Buah Semangka Muda, Kenapa Tidak? Simak Selengkapnya Disini…

Penyortiran buah semangka

rancah.com – Buah semangka (melon) hampir identik dengan buah segar untuk konsumsi pasca atau pra makan besar. Alias menjadi makanan cuci mulut istilah pada umumnya.
Tak heran berdasarkan hasil pengamatan penulis beberapa petani semangka di Sukabumi Selatan, memang sengaja melakukan penyortiran terhadap buah semangka yang dianggap layaklah yang dipelihara untuk dibesarkan hingga masak. Sementara buah yang kurang layak, karena bopeng atau bernoda, atau normal namun terlampau lebat, akan dibuangnya.

Pada umumnya, tanaman semangka sudah dapat dipanen menurut Iyang, petani semangka di Cipanggung, Mekarsari, Ciracap, Sukabumi, pada usia pohon semangka mencapai umur 50 hingga 60 hari.

Dalam hitungan hari, karenanya untuk mengoptimalkan buah semangka agar sesuai dengan harapan, ditarget antara 10-12 kg perbuah, maka dilakukanlah penggemukan (pemupukan) secara periodik dan penyortiran secara ketat terhadap buah bakalan.
Pada umumnya, tiap pohon hanya disisakan 1 buah saja, untuk dibiarkan menjadi besar dan siap panen. Kalaupun terdapat beberapa buah dalam satu pohon, diutamakan berbeda tangkainya. Itupun hanya semangka jenis inul.

Karenanya petani seperti Iyang, sudah tidak ragu-ragu lagi untuk memetik dan membuang buah-buah yang tidak diinginkannya. Biasanya dibiarkan tergeletak pada jalur jalan kaki pemeliharaan tanaman melon.

Padahal kalau dihitung-hitung, buah pangasuh (setelah buah utama) jauh lebih banyak jumlahnya, sesuai dengan pembungaan. Namun akan terus dipetik dan dibuang sejak usia muda (ondol, Sunda).

Buah semangka muda

Alasannya menurut petani tersebut, hanya akan mengoptimalkan buah yang terpilih. Buah pilihan rata-rata buah pertama. Buah ini layak pelihara dan hasilnya memuaskan, baik volume, ukuran, kualitas hingga pertumbuhan maksimal.

Persoalannya kemudian berdasarkan pengamatan penulis, yaitu limbah hasil petik buah semangka sortiran. Bayangkan kalau buah yang disortir 3-6 buah tiap pohon, maka tentu akan menumpuk dan mengganggu space lahan tanaman.

Sejatinya akan lebih baik, apabila buah hasil sortiran dimanfaatkan untuk kepentingan lain, misalnya dikerjasamakan dengan komunitas anak muda setempat untuk dijual ke pasar tradisional sebagai sayuran. Atau dijual kepada para pengecer dengan harga yang kompetitif. Jauh akan lebih bermanfaat. Atau dapat pula dimanfaatkan untuk material bahan baku pupuk kompos. Juga akan menjadi solusi fungsi ganda. Limbah hilang, pupuk didapatkan.

Di sisi lain, menurut ibu-ibu setempat, sayuran dari semangka muda cukup diminati dan banyak pula yang doyan. Dengan aneka olahan sayuran biasapun, buah semangka muda dapat menjadi nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh kita. Jadi, kenapa tidak dengan semangka muda?*