Corona Adalah Musuh Bersama Yang Harus Dilawan Dengan Kesadaran dan Cara Hidup Baru

Rancah.com – Pada awal Maret, dua warga Depok, Jawa Barat dinyatakan positif covid-19 adalah kisah awal bagaimana covid-19 masuk dan menyerang Indonesia. Untuk mencegah sekaligus melawan corona, pemerintah pun mulai membuat beragam kebijakan. Selain itu, berbagai tagar menghiasi dunia maya. Semisal, #dirumahaja, #lawancoronamusuhbersama, #jagajarak, #cucitangan, dan #maskeruntuksemua.

Masuk bulan Mei, tagar-tagar yang bagus itu, perlahan melemah. Bahkan hilang. Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba muncul ajakan yang lain sekali yakni berdamai dengan corona. Ajakan ini malah disutradarai oleh Presiden Jokowi. Ia mengatakan dengan penuh ketegasan agar kita semua harus hidup berdampingan dan berdamai dengan corona dengan cara hidup yang baru. Alasanya didasari pada informasi yang diterima dari WHO yang menegaskan bahwa virus corona tidak akan hilang meski angka positif mengalami penurunan (rancah.com, 16/05/2020).

Pernyataan yang sama juga disampaikan lagi oleh Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo. Menurutnya, kemungkinan besar kita akan hidup selamanya bersama corona. Sebab hingga saat ini belum ada vaksinya. Kapan berakhirnya virus ini juga belum diketahui secara pasti. Atas dasar itulah, masyarakat harus siap hidup dengan keadaan yang serba baru (rancah.com, 18/05/2020).

Sebenarnya dua pernyataan di atas maksudnya cuman satu yakni mengajak masyarakat harus mampu hidup berdampingan bersama corona dengan cara hidup yang baru. Apa maksud beserta dampak dibalik pernyataan itulah yang akan saya ulas.

Presiden adalah simbol kekuatan negara. Itu berarti setiap ungkapan atau ajakan yang berasal dari mulut Presiden selalu memiliki daya yang luar biasa untuk memengaruhi cara pandang dan perilaku masyarakat. Apalagi ajakan ini diperhadapakan dengan masyarakat yang memiliki latar pendidikan dan cara pikir yang beragam-sudah pasti memiliki dampak yang sangat besar. Bisa jadi ada masyarakat yang mengartikan damai sebagai ajakan menerima covid-19 sebagai bagian dari hidup yang tak perlu dipedulikan lagi ancamannya yang mematikan itu. Alhasil, kebiasaan untuk cuci tangan, jaga jarak, pakai masker, dan taat pada protokol kesehatan bisa juga didamaikan saja. Akibat buruknya adalah gaya hidupun kembali ke semula dengan segala somborononya.

Padahal, kita semua tahu bahwa covid-19 masuk kategori jahat. Itu artinya jelas, yang jahat harus dilawan tanpa henti. Namun fakta justru berkata lain. Kita dihadapkan dengan ajakan yang mengandung multi tafsir dan bisa saja keliru. Di satu sisi, pemerintah mengajak untuk berdamai. Sedangkan sisi yag lain pemerintah juga mengajak untuk hidup secara baru. Ajakan yang saling berseberangan. Jadinya lucu, sebab yang jahat diajak untuk berdamai. Karenannya, ajakan berdamai dengan corona  adalah semacam kiasan indah yang ampuh untuk mengelabui realitas penglegitemasian terhadap kelemahan dan kekalahan pemerintah dalam melawan covid-19 itu sendiri. Sangatlah miris, disaat hidup kita sedang dalam ancaman covid-19-lalu saat yang sama kita justru diajak untuk berdamai.

Ubah Ajakan

Setiap ungkapan memiliki makna. Semisal, kata ‘berdamai’ bisa memiliki makna jika ada kata ‘melawan’ atau kata ‘kaya’ bisa memiliki makna jika ada kata ‘miskin’. Selanjutnya, sebuah ungkapan akan semakin bemakna dan memengaruhi publik, jika diungkapkan oleh orang-orang yang memiliki jabatan.

Aturan boleh berlapis-lapis, namun jikalu sejak awal peletakan ungkapan sudah keliru, maka harapan agar masyarakat menaati aturan dengan hidup secara baru hanyalah mimpi. Bahkan sangat berpeluang untuk menghancurkan semangat juang para tenaga medis khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Oleh karena itu, ungkapan atau ajakan Jokowi untuk berdamai harus diubah menjadi lawan covid-19 dengan cara hidup yang baru. Mengapa? Ya, seperti sudah saya jelaskan di atas bahwa berhadapan dengan yang jahat (covid-19) hanya sepadan dengan kata lawan. Sebab saya amat yakin, ketika seorang pemimpin meletakan cara pandang yang benar, maka akan memiliki daya positif untuk memengaruhi masyarakat baik dalam berpikir maupun bertindak.

Pada akhirnya, saya dan Anda sekalian pasti memiliki keyakinan yang sama bahwa ajakan Presiden Jokowi berorientasi pada keselamatan nyawa rakyatnya. Baegitupun tulisan ini adalah ungkapan kecintaan saya terhadap sesama yang lain. Walau begitu, seorang pemimpin tetaplah berhati-hati dalam memberi statetman. Sebab sepotong kata yang keluar dari mulut Presiden sungguh memiliki kekuatan dahsyat dalam memengaruhi masyarakat. Karenannya, dalam situasi yang diselimuti rasa cemas yang besar ini, kekuatan kata seorang pemimpin melalui ungkapan atau ajakan yang sepadan, tidak berbelit-belit dan gampang dimengerti sangatlah penting dan dirindukan.

Mari lawan corona sebagai musuh bersama tanpa henti dengan menghidupkan, gaungkan dan praktekan kembali tagar-tagar humanis; #dirumahaja, #jagajarak, #pakaimasker, #cucitangan, #taatprotokolkesehatan dan #jagakebersihanlingkungan. Sebab tagar-tagar ini adalah cara hidup baru yang akan menjadi kekuatan kita untuk bisa melawan corona. Sebab obat mujarab yang tak perlu diacari untuk mengalahkan corona hanyalah dengan membudayakan cara-cara hidup yang baru itu secara berkelanjutan.