Qurban, Cara Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

Cara Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Ilustrasi hewan qurban

Musim haji untuk kalangan muslim waktu untuk ekspresi keagamaan. Pada bulan Dzulhijjah ini rangkaian ibadah dapat dilaksanakan, antara lain melaksanakan haji, shaum sunnah, shalat ied, dan penyembelihan hewan qurban.

Ada hal menarik pada salah satu aktivitas ibadah itu, yakni qurban yang ternyata dapat mendekatkan hamba dengan Tuhannya. Begitu klaim agama menegaskan bahwa qurban merupakan ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba dengan Tuhan.

Namun anehnya hewan qurban diberikan secara merata kepada sesama di lingkungan sekitar, yang berhak menerimanya. Melalui cara pemerataan itulah diyakini pelaaku dapat menjadi dekat dengan Tuhan semesta alam.

Secara bahasa qurban (Arab) maknanya dekat. Sebuah proses yang semacam instan yang tentu menggiurkan. Kendati begitu qurban tidak memaksa kepada seseorang harus melakukannya bila belum memenuhi persyaratan.

Dekat dalam makna umum selalu berhubungan dengan jarak atau posisi. Sementara dekat dengan Tuhan agak sulit dimaknai sebagai dekat secara fisik. Karena dimensi antara hamba dengan Tuhan amat berbeda.

Maka, pemaknaan yang dapat diterima secara akal, tentu lebih dari itu maksudnya. Setidaknya, mendeskripsikan seorang hamba yang selalu berada dalam keadaan yang diridhoi oleh Tuhan. Tidak sebaliknya, berdosa atau melaksanakan sesuatu yang dibenci oleh agama.

Indikasi mendekat dengan Tuhan itu salah satunya adalah mengikuti apa yang diperintahkan oleh Tuhan Sang Pencipta. Sekaligus jauh dari apa yang dilarang oleh agama.

Orang yang dalam keadaan mengikuti apa yang diperintahkan oleh agama juga menjauhi apa yang dilarang, tentu merupakan gambaran dari sosok yang taat.

Taat itu kemudian juga harus tercermin dari kesolehan secara sosial. Tidak hanya dekat Tuhan, tetapi juga mengaktualisasikan kedekatan dengan Tuhan itu juga dekat dengan sesama manusia atau dengan alam, sebagai bagian dari sistem penciptaan Tuhan.
Penyembelihan hewan qurban yang secara teknis pembagian daging (dan lain-lain) dari hewan qurban, lantas diberikan kepada sesama yang berhak, menjadi bukti pasti mendekatkan dengan sesama.

Secara naluriah manusia akan menjadi berusaha (bersikap) baik apabila diberi sesuatu yang amat dibutuhkan olehnya dari oleh orang lain yang tidak dikenal sekalipun. Inilah letak rahasianya, qurban mampu menembus rasa kemanusiaan melalui berbagi.
Berbagi menjadi bagian dari cara dekat dengan Tuhan, karena berbagi artinya berasal dari wujud yang satu atau dalam kesatuan. Hingga mudah menyentuh rasa persatuan umat dengan melalui berbagi itu. Sekaligus mengurangi pertentangan dan spasi atau jurang pemisah di antara kelompok sosial.
Umat yang dalam satu kesatuan itu merupakan wujud masyarakat yang diridhoi oleh Tuhan. Tatkala dalam keadaan diridhoi-Nya, maka ia menjadi sangat dekat dengan Sang Kuasa.*