3 Alarm Bunyian Gaya Masyarakat Pedesaan

Ilustrasi alarm sistem peringatan

Rancah.com – Bagi masyarakat pedesaan yang dominan petani, untuk mengusir hama yang menyerang tanaman, mereka menciptakan alat semacam sistem peringatan dan pengawasan.
Begitu juga untuk memelihara ikan, dikembangkan pula pembuatan alarm khusus untuk kolam. Dan sangat mungkin juga pengembangan sistem alarm untuk kebutuhan lainnya, yang belum diketahui oleh penulis.

Sistem peringatan gaya masyarakat desa itu sangat sederhana, namun efektif, serta berwawasan lingkungan, antara lain yang populer seperti kolentrang, kolecer dan batok ngisang.

Berikut penjelasannya.

1. Kolentrang

Kolentrang adalah nama untuk alat sistem peringatan yang diambil dari bunyi yang dihasilkannya seperti bunyi “kolentrang”.
Kolentrang ini biasanya terbuat dari aneka kaleng bekas, botol bekas, bambu atau lainnya, kesemua itu menghasilkan bunyi-bunyian tak beraturan dan memberi kesan keributan.
Dengan memanfaatkan energi angin, alat itu digunakan untuk menghalau burung dengan cara digantung. Bahkan ada yang dipadu dengan aneka kreasi lain seperti bebegig dan lain sebagainya, dengan penambahan daya. Misalnya digerakan atau ditabuh oleh penjaga manusia.
Kolentrang digunakan oleh para petani desa, untuk mengusir hama burung yang menyerang padi di sawah.

2.Kolecer

Kolecer berupa baling-baling yang berputar karena ditebak angin. Semakin angin kencang, maka suara kolecer akan semakin nyaring. Wer-wer-wer. Begitu suara yang dihasilkan karena gelombang bunyi akibat perputaran baling-baling, juga ditambah kret-kret bunyi gesekan penopang baling-baling dengan penyangganya.

Bahkan beberapa varian kolecer dikembangkan dengan tambahan pemasangan kaleng atau sejenisnya yang menghasilkan bunyian, karena tergerakan oleh ujung as kolecer.

Kolecer biasanya terbuat dari bambu kering bagian dalam (hatinya, yang disebit tipis ramping). Untuk kepentingan jangkauan yang lebih luas, kadang dibuat dari bahan kayu yang kering, dengan bobotnya rendah alias ringan, sehingga mudah berputar oleh angin.

Beberapa jenis kayu yang acapkali digunakan oleh masyarakat untuk bahan kolecer: waru, bayur, dadap, jenjeng, dll.
Kolecer dipakai sebagai sistem peringatan di ladang atau huma.

Maksudnya untuk mengusir aneka hama seperti burung, babi hutan, atau sejenisnya.

Batok Ngisang

Untuk sistem alarm di kolam ada alat lain yang disebut Batok Ngisang (Sunda. Batok = tempurung, ngisang = membersihkan (maaf) alat kelamin atau anus, saluran buangan depan dan belakang).

Nama itu nampaknya sebagai analogi dari tempurung yang seolah-olah sedang membersihkan organ vitalnya. Inilah gaya masyarakat memberi nama sebuah alat. Sederhana, jujur dan apa adanya.

Agar menghasilkan bunyi, alat itu dipasang di bagian sumber aliran air yang dihantam air yang diterjunkan (pancuran, sunda) hingga menghantam material tadi yang disiapkan. Lantas menghasilkan bunyi-bunyian.

Batok ngisang dimaksudkan untuk menjaga kolam ikan dari serangan hama predator seperti sero (berang-berang), biawak, ular, dan burung pemangsa ikan. Karena bunyinya yang unik akan mengganggu ketenangan para predator. Kolam jadi aman.
Sebagai contoh kita dapat melihat video hasil karya batok ngisang yang telah jadi di youtube pada channel Amri Sodikin. Sebuah tayangan yang membantu kita untuk dapat mengenal contoh sederhana batok ngisang.

Itulah tiga jenis alat yang menghasilkan bunyian sebagai sistem peringatan. Alat ini dipergunakan oleh masyarakat pedesaan untuk mengusir hama.*