Menulis Buku Tidak untuk Dibagikan Cuma-cuma, Kenapa?

Saya menulis buku. Saya menjualnya secara online. Ternyata laku. Saya juga menjualnya secara offline. Juga laku. Jadi penulis buku di era sekarang juga harus sanggup menjadi penjual buku. Tidak boleh ongkang-angkang kaki. Tak bisa cuma menjadi penunggu.

Ini tentu berbeda jika buku yang kita tulis diterbitkan oleh orang lain atau penerbit mayor. Kita tinggal duduk-duduk saja. Enam bulan atau setahun kemudian mendapat kabar jumlah buku yang terjual. Kita mendapat royalti 7,5 persen hingga 15 persen dari jumlah buku yang terjual dikalikan harga buku. Ini tergantung perjanjian yang kita sepakati di atas kertas segel bermeterai.

Sulit Laku dan Dimakan Rayap

“Setelah jualan buku pribadi sulit laku dan banyak pemesan yang tidak jadi, sekarang saya memutuskan jualan buku karya orang,” tulis Rey Han dalam status di beranda akun Facebooknya, 2 April 2017.

Setahu saya Rey Han telah menghasilkan tiga buku kumpulan puisi yang diterbitkan secara indie. Berharap agar buku yang dijual secara online dapat laku keras bak jualan combro atau misro, itu boleh-boleh saja. Akan tetapi, kenyataan berkata lain.

Saya tak kaget. Menjual buku karya sendiri itu sulit. Berbisnis tulisan di negeri ini sungguh melelahkan. Akan tetapi, kenapa harus mengeluh? Bukankah bisnis buku adalah pergulatan hidup-mati antara idealisme dan ekonomi?

Buku kumpulan puisi karya penyair terkenal dan diterbitkan penerbit mayor saja terpuruk di toko buku top Gramedia di kawasan Matraman di Jakarta Timur. Pengunjung toko buku tak meliriknya. Apalagi buku kumpulan puisi yang ditulis oleh penyair dadakan dan belum terkenal. Tentu lebih menyedihkan.

Baca Juga :   Peran Bu Nyai di Kancah Publik

Sementara itu, kenangan yang dibagikan Fitrah Ilhami mungkin lebih ironis lagi “Buku cepat habis …. Dimakan rayap!” Tulisnya. Ini merupakan kenangan atas statusnya yang diunggah di Facebook pada 15 Maret 2015. Ilustrasinya berupa foto buku-buku karyanya. Bukunya habis bukan karena terjual, tetapi karena dimakan rayap.

Itu bukan masalah yang dapat membuat patah arang bagi penulis sejati. Maju terus pantang mundur. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Ever onward never retreat. Sekali lagi, bukankah berdagang buku karya sendiri itu merupakan sebuah perjuangan yang tak pernah selesai?

Menulis Buku Adalah Investasi

Menulis buku itu merupakan investasi di duna. Ini memerlukan dana yang tidak kecil. Pertama, modal berupa alat untuk menulis. Alat-alat yang diperlukan, seperti komputer atau laptop dan hape, harus dimiliki. Untuk mengoperasikannya diperlukan dana untuk membayar langganan internet dan pulsa untuk hape. Pada saat bekerja, penulis harus ditemani kopi atau teh hangat plus cemilan kesukaannya.

Kedua, modal berupa buku sebagai bahan referensi. Baik menulis buku fiksi sebagai ekspresi menulis kreatif maupun menulis buku nonfiksi sebagai ekspresi menulis akademik, memerlukan buku-buku bacaan untuk memperkaya dan memperluas wawasan. Puluhan buku dibeli. Layaknya mahasiswa yang tengah menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, penulis buku juga harus membaca buku-buku yang terkait dengan tema atau topik buku yang digarap.

Selain modal yang harus dibeli, menulis buku juga memerlukan modal yang paling utama dan paling penting, yaitu modal otak dan hati. Dengan memberdayakan otak dan hati secara maksimal penulis buku mengkristalisasikan, mentriangualisasikan, dan mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan pengalamannya ke dalam lembaran kertas yang kemudian menjadi buku.

Baca Juga :   Mati Suri Ormawa Kampus

Di samping investasi di dunia, menulis buku juga merupakan investasi di akhirat. Penulis buku akan memperoleh pahala yang selalu mengalir kepadanya di akhirat nanti meskipun ia telah tiada. Ini kalau bukunya bermanfaat bagi upaya untuk meninggikan harkat, martabat, dan derajat manusia dan kemanusiaan.

Karena menulis buku merupakan investasi di dunia dan di akhirat, menulis buku layaknya mengusung nilai ekonomi dan nilai idealisme. Dalam konteks nilai ekonomi, penulis buku berharap agar bukunya terjual, sehingga dapat menambah penghasilan. Dalam konteks nilai idealisme, penulis buku berharap agar bukunya memberikan kemanfaatan bagi umat manusia.

Terkenal dan Tidak Terkenal

Pada era sekarang tidak hanya orang terkenal yang menulis buku. Tidak hanya orang yang telah menjadi tokoh atau publik figur, seperti selebritas, politikus, artis, olahragawan, pengusaha, dan wiraswastawan, yang menulis buku. Mereka menulis buku itu sesuatu yang biasa.

Akan tetapi, jika orang tidak terkenal menulis buku adalah sesuatu yang luar biasa. Orang biasa yang bukan tokoh atau publik figur, seperti penjual mie ayam, buruh pabrik, atau tukang becak, juga menulis buku.

Bambang Trim, sosok yang berkecimpung di bidang perbukuan mengatakan bahwa orang terkenal maupun orang tidak terkenal sama-sama merasa harus menulis buku karena buku meniscayakan sosok dan segala perjuangan maupun pemikiran mereka mencuat ke permukaan dan tetap hidup sepanjang masa. Jadi, salah satu pilihan hidup yang penting bagi seorang manusia adalah apakah ia menulis buku atau tidak menulis buku.

Baca Juga :   Bansos COVID-19 Tidak Tepat Sasaran

Tidak Ada yang Gratis

Semua keperluan hidup ini kita penuhi dengan membayar. Asupan jasmani dan rohani kita peroleh setelah kita mengeluarkan uang. Tak ada yang gratis kecuali udara yang kita hirup.

Demikian halnya dengan buku. Jika kita ingin memiliki buku, layaknya kita harus membelinya. Tidak elok jika kita ingin punya buku yang kita idamkan dengan cara-cara gratis. Jer basuki mowo beo. Jika kita menginginkan kebahagiaan, kita layaknya juga perlu mengeluarkan biaya.

Saya teringat anekdot yang pernah disampaikan Gus Dur terkait dengan buku ini. Jika tak mendapat buku gratis, layaknya meminjam buku juga boleh. Setelah itu, tak usah dikembalikan. Mereka sangat kukuh mengamalkan ajaran Gus Dur.

“Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang lain. Akan tetapi orang yang mengembalikan buku pinjaman adalah orang gila.” Tentu saja Gus Dur bercanda. Karena, selain piawai bermanuver, masyarakat juga tahu bahwa Gus Dur itu seorang yang humoris.

Orang menulis buku tidak untuk dibagikan kepada orang lain secara cuma-cuma. Segala usaha, modal, dan spirit yang dimanifestasikan dalam bentuk buku selayaknya kita hargai. Buku yang telah dilahirkan oleh seorang penulis tidak untuk diberikan secara gratis. Namun, layaknya harus dibeli.

________________

*) Syukur Budiardjo, Penulis dan Pensiunan Guru ASN di Provinsi DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta.