Suara Hati Seorang Sarjana

rancah.com – Kuliah, mendengar kata tersebut mungkin diimpi-impikan oleh semua orang. Terutama di tahun 2020 ini, pendidikan semakin maju lalu muncul adanya persaingan untuk menghadapi dunia kerja.

Terbesit suatu pikiran saat kita kuliah menjadi lulusan Sarjana akan mempermudah untuk mendapatkan pekerjaan. Sering kali kualifikasi di suatu perusahaan untuk merekrut kandidat baru mengutamakan lulusan Sarjana. Membuat para lulusan SMA merasa tersaingi oleh para lulusan Sarjana. Eits, namun pada kenyataannya, lulusan Sarjana tidak menjamin untuk lebih mudah mendapatkan pekerjaan pada zaman modern ini. Karena pada dasarnya untuk dapat bergabung di perusahaan memerlukan adanya skill atau kemampuan yang kamu miliki. Pendidikan dan kemampuan akan menjadi nilai plus tentunya.

Memiliki kemampuan dapat diperoleh oleh siapa saja tanpa harus mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Salah satu contoh kemampuan yang dapat kamu miliki tanpa harus sekolah yaitu menggambar, menulis, masak dan hal lainnya.Dalam keahlian tersebut dapat diperlajari sendiri secara otodidak. Namun ada kalanya mengikuti sekolah di bidang tersebut akan mendapatkan teori-teori untuk menyempurnakan keahlian kita.

Begitu halnya saat kita menempuh menuju pendidikan Sastra 1 atau Sarjana tidak melulu membicarakan mengenai materi atau teori saja, melainkan mahasiswa membutuhkan skill untuk menghadapi dunia kerja setelah mereka lulus.

Melihat para pesaing di dunia kerja begitu amat berat, tidak jarang lulusan Sarjana sulit mendapatkan pekerjaan. Bertahun-tahun Sarjana me-apply beribu lowongan tak kunjung mereka mendapatkannya. Bahkan untuk dipanggil menuju tahap selanjutnya pun amat sangat jarang. Begitulah kisah pilu seorang Sarjana. Dengan gelar Sarjana tersebut sangat berharap besar untuk mudah mendapatkan pekerjaan, namun kenyataannya tidak karena, melupakan ada suatu hal yang lebih penting dari gelar tersebut.

Pada akhirnya setelah empat tahun menempuh pendidikan dan mendapatkan gelar Sarjana tidak sedikit yang menyandang status ‘pengangguran’. Uuhhh serasa horor kata tersebut. Maka kesimpulannya yaitu, carilah bakat atau passion masing-masing. Harus selalu aktif saat kuliah, mengikuti organisasi, kerja part-time, mengikuti event dan hal lainnya. Hal-hal tersebut dapat membentuk karakter passion kita, akan mengetahui hal apa yang kita suka dan tidak disukai.

Jangan bersedih saat belum mendapat pekerjaan. Lupakan kesedihan tersebut dengan melakukan hal-hal produktif yang positif. Semangat terus jangan putus asa, tetap berusaha menggapai cita-cita karena, akan banyak jalan menuju roma. Begitu menurut pepatah tapi memang benar adanya. Ganbatte kudasai!!