Sekarang Era Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Perubahan iklim bisnis terus menerus berubah hingga kita sebagai pebisnis seperti tertatih untuk mengikuti perubahan tersebut. Apalagi awal tahun 2020 ini akibat dari pandemic virus korona yang cukup mencekik masyarakat yang menggeluti dunia bisnis, baik perusahaan besar, menengah dan kecil. Keadaan ini mengakibatkan anggaran baik pemerintah, perusahaan maupun konsumen masyarakat menahan anggaran mereka untuk keperluan internal dan penanganan akibat virus korona.

Kita tahu bahwa aliran bisnis itu dari hulu hingga hilir atau B2B dan B2C. Business to business bisa dari anggaran pemerintah, lalu pemenang lelang akan disubkontrakkan ke perusahaan dibawahnya, begitu seterusnya. Sedangkan B2C dari perusahaan yang memang diperuntukkan langsung ke customer sebagai end usernya, namun itu pun juga melalui perusahaan sebagai penyalur ke masyarakat, contoh : unilever menyediakan kebutuhan rumah tangga, harus melalui alfamart,giant sebagai distributor mereka. Nah, dengan keadaan seperti ini yang para perusahaan, pemerintah yang mengalihkan anggaran dalam penanganan virus korona akan berakibat pada rantai bisnis dibawahnya. Sehingga ekosistem bisnis terganggu dan uang tidak mengalir hingga masyarakat. Bagaimana pun masyarakat dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual.

Saya sempat mendengar terdapat orang yang berpendapat bahwa”virus korona bukan alasan dalam menggangu iklim bisnis”, saya kira itu statement yang ngawur karena tidak disertai alasan dan analisanya. Padahal ada istilah unpredictability situation yang dapat menggangu bisnis, dan itu memerlukan waktu 3 – 6 bulan untuk terbiasa atau yang sering disebut next normal business. Kami sebagai pebisnis miris mendengar pernyataan itu, mungkin orang tersebut yang sudah menerima gaji tetap dari pemerintah.

Bila kita kembali teori perubahan bisnis, ada teori mengenai change, yaitu PEST. Politic, Economy, Social and Technology yang dapat mengubah bisnis. Dan situasi virus korona ini benar-benar berurutan dari kata PEST tersebut.

Dimulai dari Politik ; dengan adanya virus korona maka pemerintah menerapkan lockdown,perusahaan untuk tidak melakukan pekerjaan official di kantor, tidak boleh berkeliaran sehingga muncullah aturan dan sanksi jika melanggar bagi warga maupun bagi perusahaan. Economy; akibat dari aturan lockdown secara ekonomi terganggu dengan banyak anggaran yang dialihkan baik pemerintah dan swasta. Terlebih lagi bagi masyarakat yang menahan belanja mereka, sehingga tidak ada permintaan ke perusahaan dan berakhir PHK. Social; kebiasaan masyarakat yang ketakutan,paranoid untuk keluar berbelanja karena protocol kesehatan, memang ada belanja online (itu akan dibahas di teknologi) namun 90% ke sector kuliner ini pun restoran kehilangan revenue 50% dari pemasukan dine in. Teknologi; akibat dari pandemic korona ini, kebutuhan internet melonjak, sekolah dijadikan pembelajaran jarak jauh, belanja online meningkat terutama di sector kuliner. Bisnis pengiriman dengan segmen city kurir kebanjiran order pengiriman individual, namun dari segi bisnis, pengiriman korporat yang menjadi backbone ekonomi perusahaan dan terdampak pengurangan revenue sekitar 50% pula.

Situasi seperti saat ini dalam pandemic virus korona bukanlah situasi ekonomi bisnis normal, lebih tepatnya situasi bisnis dengan status perang. Kenapa status perang? Karena situasi ini menjadi unpredictability business, keadaan yang sulit diprediksi dan dapat meruntuhkan keuangan perusahaan sewaktu-waktu dengan cepat. Dalam situasi seperti ini permintaan menjadi terbatas, penawaran pun juga terbatas karena ruang gerak bisnis dibatasi.

Untuk menanggapi situasi tersebut, kita harus memiliki sekutu untuk menghadapi musuh yang sulit kita tanggapi, yaitu situasi politik,ekonomi dan social. Oleh karena tersebut kita harus berkolaborasi dengan pihak kawan dan lawan untuk membuat produk dan skema bisnis. Kolaborasi ini dapat menerapkan sistem pull market untuk dapat bisnis tetap berputar.

Jadi kolaborasi ini dapat mengumpulkan segmen usaha yang heterogen, misalnya usaha kuliner. Dalam bisnis kuliner, saya ambil contoh bisnis makanan ceker mercon. Untuk menghasilkan ceker mercon, maka memerlukan bahan, ayam mentah, bumbu-bumbu, wadah cekernya dan package makanan ceker mercon itu. Maka pengusaha ceker mercon dapat berkolaborasi dengan penjual ayam, penjual package dan printing dan penjual bumbunya. Jika mereka bersatu memajukan ceker mercon maka bisnis ditiap penjual akan berputar. Kita menggunakan strategi tim sepakbola, ada yang menjadi penyerang, pemain tengah, gelandang dan kiper.

Dalam hal ini penyerangnya adalah pedagang ceker mercon, pemain tengah adalah pedagang bumbu, pemain gelandang adalah pedagang package dan printing, dan kipper adalah pedagang ayam mentah. Dengan pola saling kolaborasi dari segi harga,kualitas maka pedagang ayam dapat menjualkan ceker mercon, pedagang package dapat mempromosikan ceker mercon. Sebab bila ceker merconnya laku maka mereka juga ikut laku disamping mendapat komisi penjualan. Apakah ceker mercon di anak emaskan? Tentu tidak, karena ceker mercon juga harus menampilkan nama penjual package, penjual ayam dan bumbunya.

Bayangkan jika ini dilakukan dengan skala besar, dengan berbagai macam segmen usaha penyerang, tengah, gelandang dan kipernya. Lalu ditambah lagi dengan komunikasi dengan dibentuknya komunitas untuk pemenangan bisnis. Bisnis akan menyenangkan bila kita banyak komunikasi dan berkumpul saling bertukar pikiran satu dengan yang lainnya. Saat ekonomi resesi ini, kolaborasi akan menjadi solusi terbaik dalam memutar ekonomi dan bisnis.

0