Uniknya Kreativitas Alarm Gaya Masyarakat Desa, Kolecer Tradisional

Contoh kolecer tradisional

Hidup adalah tantangan. Begitulah ungkapan bijak yang cukup populer. Tentu benar, bahwa tantangan merupakan bagian dari hakekat kehidupan.
Hampir tidak ada aspek kehidupan manusia yang lolos dari rintangan dan tantangan, yang mengharuskan ia dapat mengatasinya.
Namun berkat potensi pemikiran dan budi daya yang dimiliki oleh manusia, setiap tantangan yang dihadapi hampir selalu muncul alternatif penyelesaiannya. Hasilnya, gagal-sukses belum dihitung, yang terpenting bagaimana upaya untuk menghadapi persoalan itu.

Begitu pula yang terjadi pada hampir setiap peradaban manusia. Tidak hanya untuk masyarakat modern. Tidak pula menjadi dominasi masyarakat kota. Masyarakat pedesaan sekalipun memiliki kreasi untuk menghadapi tantangan kehidupannya. Bahkan tidak jarang yang memiliki proyeksi lebih baik.

Masyarakat pedesaan, yang nota bene pergaulan terbatas pada lingkungan sekitar mereka pada di masa lalu, aneka kreativitas untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari, begitu apik dan sangat menghormati lingkungan.
Sebagai contoh dalam hal penciptaan alat sistem peringatan dini, pengawasan atau pemantauan di sawah, ladang, pemukiman, atau di kalangan petani ikan.
Bagi petani, untuk mengusir hama burung yang menyerang padi di sawah, mereka menciptakan semacam sistem alarm dan pengawasan. Alarm itu disebut Kolentrang.
Kolentrang ini biasanya terbuat dari aneka kaleng bekas, botol bekas, bambu atau lainnya, kesemua itu menghasilkan bunyi-bunyian tak beraturan dan memberi kesan keributan.

Dengan memanfaatkan energi angin, alat itu digunakan untuk menghalau burung. Bahkan ada yang dipadu dengan aneka kreasi lain seperti bebegig dan lain sebagainya, dengan penambahan daya. Misalnya digerakan atau ditabuh oleh penjaga manusia.
Hampir serupa dengan petani sawah, para peladang punya cara lain untuk mengusir aneka hama seperti burung, babi hutan, atau sejenisnya, dengan membuat kolecer (baling-baling).

Kolecer dipadu dengan pemasangan kaleng atau sejenisnya yang menghasilkan bunyian, karena tergerakan oleh ujung bagian as kolecer.
Kolecer biasanya terbuat dari bambu kering bagian dalam (hatinya, yang disebit tipis ramping). Untuk kepentingan jangkaun yang lebih luas, kadang dibuat dari bahan kayu yang kering, dengan bobotnya rendah alias ringan, sehingga mudah berputar oleh angin.
Sementara itu, untuk menjaga kolam ikan dari serangan hama predator seperti sero (berang-berang), biawak, ular, burung pemangsa ikan, dibuat pula alat lain.
Alat itu dipasang di bagian sumber aliran air. Alat ini juga menghasilkan bunyi-bunyian namun teratur. Digerakan oleh energi air yang diterjunkan menghantam material yang disiapkan.

Sistem alam kolam ini disebut Batok Ngisang (Sunda. Batok = tempurung, ngisang = membersihkan (maaf) alat kelamin atau anus, saluran buangan depan dan belakang). Nama itu nampaknya analogi dari tempurung yang seolah-olah sedang membersihkan organ vitalnya.

Aneka peratalan tadi biasanya dibuat sederhana. Asal menghasilkan bunyi kencang yang dapat mengganggu hama yang menyerang terhadap peliharaan petani baik tanaman maupun ikan.

Bahan-bahan untuk membuat peratalan itu pun memanfaatkan aneka potensi yang ada di sekitarnya. Tanpa harus membeli, yang jelas-jelas akan menambah cost produksi.
Hebatnya, alat itu berjalan otomatis, memanfaatkan sumber energi alam (angin, air), sehingga dapat meminimalisasi serangan hama. Tanpa harus menjaganya setiap waktu. Sungguh kreasi yang patut diapresiasi.

Namun sayangnya, belakangan ini sejalan dengan perkembangan modernisasi, pemanfaatan peralatan sistem alarm seperti ini sudah sulit ditemukan. Padahal kita dapat melakukan modifikasi sesuai dengan kepentingan. Begitu bukan?*