceramah motivasi ada yang memiliki tujuan khusus seperti meningkatkan kinerja, menaikkan omzet penjualan, meraih prestasi setinggi mungkin, ada pula yang bertujuan umum agar bisa memanfaatkan kesempatan dalam hidup ini seoptimal mungkin dengan penuh gairah dan semangat tinggi.

Khutbah Jumat salah satu rukunnya adalah mengajak jamaah shalat Jumat untuk bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga semestinya yang dilakukan khatib tidak ada bedanya dengan seorang motivator. Khatib sudah seharusnya membangkitkan motivasi jamaah agar tergerak hatinya untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, yakni semaksimal mungkin melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan sejauh mungkin apa yang dilarang-Nya.

Jamaah yang termotivasi untuk meningkatkan ketakwaannya akan meningkat motivasi belajar dan minat membacanya. Karena perlu banyak pengetahuan tentang apa yang diperintahkan Allah SWT kepada manusia dan apa yang dilarang-Nya.

Namun bisa dilihat, kedua situasi tersebut memunculkan setidaknya tiga perbedaan yang menyolok. Suasana ceramah motivasi diwarnai dengan antusiasme peserta untuk mengikuti, bahkan mereka rela walau harus membayar mahal. Saat ceramah motivasi berlangsung, mereka dengan tekun dan cermat akan menyimak apa yang disampaikan motivator.

Bandingkan dengan suasana shalat Jumat. Banyak yang berangkat dengan perasaan terpaksa sehingga tak sedikit yang sengaja datang terlambat, saat khutbah sudah mau selesai. Tak semua jamaah menyiapkan uang untuk mengisi kotak amal, kalaupun menyiapkan mungkin sekadar uang recehan. Hampir mustahil menyiapkan lembaran uang bergambar Proklamator RI, apalagi menyiapkan lebih dari selembar. Dan apa yang terjadi saat khutbah disampaikan? Kalau tidak mengantuk jamaah banyak yang malah mengobrol sendiri, baik secara offline maupun online.

Situasi khutbah Jumat semacam ini tentunya menjadi bahan introspeksi para khatib. Sudah terpenuhikah kewajiban seorang khatib sekadar membaca naskah khutbah. Tidak adakah tanggung jawab seorang khatib untuk membuat khutbahnya mempunyai daya tarik bagi jamaah sehingga bisa memotivasi untuk meningkatkan ketakwaannya?

Selama setahun 52 kali umat Islam mendengarkan ceramah motivasi dalam bentuk khutbah Jumat. Apakah sudah banyak yang termotivasi untuk meningkatkan ketakwaannya? Jika belum maka itu merupakan indikasi nyata, banyak khatib yang belum optimal memfungsikan dirinya, menjadi seorang motivator, untuk meningkatkan ketakwaan jamaah.

Bagi yang sering menjadi khatib Jumat, mudah-mudahan bisa tergugah untuk memperbaiki caranya berkhutbah. Bagi jamaah Jumat, tulisan ini mudah-mudahan juga berguna dalam menata diri sebelum berangkat shalat Jumat. Semoga.

#OPINI