Giatkan Pertanian Di Masa Pandemi, Sejahtera Di Desa

Rancah.com – Melewati pertengahan tahun 2020, covid-19 yang melanda dunia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Diluar dugaan, penurunan ekonomi secara global bisa terjadi dari sektor kesehatan. Dampak pandemi terasa mengguncang di berbagai bidang. Tetapi melambatnya aktifitas ekonomi, tidak lantas diikuti pengurangan konsumsi bahan pokok. Ketersediaan makanan dari produk pertanian dirasakan sangat penting dalam menjalani himbauan pemerintah untuk tetap stay at home. Sehingga pertanian menjadi penyokong utama dalam ketahanan pangan selama pandemi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, covid-19 bisa berdampak baik untuk usaha pertanian. Ditengah keterpurukan di berbagai sektor bisnis, hanya pertanian yang bisa terus tumbuh. Sehingga optimalisasi usaha pertanian perlu terus ditingkatkan. Penuturan tersebut disampaikan saat acara webinar Seller Market Orientation Kadin, Rabu (22/7/2020).

Sebagai negara agraris, mayoritas mata pencaharian penduduk adalah bertani. Dari hasil SUTAS 2018, rumahtangga tani Indonesia sebanyak 27,68 juta. BPS Jawa Timur juga mencatat jumlah pekerja pertanian secara absolut naik 137,43 ribu orang menurut data ketenagakerjaan bulan februari 2020. Namun dengan peningkatan tersebut, capaian kesejahteraan petani masih jauh dari yang diharapkan.

Banyaknya petani kecil/gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 Ha. Sehingga sedikit panen yang dijual, selebihnya habis untuk di konsumsi sendiri. Kondisi ini memaksa mereka mengolah lahan orang lain guna meningkatkan pendapatan. Karena tuntutan ekonomi, waktu mereka banyak tercurah menjadi buruh tani daripada mengurusi lahan pertaniannya.

Selain skala kecil dan modal yang terbatas, sebagian petani kita masih menggunakan teknologi sederhana. Suatu tantangan tersendiri untuk mengajak mereka mau berubah. Dalam tatacara pertanian, pemilihan benih, pemupukan dan pemeliharaan tanaman masih mengandalkan cara lama. Pemikiran petani perlu terbuka menerima inovasi agar produksi meningkat.

Pandemi membuat distribusi produk pertanian menjadi kurang lancar. Terhambatnya jalur transportasi, membuat lonjakan harga yang murah dan hanya mampu dijual di pasar lokal. Hembusan wabah corona telah membuat kondisi petani produsen semakin sulit.

Seiring berjalannya waktu, PSBB melonggar dan new normal mulai diberlakukan, membuat ekonomi perlahan mulai bergerak. Pemasaran produk antar kota mulai terlihat. BPS pun merilis  Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Juni 2020 sebesar 99,60 atau mengalami kenaikan 0,13 persen dibanding NTP sebelumnya. Kenaikan disebabkan Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,23 persen. Angkanya jauh lebih tinggi dari Indeks Harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,11 persen.

Kebijakan pemerintah untuk memudahkan alur transportasi bahan pangan membawa dampak positif. Hal tersebut membuat kegiatan pertanian dari hulu hingga hilir dapat berjalan lancar serta sektor ini dapat terus bertumbuh. Pandemi  menjadi pijakan yang bagus dalam meningkatkan sektor ini.

Optimalisasi Pertanian

Dalam rangka mengoptimalkan potensi sektor pertanian di Indonesia diperlukan optimalisasi. Optimalisasi yang bisa dilakukan adalah dengan memfungsikan lahan yang potensial seperti rawa dan bekas tambang menjadi lahan yang siap untuk usaha tani yang produktif. Tentunya disertai dengan perbaikan dan konservasi untuk kesuburan tanah. Melalui pengelolaan air permukaan/air tanah, keanekaragaman budidaya tanaman, integrasi tanaman dan ternak bermanfaat untuk meningkatkan produktifitas. Semuanya dengan tujuan untuk meningkatkan optimalisasi lahan.

Selain itu, pemberian bantuan berupa benih, pupuk, alsintan dan program padat karya akan menstimulus usaha pertanian. Berbasis pada pertanian rakyat untuk meningkatkan produksi nasional. Menggunakan kelompok tani sebagai wadahnya, bantuan ini dirasakan cukup efektif dan langsung bersentuhan dengan petani sebagai pelaku usaha.

Sesuai data BPS Jawa Timur, rata-rata penguasaan lahan oleh rumahtangga pertanian tahun 2018 adalah 3531,26 meter persegi. Sehingga pemanfaatan lahan sempit untuk optimalisasi perlu digalakkan. Salah satunya dengan tumpangsari, sehingga panen yang diperoleh akan  berlipat bila dibandingkan dengan pertanaman tunggal atau monokultur.

 Selain optimalisasi lahan, terobosan usaha pertanian perlu dilakukan. Dengan pemikiran maju untuk meningkatkan penghasilan. Bagaimana menciptakan pola pendapatan harian, mingguan, bulanan, triwulan dan tahunan. Tidak hanya tanaman pangan, tetapi dikembangkan juga dengan aneka sayuran, buah-buahan, peternakan dan perikanan. Cara tersebut lebih mengacu pada tatacara pertanian yang out of box, tetapi cukup jitu untuk dijalankan.

Pola tersebut terbukti bisa berjalan dan meningkatkan pendapatan. Sudah banyak petani dan komunitas pertanian yang bisa mendapatkan pendapatan harian, mingguan, bulanan dari bertanam aneka sayuran, buah, susu kambing, ternak dan produk pertanian lainnya. Stakeholder dan instansi yang terkait perlu melakukan sosialisasi agar lebih banyak petani yang tahu dan mau untuk belajar.

Dalam skala kecil, terobosan pertanian dapat dimulai dari keluarga. Dengan cara inovasi memanfaatkan lahan pekarangan rumah. Banyak cara yang bisa diadopsi, seperti bertani hidroponik, vertikultur, budikdamber dan metode rooftop. Sehingga lahan sekitar rumah dapat menghasilkan aneka sayuran, buah, ikan maupun unggas. Selain meningkatkan ketahanan pangan, bila dikelola dengan baik dapat menghasilkan nilai secara ekonomis untuk pendapatan keluarga.

Tenaga Kerja Pertanian

Pandemi covid-19 mengakibatkan gelombang PHK membuat pengangguran semakin bertambah. Tidak hanya di dalam negeri, berimbas pula pada pejuang devisa luar negeri. Terjadinya lockdown, membuat kontrak bekerja tidak diperpanjang lagi. Sehingga, saat awal terjadinya wabah, sebagian mereka terpaksa harus pulang ke desa.

Tinggal di desa, meskipun sulit bekerja, perasaan ayem tentrem karena dekat dengan kerabat dan saudara. Untuk sekedar makan seadanya akan terjamin, tidak seperti keadaan sebelumnya di kota. Meskipun bekerja serabutan, di desa terasa lebih tenang dan aman dari ancaman covid-19.

Potensi tenaga kerja di desa akan lebih terserap dalam sektor pertanian dan menjadi motor penggerak laju produksi. Apabila diamati tenaga kerja pertanian saat ini belum optimal, banyaknya buruh pertanian yang berstatus pekerja keluarga/tidak dibayar. Diperlukan perluasan tenaga kerja agar lebih produktif, sehingga pekerja tidak dibayar dapat mandiri dengan berusaha sendiri ataupun menjadi buruh tani dibayar.

Diperlukan pembinaan dengan program pemerintah. Baik melalui pusat, propinsi maupun daerah untuk mengadakan pelatihan pertanian. Berguna untuk meningkatkan kompetensi. Tidak hanya ilmu budidaya, tetapi juga masalah pemasaran produk. Sangat baik diterapkan di era ekonomi berbasis digital saat ini. Sehingga dengan pembinaan dan edukasi, pertanian beserta elemennya menjadi semakin kompleks dan maju. Meskipun berada pada masa pandemi, semua pihak akan sadar dan tergerak untuk menggiatkan sektor pertanian.  (*).