Kemerdekaan Itu Mahal, Tapi Damai Itu Tak Ternilai

Rancah.com – Kemerdekaan itu sesuatu yang mahal, tapi damai itu tak ternilai. Banyak negara yang mampu membeli kemerdekaan, tapi tidak mampu membeli kedamaian.

Indonesia sebagai negara yang jumlah penduduk muslimnya terbesar,  sedangkan Islam jika dilihat dari asal katanya berarti damai, maka sudah semestinya Indonesia menjadi negara paling damai di dunia. Islam adalah agama yang penuh perdamaian, maka setiap muslim sejati wajib menjaga perdamaian. Jika seorang muslim menjalankan ajaran Islam dengan baik, maka Allah akan senantiasa memeliharanya, menyelamatkannya dan memberinya kedamaian, di dunia, tidak harus nunggu di akhirat.

Ironisnya, saat ini ajaran Islam tidak lagi menjadi inspirasi bagi perdamaian di dunia. Di berbagai negara di mana umat Islam menjadi mayoritas, justru kekacauan dan kerusuhan terjadi. Peperangan berkecamuk demi memperebutkan kekuasaan. Hal ini menyebabkan kemiskinan dan pengungsian merebak di mana-mana. Kebodohan merajalela. Umat Islam terpuruk. Keagungan nilai-nilai Islam kehilangan pengaruhnya di berbagai percaturan dunia modern.

Terorisme dengan mengatasnamakan Islam masih terus beraksi di mana-mana, bahkan melancarkan aksinya di negara Islam atau negara dengan rakyat mayoritas beragama Islam. Sungguh menyedihkan melihat fakta ini.

Nikmat kemerdekaan sebagai berkah dan rahmat Allah SWT yang dilimpahkan kepada bangsa Indonesia ini mestinya patut disyukuri, namun ada sebagian kecil umat Islam yang merasa tidak puas, bahkan mengingkari nikmat tersebut. Mereka merasa bahwa apa yang diperoleh oleh umat Islam di Indonesia tidak sesuai dengan harapan dan pandangan keagamaan mereka.

Umat Islam seharusnya sudi belajar dari sejarah, agar tidak terus menerus terjebak dalam kesalahan yang sama dan dengan bebalnya mengira mereka sedang memperjuangkan agama mereka. Padahal mereka sedang tertipu oleh agenda politik kekuasaan. Sungguh menyedihkan…! Mudah terkecoh dengan segala atribut yang berbau agama. Padahal Ibnu Rusd telah mengingatkan berabad-abad yang lalu, ”Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.”

Mari kita tengok negara India, yang setelah berhasil mendapatkan kemerdekaan, kemudian dilanda perang saudara yang cukup melelahkan. Di bawah Ali Jinnah, Pakistan mengambil jalan sendiri memisahkan diri dari India dan membentuk negara sendiri yang berdasar pada agama Islam. Pakistan memerdekakan diri karena tidak ingin berada di bawah pemerintahan agama Hindu. Mungkin mereka mengira bahwa jika mereka membentuk negara Islam, dengan hukum islam yang kaffah, maka kemajuan, kemakmuran, kejayaan, kedamaian dan ketentraman, secara otomatis akan teranugerahkan kepada negara mereka.

Apakah setelah menjadi negara Islam Pakistan berubah menjadi negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur? Tidak! Apakah setelah menggunakan hukum Islam maka umat Islam di negara tersebut berhenti bertikai dan hidup damai? Tidak! Pakistan mengalami perang saudara panjang dan butuh banyak pertumpahan darah sebelum akhirnya pecah. Pakistan Timur memerdekakan diri dan menjadi negara Bangladesh. Jadi, sekali pun sudah menjadi negara Islam dan dengan menggunakan hukum Islam, konflik dan perpecahan tetap tidak terhindarkan. Sampai sekarang Pakistan selain berseteru dengan India, juga berseteru dengan Afghanistan yang juga sesama negara Islam.

Bagaimana dengan Bangladesh? Setelah memisahkan diri dari Pakistan, Bangladesh juga mendirikan negara Islam. Hingga saat ini, tercatat sekitar 150 juta orang penduduknya yang beragama Islam, menjadikan Bangladesh sebagai populasi Muslim terbesar keempat di dunia.  Namun negara ini juga dinaungi mendung konflik. Sebuah kudeta yang dipimpin oleh perwira militer muda, Sheikh Mujibur Rahman, menyingkirkan dan membantai dengan tangan dingin Perdana Menteri Pertama Bangladesh dan semua keluarganya pada tanggal 15 Agustus 1975. Kudeta ini mengantar periode pemerintahan militer yang otoriter dan berlangsung selama 15 tahun. Bangladesh adalah sebuah negara berdasarkan hukum Islam tapi ironisnya menjadi salah satu negara pusat perdagangan manusia di dunia.

Mari kita tengok negara Afganistan. Serangkaian kudeta di tahun 1970an, menghancurkan sebagian besar Afganistan. Setelah bebas dari cengkeraman pasukan Soviet, negara ini menjadi negara Islam. Sebagian besar wilayahnya telah dikuasai oleh kelompok Taliban, yang memerintah negara itu selama hampir lima tahun sebagai rezim totaliter. Taliban berusaha menerapkan interpretasi hukum Syariah Islam yang kaffah dan ketat. Apakah dengan menerapkan hukum Islam lantas membuat negara itu baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur? Tidak! Afghanistan telah menjadi tempat bersarang bagi individu dan organisasi yang terlibat terorisme, terutama jaringan Al-Qaeda. Sampai sekarang Afghanistan masih dilanda konflik paling rumit. Kemiskinan, ketiadaan jaminan kesehatan dan perang etnis, membuat Afghanistan menjadi negara paling tidak bersahabat bagi kaum wanita dan anak-anak di dunia.

Semoga kita berkenan belajar dari sejarah, sehingga apa yang telah terjadi seperti di Libya, Somalia, Sudan, Afganistan, Iraq dan Syiria, tidak terjadi di Nusantara tercinta ini. Kemerdekaan bisa direbut, tapi damai yang tak ternilai itu belum tentu bisa diraih.