Bertani Kreatif Dengan Tanaman Berkelanjutan, Jangan Terpaku Satu Tanaman Saja

Ilustrasi tanaman cabe tumpangsari jagung

Rancah.com –  Menanam palawija oleh sebagian petani di Indonesia banyak yang dilirik sebelah mata. Mungkin karena beberapa alasan. Salah satunya, tidak terasa langsung memenuhi kebutuhan utama sebagai bahan pangan sehari-hari.

Sebaliknya, pada umumnya para petani lebih memilih menanam padi, misalnya, ya karena dapat dirasakan langsung merupakan tanaman yang digunakan sebagai makanan pokok sehari-hari sebagian besar penduduk Indonesia selama ini.

Padahal menanam padi dengan gaya konvensional banyak mengalami kendala dan melalui tahapan yang panjang. Sehingga menuntut modal yang besar, untuk menanam luas lahan sekitar satu hekter tidak kurang dari 8-10 juta rupiah investasi yang disediakan untuk penanaman padi pada lahan luasan tersebut.

Sehubungan itu, mari kita mencoba melakukan modifikasi dan formulasi pola penanaman tanaman yang tidak terkonsentrasi pada tanaman bahan makanan pokok saja, seperti padi. Tapi dikombinasi dengan pola tanaman yang terintegrasi dan kontinyu, agar hasilnya dapat dirasakan sepanjang tahun, atau selama memungkinkan dipanen.

Adapun pengaturan tanaman yang dapat dilakukan mengikuti penanaman dengan pola kombinasi, yaitu menggunakan sistem tumpang sari, pembagian lahan tertentu, maupun penggantian jenis tanaman, atau campuran, dapat dipilih sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

Namun prinsip yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengoptimalkan pola tanaman terhadap sebuah lahan sehingga hasilnya maksimal. Tanpa harus atau mendapat risiko lahan menjadi kurus dan rusak karena satu jenis tanaman tertentu saja.
Beberapa jenis tanaman untuk pola ini yang dapat dikumpulkan dalam satu area lahan antara lain: padi, umbi jalar, jagung, cabe, kacang-kacangan, kacang tanah dan tebu.
Lebih hebatnya lagi, untuk satu tahun musim tanam seluruh tanaman itu, sebenarnya dapat ditanam sekaligus dengan pola pembagian lahan atau dilakukan tumpang sari. Ini berdasarkan praktek beberapa petani yang sudah berpengalaman.

Sementara itu, untuk teknis menjaga diskontinuitas penanaman maka pada saat sebuah tanaman, padi umpama, yang rata-rata dapat dipanen pada bulan ketiga atau umur 75-120 hari, maka saat padi berumur satu bulan, lakukanlah penanaman tumpang sari di pematang sawah atau di lahan sekitarnya yang memungkinkan dengan tanaman lain. Tentu prinsip tidak saling mengganggu jangan juga diabaikan.

Begitu juga pada aneka tanaman lain, sehingga tatkala habis masa panen sebuah tanaman, akan terjadi penggantian atau peralihan tanaman yang berbeda pada lahan yang sama, sehingga jarak musim panen tidak terlalu lama dari panen tanaman pertama. Begitulah selanjutnya.

Untuk fase di ujung musim tanam, sekaligus untuk menjaga kesehatan tanah saat menghadapi musim kemarau, maka tanamlah tanaman yang berusia lebih lama, serta mempunyai daya tahan kuat bila supley air berkurang, seperti jagung, ketela pohon atau tebu.*