Antisipasi Tanam Padi, Belajar dari Karakter Sawah

Antisipasi Tanam Padi
Ilustrasi sawah yang semi simetris

rancah.com – Karakter sawah secara mudah dimaksud dalam artikel ini keadaan bawaan yang terjadi secara otomatis pada masing-masing petak sawah (basah), yang berbeda antara satu petak dengan petak lainnya. Misalnya petak yang cenderung berair, kering, basah, berair sebelah atau separuh, lumpur yang dalam, berbatu, atau sifat-sifat lainnya.
Sawah dalam satu hamparan ternyata pada masing-masing petaknya memiliki karakter tersendiri. Pebedaan itu terjadi karena sawah dalam satu hamparan dipengaruhi oleh keadaan sumber air, lokasi, posisi, humus dan keadaan lingkungan sekitarnya.

Bagi petani padi pemula, terutama para petani milenial, yang sedang belajar menggarap sawah terkadang masih belum memahami secara detil karakter sawah. Apalagi kalau sawah tersebut bukan milik sendiri, seperti hasil sewa, hak garap, atau aturan lainnya, tentu pengetahuan karakter tiap petak sawah yang digarap, mesti diperdalam terlebih dahulu.

Ini perlu dilakukan tentu saja agar kita dapat mengantisipasi kemungkinan kegagalan panen. Sebab investasi untuk sawah lumayan menyita sumber daya. Rata-rata untuk 1 hektar sawah dalam satu musim tanam tidak kurang dari 8 juta rupiah investasi yang harus disediakan dari mulai persiapan, pemeliharaan dan panen.

Sawah berkarakter khusus rawan robohan bulat

Selain itu penting juga mengetahui hal-hal mendasar tentang prosedur pertanian padi seperti pembenihan, olah lahan, penanaman bibit pada lahan, pengaturan air, penyiangan, pemupukan, pemeliharaan, dan panen, serta pengolahan pasca panen.
Sangat lumrah memang nenek moyang kita sejak dulu membuat petak-petak sawah nampaknya tidak melakukan perencanaan yang detil. Sehingga acapkali mengabaikan hubungan antara berbagai petak secara terintegrasi.

Umumnya, orangtua membuat sawah dengan cara manual meratakan tanah, ngabedah, ngalelemah (Sunda) secara bertahap. Tiap tahun tanam, biasanya mereka melakukan penambahan lahan, satu dua petak kecil sebagai perluasan dari lahan yang ada, untuk memanfaatkan lahan tersisa. Ya, jadinya sawah menjadi petak-petak yang bermacam-macam.

Kalau kita memperhatikan bentuk fisik sawah, lucu. Sangat mungkin ukuran antara satu dengan lainnya berbeda. Begitu juga bentuk, walau secara umum kotak, namun cenderung tidak simetris. Bahkan ada yang berkelok-kelok, melengkung, campuran. Apalagi untuk kawasan sawah di daerah dataran tinggi, tebing curam, dan pegunungan.

Pasti membentuk kepundan dengan pematang yang bertebing tinggi.
Proses pembentukan sawah itu, tentu saja berpengaruh terhadap karakter tiap petak sawah itu sendiri. Padahal dalam proses bertani padi, sebagian besar petani memukul rata proses perencanaan, pemeliharaan dan perlakuannya.

Itulah salah satu tahap yang disadari atau tidak menyebabkan kegagalan panen. Setidaknya panen kurang sesuai harapan. Untuk itu, sebagai antisipasi kegagalan, maka selain menerapkan kaidah umum perlakuan terhadap lahan pertanian, juga memberikan perhatian khusus yang disesuaikan dengan karakter petak sawah.

Nah, dengan menerapkan perlakuan tambahan ini, yang bersifat lokal-khusus pada petak yang berkarakter khusus pula, optimis hasil pertanian akan optimal. Itulah yang kita harapkan bukan?*