Lahan Diperhemat, Kearifan Lokal Balonyat

Contoh balonyat pada padi umur 3 minggu

rancah.com – Pemanfaatan lahan yang ada, secara optimal, tanpa harus membuka lahan yang baru, merupakan warisan tradisi leluhur bangsa yang tercermin dari budaya pertanian berbagai suku di Indonesia.

Salah satu tradisi itu yang masih bertahan hingga kini di kawasan masyarakat Sunda yaitu pada cara tanam sistem huma, yaitu penanaman tanaman utama padi darat, namun juga dimanfaatkan untuk aneka jenis tanaman lain pada satu hamparan lahan.
Pada pengetahuan umum, sistem pertanian ini sering disebut tumpangsari.

Artinya menumpangkan jenis tanaman tertentu pada tanaman lainnya. Misalnya, memanfaatkan lahan tanah di bawah pohon besar pinggiran hutan pada sistem huma desa. Seperti dikutip dalam Patanjala Itenas Vol.10 No.3 September 2018, oleh Edi Setiadi Putra dkk.

Petani menanam varietas padi unggul untuk lahan huma atau padi gogo, yaitu jenis inpago yang tumbuh di lahan kering, dan memiliki daya tahan yang baik terhadap serangan wereng coklat dan hawa daun, lantas dihiasi dengan aneka tanaman lainnya, seperti palawija, timun, kacang, jagung, umbi-umbian dan lain sebagainya.
Lantas, seiring dengan perkembangan cara-cara bertani mengalami pergeseran dari menanam padi pada lahan kering yang cenderung ke sistem tanam padi lahan basah di sawah. Pola sistem tumpangsari pun masih dilakukan dengan memanfaatkan pematang sawah atau lahan sawah langsung.

Namun, pola pertanian penggabungan aneka tanaman pada lahan sawah, tentu harus sesuai dengan karakter sawah yang basah. Artinya sama-sama tanaman yang dapat hidup dengan genangan air, seperti kangkung, genjer, atau lainnya. Tetapi umumnya, tumpangsari di lahan basah memilih padi jenis varietas lain, yang biasanya merupakan unggulan dan spesial.

Beberapa varietas padi yang acapkali dipakai sebagai balonyat adalah jenis ketan-ketanan, seperti ketan putih, hitam dan merah. Atau jenis padi biasa yang dipakai sebagai makanan pokok namun memiliki warna unik, seperti hitam, ungu dan kuning, atau sejenisnya.

Istilah untuk tradisi ini pun memiliki sebutan tersendiri para petani senior menyebutnya balonyat. Balonyat merupakan istilah yang sangat unik. Karena menggunakan istilah yang “asing”, namun masih sulit menelusuri asal pembentukan istilah ini. Umumnya petani yang dihubungi penulis belum dapat menjelaskan secara rinci. Bila pembaca sudah mengetahuinya, ayo berbagi dong!

Pada prinsipnya bahwa menanam sistem balonyat adalah upaya untuk memanfaatkan sedemikian rupa dari lahan yang tersedia. Artinya ada usaha untuk optimalisasi lahan. Tanpa harus menyediakan lahan tersendiri. Usaha yang hemat namun menghasilkan aneka tanaman yang diinginkan.

Pada praktek balonyat juga terdapat sikap kesederhanaan. Bahwa masyarakat petani cukup dengan lahan tersedia, untuk menanam aneka tanaman padi unggulan dan spesialnya. Sebab bila membuka lahan baru maka akan berdampak pada lingkungan dan penyiapan aneka sumber daya lainnya.

Agaknya pelajaran berikutnya bahwa keseimbangan alam yang harus dijaga, sebagai sikap penghormatan. Lahan yang ada diberdayakan secara maksimal, sehingga kendatipun lahan tetap segitu, namun penghasilan memiliki variasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan.

Sungguh bijak bukan? Pelajaran penting untuk generasi berikutnya!*