Korupsi dalam Bidikan Puisi Mbeling

Sumber ilustrasi: Kabardaerah.com

Rancah.com – Menurut Remy Sylado, dalam bahasa Jawa, kata mbeling berarti nakal atau suka memberontak terhadap kemapanan dengan cara-cara yang menarik perhatian. Namun berbeda dengan kata urakan, yang dalam bahasa Jawa lebih dekat dengan sikap kurang ajar dan asal beda, kata mbeling mengandung unsur kecerdasan serta tanggung jawab pribadi (Puisi Mbeling Remy Sylado, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2004, hlm. xi).

Sapardi Djoko Damono (Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 94), mengatakan bahwa ciri utama puisi mbeling adalah kelakar. Di samping itu, di dalam puisi mbeling terdapat kritik sosial yang memuat ejekan. Ini diwujudkan dengan memanfaatkan kata-kata, arti, bunyi, dan tipografi.

Memiliki Gagasan

Dalam wawancara dengan Remy Sylado pada 19 Mei 2004, editor Puisi Mbeling Remy Sylado, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2004, hlm. xiii), menyatakan bahwa apa yang hendak didobrak oleh gerakan puisi mbeling adalah pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur dan dipilih-pilih sesuai dengan estetika yang baku.

Pandangan ini menurut gerakan puisi mbeling hanya akan menyebabkan kaum muda takut berkreasi secara bebas. Bagi gerakan puisi mbeling, yang namanya diambil dari nama rubrik “Puisi Mbeling” di majalah Aktuil, bahasa puisi dapat saja diambil dari ungkapan sehari-hari, bahkan yang dianggap jorok sekalipun. Yang penting adalah puisi yang tercipta dapat menggugah kesadaran masyarakat atau tidak, berfaedah bagi masyarakat atau tidak. Pendek kata, dalam kamus gerakan puisi mbeling tidak ada istilah major art dan minor art.

Secara tegas Remy mengatakan bahwa puisi adalah pernyataan akan apa adanya. Jika puisi adalah apa adanya, maka dengan begitu terjemahan mentalnya, hendaknya diartikan bahwa tanggung jawab moral seorang seniman ialah bagaimana ia memandang semua kehidupan dalam diri dan luar lingkungannya secara menyeluruh, lugu, dan apa adanya. … Tapi tanggung jawab (penyair) yang pertama adalah bahwa sebagai seniman dia harus memiliki gagasan (Sapardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 96).

Baca Juga :   “New Normal“ dalam Ruang Inovasi Daerah

Puisi mbeling adalah sebuah genre puisi dalam sastra Indonesia yang dipelopori oleh Remy Sylado. Ketokohan Remy Sylado dan pengaruhnya dalam sastra Indonesia tidak dapat dingkari. Ia termasuk salah satu sastrawan yang memberikan pengaruh dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia (33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Jamal D. Rahman, dkk., Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014, hlm. 573 – 585)).

Dengan puisi mbeling, saya bebas bersenda gurau, tertawa, tersenyum, mengkritik, menyindir, mengejek, atau bahkan menertawakan diri sendiri. Dengan style kocak dan koplak, puisi mbeling meledek, namun tidak melukai. Saya tidak perlu mengernyitkan kening dengan susah payah untuk merasa plong, katarsis, atau mendapatkan pencerahan.

Dirundung Korupsi

Berita-berita korupsi yang menghiasi halaman media mainstreem surat kabar dan majalah dan disiarkan secara spektakuler di televisi, mencuri perhatian saya. Berita koruptor yang tertangkap oleh Komisi Pembeantasan Korupsi (KPK) yang disebarluaskan oleh media sosial Facebook dan Twitter, juga menyita perhatian saya. Dari hari ke hari negeri ini dirundung korupsi. Ini kemudian saya olah menjadi puisi mbeling seperti berikut ini.

Baca Juga :   Antara Beradaptasi dan Cari Muka

HIKAYAT JENDERAL KORUPTOR

Tersebutlah di dalam hikayat ini
Seorang jenderal berbintang dua
Tentu dengan sangat gagah berani
Lalu kalap menilap uang negara

Padahal dia seorang perwira tinggi
Yang tentu kayak untuk dihormati
Serta tentu layak pula jadi teladan
Bagi mereka yang menjadi bawahan

Akan tetapi tabiat sang jenderal
Memang sungguh tidak bermoral
Karena wataknya bagaikan kadal
Kelakuannya juga terlihat kumal

Ratusan miliar rupiah telah dijarah
Tanpa sedikit pun merasa bersalah
Karena semua dibuat seolah lumrah
Meski nilainya sangat melimpah ruah

Ia bersekongkol dengan pengusaha
Menggunakan cara atau modus lama
Melipatgandakan nilai atau harganya
Hingga untung segunung diperolehnya

Dengan jimat kekuasaan yang dipegang
Ia mencuri tanpa sedikit pun rasa bimbang
Ia ramnpok uang negara berdasar wewenang
Seperti harimau yang terlepas dari kandang

Kekayaannya tentu tak sebanding dengan gaji
Diperolehnya sejak menjadi perwira pertama
Meski dikumpulkan bertahun-tahun lamanya
Hingga ia kini menjadi seorang perwira tinggi

Agar kekayaannya tak mudah diketahui
Maka kekayaannya itu harus dicuci
Untuk itu ia kemudian menikah lagi
Memalsukan nama dan umur ia jalani

Istri mudanya memang benar-benar muda
Ia mantan ratu kecantikan di sebuah kota
Diberikannya rumah mewah bagaikan istana
Yang tentunya terserak di mana-mana

Baca Juga :   Rayakan Idulfitri di Tengah Pandemi, Halalbihalal Virtual Jadi Solusi

Istri mudanya yang lain juga berumah megah
Di samping itu tentu juga bermobil mewah
Hartanya tersebar di mana-mana melimpah
Pasti membuat semua orang jadi terperangah

Selain diatasnamakan istri-istri mudanya
Kekayaan hasil korupsi dari uang negara
Yang nilainyai tentu sangat tiada terkira
Juga diatasnamakan saudara dan mertua

Hasil korupsi uang negara kemudian dicucinya
Hingga dengan cepat telah berubah bentuknya
Menjadi pom bensin, tanah, perkebunan, sawah
Perusahaan pengangkutan dan tentu saja rumah

Namun, semua cerita tentu saja ada akhirnya
Atau semua hikayat tentu saja akan tamat
Sang jenderal koruptor tertangkap aparat
Kini mendekam di balik terali besi berkarat

Demikianlah hikayat jenderal koruptor
Bergelimang dengan perbuatan kotor
Semua kekayaannya telah disita negara
Dimiskinkan kembali seperti sedia kala

Cibinong, 2 Januari 2014

Negeri ini akan hancur bukan karena musuh dari luar yang menyerang kedaulatan Republik ini. Akan tetapi, karena setiap orang sudah abai terhadap perilaku korup. Padahal, ahlak, mental, dan karakter buruk bernama korupsi dapat meruntuhkan negeri ini.

Kita berharap mudah-mudahan perilaku korupsi dapat terkikis layaknya kita menghadapi bahaya laten. Setiap warga negara harus merasa memiliki negeri ini dengan bersikap emoh berbuat korupsi. Semoga.

Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta.