Mengikis Ke-Aku-An Dalam Diri

Mengikis Ke-Aku-An Dalam diri itu butuh waktu yang tidak sebentar. Tak cukup hanya dengan 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 10 tahun, 20 tahun, tapi seumur hidup. Saat kita menyadari bahwa tak pernah ada yang bisa kita lakukan didunia ini kecuali atas izinnya, atas izin dari ALLAH SWT.

Mata yang dapat melihat, Tangan yang mampu menggenggam, Kaki yang sanggup berjalan, Nafas yang terus saja berhembus bahkan dalam keadaan tidur sekalipun, Jantung yang terus saja berdetak bahkan tanpa kita kendalikan sama sekali. Jika kita mencoba menghitung segala nikmat yang ALLAH SWT berikan kepada kita, niscaya kita takkan mampu untuk menghitungnya. Bahkan untuk menganggat sebutir nasi sekalipun bila tanpa kuasa dari ALLAH SWT niscaya kita takkan pernah sanggup untuk melakukannya.

Semua kenikmatan yang ALLAH SWT berikan pada kita bila mampu untuk mensyukurinya maka akan bertambahlah segala nikmat itu. Namun, bila kita lalai untuk mensyukuri segala nikmat ALLAH SWT, ketahuilah bahwa azab ALLAH SWT itu sangatlah pedih. Disaat semuanya telah mampu kita sadari serta mampu pula kita untuk mensyukurinya, disanalah Ke-Aku-An dalam diri kita akan terkikis perlahan.  Perlahan kita akan sadari bahwa tiada daya dan upaya dalam diri kita kecuali atas izinnya.

Sebagian dalam diri manusia itu adalah syukur, dan sebagiannya lagi adalah sabar. Syukuri bila dalam hidup ALLAH SWT mempermudah segala urusan kita, memudahkan setiap keinginan kita, melebihkan kita dari manusia-manusia yang lainnya. Sabari bila ternyata apa yang dilakukan nyatanya mengalami kesulitan, jalan yang tak mudah dan berliku, dan segala keinginan terasa tak satupun yang menjadi kenyataan. Sebab hanya dengan syukur dan sabarlah segalanya menjadi indah, walau terlihat sulit dan tidak baik.

Ke-Aku-aN dalam diri setiap manusia sulit untuk dihilangkan, karena itulah hakikat individual. Setiap manusia selalu ingin diakui eksistensinya oleh manusia yang lain. setiap manusia itu selalu saja lebih mengutamakan dirinya dibandingkan orang lain. Ke-Aku-An yang menuntun kita untuk mencapai kebahagiaan, ingin merasa lebih dari yang lainnya, dan merasa bangga terhadap pencapaian diri yang telah berhasil dicapai.

Takkan ada yang sama didunia ini, setiap manusia punya garis startnya masing-masing, punya akselerasinya masing-masing, dan punya garis finishnya masing-masing. Setiap dari kita selalu saja berlomba untuk mencapai kebahagiaan di dunia. Bahkan yang lebih parahnya lagi sebagian dari kita rela menggadaikan Agamanya demi keinginan dunia yang semu dan fana ini. Dunia itu jembatan menuju kehidupan yang sebenarnya, maka perlakukanlah dunia selayaknya kita sedang melintasi sebuah jembatan. Boleh memandang sekitarnya saat kita berjalan melintasi sebuah jembatan, namun ingatlah jangan pernah berhenti apalagi sampai singgah disana hanya karena sebuah keindahan yang semu. Teruslah berjalan, ingatlah bahwa tujuanmu bukan jembatan itu. Tujuanmu yang sebenarnya adalah melewati jembatan itu.

Maka diakhir tulisan ini kita berupaya untuk tetap berpegang teguh pada tali yang telah ALLAH SWT tetapkan untuk kehidupan kita. Mengingatkan diri sendiri, mengingatkan sesama, mengingatkan saudara seiman, untuk kembali lagi pada jalur yang tepat. Jalur yang sebenarnya, jalur yang seharusnya, dan jalur yang benar. Semoga kita dapat kembali kepadanya dalam keadaan Khusnul Khotimah, Mampu mengendalikan Hawa Nafsu, Mengendalikan Keinginan, Dan kembali kepadanya dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Saat Semua yang kita lakukan bertujuan sebagai ibadah disanalah segala Ke-Aku-An dalam diri mulai menghilang. Bukan lagi tentang kita, tetapi tentang orang-orang yang membutuhkan kita. Bukan lagi tentang saya, namun tentang mereka, Bukan lagi Keuntungan semata, namun lebih kepada kebermanfaatan bagi sesama. Itulah tujuan kehidupan yang sebenarnya, menjadi khalifah di muka bumi ini, menjadi rahmatan lil alamin, serta menjadi pembeda bagi kehidupan orang lain.

Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan kebaikan di kehidupan kita, memberikan hidayah kepada kita, memberikan keberkahan hidup, dan semoga ALLAH SWT matikan kita dalam keadaan yang baik seperti pertama sekali saat kita terlahir ke muka bumi ini. Saat kita lahir orang lain tertawa, dan kita menangis. dan semoga saat berpulang nanti orang lain menangis, tetapi kita tersenyum. Ya rabb, hanya kepadamu lah cinta ini kami persembahkan, hanya kepadamulah hati ini kami pasrahkan, maka janganlah engkau balikkan hati kami kepada keburukan setelah engkau berikan petunjuk dan jalan yang lurus.

Hidup itu sebuah perjalanan, maka berjalanlah. Hidup itu sebuah proses, maka berproseslah. Hidup itu sebuah anugerah, maka jangan pernah sia-siakan segala anugerah itu. Tidak cukupkah bagi kita semua yang telah ALLAH SWT tunjukkan, malam yang berganti siang, Matahari, Bulan, Bintang, Bumi, dan Planet-Planet yang beraturan melintasi orbitnya, Lantas siapakah yang menciptakan? Siapa yang mengaturnya? Afala taqqilun?