Berfilsafat Bagaikan Layla dan Qais

Layla dan Qais (Majnun) merupakan cerita yang sangat terkenal yang ditulis oleh Nizami Ganjavi yang menceritakan tentang penafsiran para sufi tentang makna sebuah cinta. Cinta yang dimaksudkan di dalamnya sebenarnya ialah cinta kepada Allah, yang digambarkan dalam bentuk cintanya dua orang manusia. Tujuannya adalah supaya mudah diterima dan dipahami oleh semua orang, namun jikalau penafsiran ini digunakan untuk mencintai sesame manusia juga tidak ada salahnya. Mengutip kata Ibnu Arabi “Sesungguhnya cinta tulus antarmanusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintaiNya dan limpahan anugerah dan kemurahanNya.” Maka bisa dikatakan jika cinta terhadap manusia itu adalah pembuka untuk cinta kepada Allah.

Layla dan Qais mengajari kita untuk tidak hanya ketulusan dalam mencintai tetapi juga mengilhami sebuah perasaan. Mencintai tidak hanya kepada lawan jenis, mencintai bisa kepada siapa saja seperti; kepada kedua orang tua, saudara, keluarga, sahabat, teman dan mencintai sesame makhluk yang diciptakanNya. Sebab mencintai, mempunyai sifat yang universal. Dengan catatan, kita tahu batasan-batasannya (mencintai). Kita juga bisa mencitai suatu masalah, mencintai dibenci atasan, mencintai diejek oleh teman, atau mencintai sesuatu yang tidak diizinkan dicintai. Seperti contohnya Layla dan Qais, hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua Layla. Tapi dengan segenap hati dan kerelaan dari Qais, semakin dilarang cinta itu semakin tumbuh dan semakin menjadi. Qais lebih dikenal dengan sebutan Majnun karena ia dianggap gila, sebab kecintaannya yang berlebihan pada Layla.


Pelajaran yang ingin disampaikan dari Layla dan Qais ini bukan hanya pada objeknya, namun lebih kepada rasanya atau ilnessnya, jika seseorang sudah dilanda cinta itu sudah lupa dengan semuanya maka jika kita sudah cinta kepada Allah rasanya semua yang lain tidak berarti. Cinta dua pasangan ini seperti itu, yang lain sudah tidak digubrisnya, mereka hanya fokus pada apa yang mereka inginkan apa yang mereka cintai. Seperti cerita yang juga popular berikut ini, suatu hari Qais bertemu dengan anjing Layla sedang berjalanan lewat depannya Qais. Kemudian Qais mengikutnya ia pikir kalau mengikuti anjing Layla ia bisa bertemu dengan Layla. Waktu sekelompok orang kampung sedang shalat, tapi Qais tidak memperhatikan mereka karena ia fokus kepada anjingnya si Layla. Setelah itu Qais pulang melewati masjid yang tadi dilewatinya, lalu ia ditegur oleh orang “Hai Qais tadi kamu melewati kami yang sedang shalat, mengapa kamu gak ikut shalat, kok kamu lihat kami shalat kamu lewati saja?” tanyanya. Jawab Qais “Demi Allah, saat kalian shalat berjamaah aku sama sekali tidak melihat kalian, karena hatinya hanya fokus pada anjing dan yang dia cintai Layla, siapa tahu anjing itu bisa mempertemukanku dengan Layla. Bila kalian benar-benar cinta kepada Allah sebagaimana diriku cinta pada Layla pasti kalian tidak melihat aku” jawab Qais. Sebenarnya ini adalah sindiran dari Qais untuk mereka yang tidak bisa benar-benar cinta pada apa yang mereka sembah (Allah).

Selain itu hikmah yang dapat diambil dari Layla dan Qais adalah ketika dirumah Layla diadakan pesta semua warga desa diundang, Qais yang tidak diundang akhirnya menyusup masuk rumah ketika sampai didalam ia melihat antrian panjang, akhirnya dia juga ikut antri. Ternyata yang membagikan makanan antrian itu Layla. Waktu pas Qais dapat giliran Layla justru tidak memberi Qais makanan malah piring Qais dibanting sampai pecah Layla. Orang-orang yang melihat kejadian itu tertawa, orang tua Layla pun bersyukur karena akhirnya anaknya sadar. Namun Qais malah ikit tertawa, lalu ada yang bertanya “Kok kamu malah tersenyum? Kamu kan habis dipermalukan didepan semua warga kampung.” Lalu Qais menjawab “Kapan saya dipermalukan?” “Tadi waktu Layla memecahkan piringmu.” jawab orang itu. kemudian Qais menjawab “Oh, ndak begitu, kalian salah paham. Layla itu memecahkan piringku tujuannya hanya agar aku ikut antri lagi. Kalau aku antri lagi, tandanya kita bisa bertemu dan saling memandang lebih lama.”

Hal tersebut sebenarnya juga sindiran, ketika Allah memberi kita susah, ujian, dan kesulitan. Tandanya Allah ingin kita berlama-lama menghadapNya, Allah ingin berduaan dengan kita, Allah sedang rindu mendengarkan suara kita. Sebab cinta Layla dan Qais adalah pengejewantahan dari cinta kepadaNya.

Berfilsafat tentang cinta seperti Layla dan Qais adalah suatu representasi, untuk kita belajar lebih mendalam, dalam mencintai Allah.



    KOMENTAR