Pundi-Pundi Gelap di Tengah Pandemi

Pundi Gelap di Tengah Pandemi
Picture by medium.com

PSBB sudah dibuka beberapa pekan lalu. Penerbangan domestik mulai lancar. Hanya saja, ada yang berbeda dengan sebelum pandemi. Selain harus memenuhi protokol kesehatan, hasil rapid test juga jadi syarat wajib penerbangan.

Harganya memang relatif terjangkau untuk kalangan menengah. Yang artinya, itu tidak menjadi kendala bagi mereka yang berpunya. Mereka tetap bisa menempuh penerbangan.

Soal rapid test. Rapid test memang diperlukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi atau tidak. Dan itu diterapkan bagi mereka yang menunjukkan gejala. Atau mereka yang tidak sengaja kontak fisik dengan pasien positif Covid-19.

Sebetulnya, tidak masalah jika rapid test itu memang diaplikasikan secara masal untuk memetakan situasi pademi. Agar mudah penyelesaiannya. Mereka yang positif ditangani dengan baik. Mereka yang berpotensi positif, dikaratina. Artinya, rapid test menjadi salah satu langkah awal penanganan pademi.

Beberapa wilayah memang melakukan usaha itu. Menggunakan rapid untuk pemetaan pandemi. Tracking. Tapi, itu tidak efektif jika tidak diterapkan secara nasional.

Baiklah. Pandemi belum reda. Rapid makin naik daun. Dari situ, banyak muncul kecurigaan. Bahwa rapid test menjadi bisnis baru di tengah-tengah pandemi. Suara-suara seperti itu mulai banyak bermunculan.

Padahal, jauh sebelum itu, rapid tes sudah dipersoalkan. Terutama soal validitas hasilnya. Salah satu dasarnya karena alat itu adalah alat impor. Spesimen yang digunakan alat itu berbeda dengan jenis Covid-19 di Indoensia. Sehingga membuka kemungkinan pasien positif bisa lolos. Karena alat rapid tidak berreaksi.

Beberapa kasus mengafirmasi itu. Hasil rapid negatif, ternyata positif juga. Sehingga publik juga tidak percaya sepenuhnya dengan rapid. Mereka yang benar-benar ingin tau dirinya terinfeksi atau tidak harus menggunakan (Polimerase Cahain Reaction) PCR. Lebih mahal dari rapid test. Hasilnya lebih valid.

Justru, PCR itu sebetulnya yang menjadi standar terinfeksi Covid-19 tau tidak. Karena PCR memeriksa lendir dari hidung atau tenggorokan yang menjadi tempat berkembangnya virus. Adapun rapid test hanya memeriksa sampel darah apakah antibodi tertentu dalam darah meningkat atau tidak.

Jika anti bodi tertentu dalam darah tidak meningkat, tidak ada masalah. Dia steril. Jika meningkat, kemungkinan dia terjangkit virus. Antibodi dalam darah itu meningkat karena sedang bekerja melawan virus. Tapi belum tentu juga itu Covid-19. Untuk memastikan, harus menjalani pemeriksaan lanjutan dengan PCR swab. Jadi, soal validitas rapid sangat meragukan.

Tapi, sekarang tidak menjadi soal lagi apakah hasil rapid itu valid atau tidak. Maskapai penerbangan sudah menjadikan syarat administratif. Salah satu syarat wajib menempuh penerbangan. Yang artinya ada pihak yang berbisnis.

Calon penumpang diberi pilihan. Apakah menunjukkan hasil rapid test yang hasilnya negatif. Atau hasil PCR swab dengan hasil negatif. Tentu pilihan jatuh pada rapid. Lebih murah dari PCR.

Ada pihak yang diuntungkan dengan itu. Yaitu produsen alat rapid. Itu yang pasti. Distributor juga dapat untung. Termasuk juga klinik, rumah sakit, puskesmas, dan lembaga-lembaga yang menyediakan jasa rapid test.

Indikasi bisnis gelap itu sudah tercium publik. Juga tercium oleh pihak yang punya otoritas. Supaya intrik bisnis itu tidak telalu kelihatan. Beberapa hari lalu ditetapkanlah tarif maksimal. Kabarnya Rp150.000,00 per orang. Yang sebelumnya bisa mencapai Rp.500.000,00.

Pebisnis-pebisnis semacam ini tentu berharap pandemi tidak akan berakhir. Sehingga mereka tetap bisa berjualan alat rapid. Apakah itu produsen pertamnya atau juga calonya.

Jadi, di tengah suasana Pandemi, rapid test jadi pundi-pundi tersendiri bagi pebisnis gelap itu. Jadi lahan bisnis baru bagi pihak tertentu. Dan tampaknya itu dilindungi. Jelas itu bisnis yang jahat. Mengeruk keuntungan di masa pandemi.

Kita akan lihat. Apakah bisnis gelap yang jahat itu akan terus menguat. Atau akan ada prubahan iklim dalam waktu dekat. Tapi, melihat penanganan pandemi yang kurang baik, tampaknya bisnis itu akan terus menjadi-jadi. []