Benarkah Menyusui Anak Hanyalah Budaya Lama Atau Bentuk Konstruksi Sosial?

Menyusui Anak

rancah.com – Akhir – akhir ini ramai sekali di dunia aplikasi burung biru tentang cuitan yang mengatakan bahwa seorang ibu tidak perlu menyusui bayinya karena dianggap bisa memicu tumbuhnya sifat – sifat yang mengacu pada kekerasan seksual si anak dan statement yang mengatakan bahwa menyusui seorang bayi hanyalah sebuah konstruksi social. Statement – statement tersebut muncul karena dianggap tidak sesuai dengan konsep “ my body my choice “.

Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI ), kolostrum atau cairan ASI pertama sangat baik untuk tumbuh kembang bayi karena mengandung berbagai zat gizi penting. Kolostrum kaya akan protein, lemak, vitamin, mineral, antioksidan, dan immunoglobulin. Berdasarkan American Pregnancy Association, kolostrum memiliki berbagai manfaat, seperti menguatkan system imun, membentuk lapisan pada perut bayi, membantu pencernaan bayi, mencegah sakit kuning, perkembangan dan pertumbuhan otak, mata, dan jantung bayi, mencegah kadar gula darah rendah pada bayi.

Pemberian ASI pada bayi bahkan diatur dalam peraturan pemerintah No. 33 tahun 2012. Dalam peraturan tersebut mengatakan bahwa mendapatkan ASI merupakan hak bayi.

Dalam konvensi PBB yang disahkan pada 20 November 1989 di New York, hak anak dikelompokkan menjadi  empat bagian, yaitu : hak hidup, hak perlindungan, hak tumbuh kembang, dan hak berpartisipasi.

Pemberian ASI termasuk kedalam pemenuhan hak hidup dan hak tumbuh kembang anak. Dalam hak hidup dijelaskan bahwa anak – anak mendapatkan hak untuk dapat hidup dari orang tua atau orang dewasa yang ingin membesarkannya. Sedangkan dalam hak tumbuh kembang dijelaskan bahwa anak mendapatkan asupan gizi dan makanan yang cukup demi kehidupan dan perkembangan mereka.

Lantas, apakah memberi ASI pada bayi merupakan bentuk konstruksi social? Wajibkah seorang ibu memberi ASI kepada bayinya?

Dikutip dari dkv.binus.ac.id , Konstruksi Sosial atas Realitas (Social Construction of Reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu atau sekelompok individu, menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.

Jika pemberian ASI kepada bayi disebut sebagai bentuk konstruksi social, maka secara kasar bahwa memiliki bayi/anak dan kehadiran bayi bukan sebagai manusia, melainkan hanya melestarikan budaya turun temurun. Padahal memiliki/tidak memiliki seorang anak adalah pilihan dari sebuah pasangan.

Dalam beberapa kasus, memang ada seorang ibu yang tidak bisa memberikan ASI untuk bayinya karena adanya beberapa faktor, seperti  ASI sang ibu tidak bisa keluar, ukuran payudara yang terlalu kecil, alas an tenaga kesehatan, ataupun yang lain.

Menyusui tidak bersifat wajib untuk para ibu yang memiliki kendala menyusui seperti yang sudah dipaparkan diatas. Tetapi menyusui bisa bersifat wajib untuk para ibu yang mampu untuk menyusui bayi karena hal tersebut berhubungan dengan pemenuhan hak hidup dan tumbuh kembang anak. Dimana pemenuhan hak – hak anak merupakan tanggung jawab tiap orang tua yang bertekad untuk memiliki anak. Jika dirasa tidak mau/ tidak berkeinginan untuk bertanggung jawab kepada anak, maka janganlah bertekad untuk memiliki anak. Anak adalah manusia yang menjalan kehidupannya.

Bagaimana dengan konsep “ my body my choice” ?

Benar sekali, tubuh mu adalah hak mu, pilihan mu untuk diapakan. Tetapi, jangan lupa bahwa memilih suatu pilihan selalu diimbangi tanggung jawab. Untuk memiliki anak merupakan pilihanmu sendiri. Jika tidak bisa bertanggung jawab atas pilihan mu sendiri, maka jangan membuat/memutuskan sebuah pilihan.

Jika kamu memilih untuk menjadi seorang ibu, maka tubuh mu juga harus berperan dalam tanggung jawab atas anak yang lahir atas pilihan mu sebagai seorang ibu. Sehingga perlu tambahan kata dalam statement “ my body my choice “ menjadi “ my body my choice my responsibility “.

Teruntuk ibu – ibu yang memilih untuk menyusui ataupun tidak menyusui sang bayi, kalian merupakan ibu yang hebat. Dengan menjaganya selama 9 bulan dalam perut hingga mengeluarkannya sampai bertaruh nyawa, sekali lagi, kalian semua hebat. Selamat menikmati menjadi seorang ibu.

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di konten beropini selanjutnya.