Ma’ruf Amin Akan Diganti?

Ilustrasi. Picture by willyaditya.com

Pekan ini, isu Ma’ruf Amin akan diganti mencuat. Publik riuh. Sebagian mengafirmasi. Sebagian menunjukkan reaksi. Setengah marah.

Memang itu baru berita burung. Belum bisa dikonformasi. Kabarnya, ada yang mendapat informasi A1. Informasi itu kemudian mengembang di media sosial.

Kemungkinan kedua, karena media kehabisan berita. Sehingga isu semacam itu dibuat-buat. Mengapa dibuat-buat? Kita tau. Hari-hari ini, publik harus terus dibuat riuh. Untuk menutupi amburadul kekuasaan. Jadi, kemungkinan kedua, itu pekerjaan media yang kehabisan berita.

Kemungkinan ketiga. Isu itu sengaja dimunculkan. Untuk melihat reaksi publik. Bagaimana jika Bapak wakil presiden al-Mukarrom Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin itu benar-benar diganti.

Baik. Kita masuk ke analisis politik yang agak serius. Sejak awal. Publik tau mengapa Ma’ruf Amin dijadikan calon wakil presiden. Untuk mendongkrak suara. Terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama. Kalangan NU. Juga sebagian kalangan muslim.

NU itu masanya cukup banyak. Dan Ma’ruf Amin juga dianggap mewakili kalangan muslim. Ma’ruf amin juga banyak berkiprah di MUI. Majelis Ulama Indonesia. Kiprahnya itu membuat citranya sebagai seorang muslim kental. Sehingga, diharapkan bisa menyedot suara umat Islam.

Tapi, baik NU maupun muslim yang benar-benar melek politik. Tau bahwa Ma’ruf Amin hanya dijadikan alat untuk mendongkrak suara.

Dan itu ampuh. Sebagian besar kalangan NU kampanye setengah mati untuk Ma’ruf Amin. Sebagian muslim juga begitu. Yang artinya mereka berjuang untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf di pilpres 2019.

Tapi, satu bulan setelah dilantik. Hampir-hampir Ma’ruf Amin hilang dari peredaran. Dalam konteks kebijakan, juga tidak begitu banyak berpengaruh.

Artinya, analisa itu benar. Ma’ruf Amin digandeng untuk memikat sebagian publik. Untuk mendongkrak suara. Dan setelah itu dicampakkan. Secara formal sebagai wakil presiden. Tapi, secara riil tidak. Ada yang lebih berperan. Terutama beberapa menterinya.

Bahkan. Sebelum pilpres 2019, publik sudah bisa membaca. Skenarionya, begitu menang, Ma’ruf Amin akan diganti. Karena kondisinya yang sudah sepuh.

Apakah isu Ma’ruf Amin akan diganti itu akan jadi nyata dalam waktu dekat? Sangat mungkin. Secara politik, posisi Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden lemah. Dia tidak punya partai.

Ma’ruf Amin tidak mewakili PKB. Apa lagi PPP. PKB sudah punya jatah sendiri di kabinet. PPP sudah habis sejak ketuanya diborgol. Meskipun sampai sekarang, PPP masih berharap jatah.

Sejak awal, sebagian NU bekerja total memenagkan pasangan  Jokowi-Amin. Tapi, Jatah untuk NU tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Faktanya, menteri agama tidak diberikan untuk NU. Padahal, adatnya begitu.

Mungkin, karena Ma’ruf Amin sudah dianggap mewakili NU. Sehingga itu dianggap sebanding dengan tiga atau empat menteri. Tapi, faktanya, posisi Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden tidak banyak berperan.

Apakah posisi wakil presiden akan ditukar dengan Menteri Agama? Jika iya, NU pasti mengiyakan. Menteri agama dianggap cukup strategis bagi NU.

Tapi, apakah mungkin? Tetap mungkin. Tapi, rasanya kecil kemungkinannya. karena ini periode kedua. Secara politik, kekuasaan tidak butuh NU lagi.

Bagaimana caranya mengganti wakil presiden? Apa alasan konstitusional untuk itu? Mengundurkan diri karena udzur. Itu konstitusional. Sah. Dipaksa mundur karena dianggap udzur. Dalam politik, megundurkan diri artinya disuruh mundur. Atau dipaksa mundur.

Satu variabel lagi yang mungkin penting. Mengapa isu itu mencuat pekan ini? Ingat. Intrik kekuasaan itu selalu begitu. Memunculkan isu untuk melihat reaksi publik.

Kali, ini saya tidak melihat gejolak yang serius pada publik tentang isu ini. Mungkin karena sejak awal publik memang sudah paham. Bahwa skenarionya memang begitu. Sehingga, begitu isu ini dimunculkan, publik tidak begitu kaget.

Atau mungkin karena suasana pandemi. Sehingga publik tidak terlalu peduli dengan soal politik. Paling tidak, gairah publik untuk menyimak politik menurun.

Jadi, ini semacam simulasi. Untuk melihat sampai di mana reaksi publik jikalau wakil presiden benar-benar diganti. Dan hasilnya baik. Publik tidak kaget. Sudah memaklumi. Sebagian setengah marah mungkin iya.

Jadi. Apakah wakil presiden agan diganti dalam waktu dekat? Menurut saya. Dalam waktu dekat mungkin tidak. Tapi, rasa-rasanya, tidak akan sampai akhir periode. Kita buktikan nanti. []

#OPINI

Seluruh isi artikel tanggungjawab penulis.