Ospek Sebagai Salah Satu Gerbang Bullying?

Ospek Sebagai Salah Satu Gerbang Bullying?
Ilustrasi

rancah.com – Berhasil menyandang status mahasiswa  di kampus impian merupakan kebanggan tersendiri  bagi setiap mahasiswa baru. Waktu yang terbuang dan energy yang terkuras untuk memperjuangkan kampus impian akhirnya terbayarb tidak sia – sia.

Eits! Jangan senang dulu,sob! Untuk menjadi mahasiswa resmi sebuah kampus harus banget mengikuti ospek terlebih dahulu,loh!.

Di beberapa kampus mahasiswa baru atau lebih singkatnya maba diharuskan mengikuti tida jenis ospek, yaitu ospek universitas/kampus, ospek fakultas, dan ospek jurusan. Dan beberapa UKM juga ada hal serupa ospek, mungkin kita mengenalnya sebagai diklat.

Jika ditarik dari segi historisnya, ospek pertama kali diadakan di Indonesia oleh STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia pada tahun 1898 -1927. Kemudian berlanjut sampai  Geneeskundige Hoogeschool ( GHS ) atau Sekolah Tinggi Kedokteran pada tahun 1927 – 1942. Gabungan dari STOVIA dan GHS kini menjadi FK UI Salemba.

Dalam sejarahnya juga, ospek pertama kali muncul di Universitas Cambridge yang memang mayoritas berasal dari keluarga terhormat sehingga sulit untuk diatur dan cenderung bertindak seenaknya. Merasa memiliki kekuatan para senior pun membuat aturan setiap mahasiswa baru harus diberi pelajaran.

Namun, dalam bebera decade terakhir ada banyak kasus di Indonesia yang menyebabkan adanya pergeseran hakikat dan melencong jauh dari tujuan ospek yang sebenarnya. Tak jarang bermunculan kontroversi karena beberapa ospek yang sering kali diisi dengan serangkaian kekerasan dlam bentuk verba bahkan tak jarang pula didapati kekerasan fisik yang berujung kematian. Seperti beberapa kasus berikut ini.

Pada tahun 2013, mahasiswa IPDN tewas saat ospek, dalam kasus ini ada dua perbedaan pernyataan dari kerabat korban dan pihak IPDN. Kerabat korban mengatakan bahwa sebelumnya korban pernah masuk rumah sakit karena disiksa selama ospek. Sedangkan pihak IPDN mengatakan bahwa praja tersebut  tewas akibat terperosot saat melewati kolam sedalam dua meter.

Pada tahun 2011, tewasnya Alm. Awaluddin usai ospek karena mengalami kekerasan dari seniornya yang katanya pihak jurusan bahkan tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut.

Pada tahun 2017, tiga mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang meninggal karena mengalami kekerasan saat Diksar Mapala.

Pada tahun 20 Agustus 2019, dunia pendidikan kembali terkagetkan dengan viralnya video di social media yang berisi rekaman kegiatan ospek salah satu universitas di Ternate yang mana mahasiswa baru diperintahkan untuk meminum ludah dan berjalan jongkok menaiki tangga saat memasuki kampus.

Beberapa kasus diatas jelas melanggar dan jauh sekali dari kesesuaian dengan hakikat ospek yaitu kegiatan untuk memperkenalkan dunia kampus kepada mahasiswa baru juga sebagai sarana untuk mencari bakat – bakat dari mahasiswa baru yang masih tersembunyi.

Dalam praktiknya, kebanyakan ospek maba di Indonesia menggunakan struktur kepanitiaan yang mewajibkan adanya komisi disiplin atau lebih singkatnya komdis yang tugasnya untuk mendisiplinkan mahasiswa baru agar mengikuti jalannya ospek dengan lancar. Akan ada beberapa pos atau serangkaian acara seperti penilaian atribut, penilaian tugas, penilalian kekompakan, bahkan cara jalan bisa jadi bulan – bulanan kesalahan mahasiswa baru.

Mahasiswa baru harus mengerjakan tugas semalaman. Jika tidak mengerjakan akan dapat serangan dan berkumpul di tempay pengaturan dosa. Tuntutan cara jalan yang dinilai kurang cepat, dengan meneriaki “ langkahnya dipercepat! “ tanpa melihat mahasiswa tersebut memiliki riwayat mahasiswaa tersebut barangkali memiliki riwayat cacat pada kakinya atau kelainan pada tulang kaki, atau yang lainnya.

Hal – hal tersebut dapat dikategorikan sebagai perilaku bullying. Bullying adalah suatu hal yang tidak diinginkan, perlakuan yang agresif dengan adanya salah satu pihak yang mmeiliki kekuatan lebih. Ada 3 tipe bullying, yakni verbal bullying, seperti cara memanggil nama yang sifatnya mengejek, menggoda seseorang, komentar seksual yang tidak pantas, dan ancaman – ancaman yang dilontarkan seseorang. Social bullying, seperti memprovokasi orang – orang untuk tidak berteman dengan seseorang, memojokkan seseorang, menyebar rumor yang tidak jelas tentang seseorang, mempermalukan seseorang didepan umum. Physical bullying, seperti memukul, menendang, meludah, mendorong, merusak barang milik orang lain, “ bermain tangan “ ke orang lain.

Dalam beberapa kasus, bullying melahirkan bullying. Seseorang mungkin pernah merasa mendapat bullying dari orang tuanya, bosnya, atau saudaranya. Sama seperti kasus ospek yang turun temurun yang dominan menggunakan verbal bullying. Alasan – alasan positif seperti membentuk karakter mental membuat apa yang diakukannya adalah sebuah kebenaran.

Ospek untuk mahasiswa baru juga diterapkan di beberapa kampus di luar negeri. Namun sangat jauh berbeda dalam praktiknya dengan ospek di dalam negeri. Seperti di Univeritas Freie ,Berlin, ospek berjala tanpa adanya unsure senioritas, tidak ada bagian/pos yang sengaja untuk mengintermezzo atau memarahi/meneriaki mahasiswa baru, dan tidak ada komisi disiplin. Ospek terseut berjalan sesuai dengan namanya yang benar – benar mengenalkan dunia kampus kepada mahasiswanya seperti megenalkan gedung – gedung di kampus tersebut, ruangan –ruangannya, bagaimana cara mengambil kelas, dan lain sebagaiannya. Tanpa adanya perintah untuk membuat name tag dan atribut – atribut lainnya.

Hal tersebut berhubungan erat dengan kultur kekeluargaan di Indonesia yang sangat tinggi. Karena saking tingginya, masalah satu orang bisa jadi masalah bersama.

Jika dipikir lagi, memarahi / memaki mahasiswa baru pada saat ospek tidak ada fungsi dan sangat tidak penting untuk 30 tahun yang akan datang. Balik lagi pada pernyataan bahwa bullying melahirkan bullying.

Sekian, terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di beropini selanjutnya.