Musim Haji Mengingatkan Tentang Etika Pergaulan

Musim haji hampir identik dengan ibadah haji. Karena hanya pada saat itulah ibadah haji tersebut dapat dilaksanakan.
Ibadah haji dalam pengertian sederhana adalah menyengaja mengunjungi Baitulloh (Mekkah) dengan mengikuti berbagai persyaratan tertentu berdasar petunjuk agama (Islam).
Di antara persyaratan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, yang ada kaitannya dengan pergaulan sosial, antara lain tidak boleh rafats (berbicara seronok) dan berbantah-bantahan.
Dalam kategorisasi peribadahan (Islam), haji merupakan salah satu jenis ibadah yang penting dan strategis. Tak heran, disepakati haji sebagai salah satu bagian dari rukun Islam. Juga pada prakteknya di negara kita, ibadah haji menjadi salah satu momen yang melibatkan pemerintah dalam tata kelolanya.
Musiam haji tahun 1441 H ini dengan kebijakan pemerintah yang menunda keberangkatan para jemaah haji, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga kesejahteraan umum masyarakat, agar tetap aman. Ini bagian lain dari kebijakan yang berhubungan dengan Corona.
Kembali pada persoalan ibadah haji yang berkaitan dengan pergaulan sosial, memberi petunjuk harus dilakukan dengan mengurangi hal-hal yang dalam pergaulan sehari-hari biasa, namun tidak patut, tidak terjadi saat ibadah haji.
Dengan demikian, dalam ibadah haji kita diajak untuk belajar berkomunikasi dalam berbagai skala, lokal, nasional, dan internasional secara baik, etis dan harmonis.
Isyarat ajakan itu sekaligus membantah segala perbuatan dan aktivitas yang melawan kodrat manusia yang cenderung melakukan komunikasi dengan segala cara, walau berbuah konflik, caci maki dan saling menjelekkan.
Belakangan viral sebuah contoh kecil dari kegiatan warganet yang dikutip oleh viva.co.id (Kamis, 23/07/2020), tentang etika bergaul khususnya dalam dunia maya yang sebenarnya tak wajar.
Persoalan itu, sampai ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta aparat kepolisian untuk mengusut viralnya isu kue klepon yang dianggap “tak Islami” di jagat media sosial.
“Aparat penegak hukum perlu mengusut tuntas pengunggah dan penyebar unggahan di media sosial tersebut karena secara nyata telah menyebabkan kegaduhan,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asroroun Ni’am Sholeh, kepada media yang sama.
Masyarakat ketika memasuki musim haji, baiknya menerapkan semangat pergaulan sosial ibadah haji, untuk tidak terjebak pada komentar-komentar yang melecehkan ajaran agama, atau membangun stigma buruk terhadap agama, serta mengumbar narasi kebencian dan olok-olok yang bertentangan dengan hukum dan etika.
Ibadah apapun jenisnya, termasuk haji, dalam term peragulan sosial, tentu harus mengutamakan keadaan kesucian diri masing-masing, pengakuan kepada sesama yang juga sama-sama hamba Tuhan, penghambaan dengan penuh keikhlasan, serta mengagungkan dejarat kemanusiaan.
Keadaan pergaulan sosial yang berubah dengan kecenderungan membenarkan segala cara dalam berbagai sosial media, termasuk budaya ricuh dan gaduh, tetap menjadi sesuatu yang tak layak dijadikan gaya keseharian kita. Setidaknya mampu menahannya selama momen-momen musim ibadah haji.
Lebih sempit lagi, mengurangi aksi-aksi komentar dan opini di ruang publik yang sekiranya tidak perlu. Baik melalui ungkapan yang diperhalus, maupun dengan kata-kata yang tegas dan nyata-nyata.*