Nasib Uighur di Kamp Dipertanyakan, Otoritas Cina Belum Buka Suara

Rancah.com – Persebaran virus corona yang kini diberi nama oleh WHO dengan COVID-19 sudah tak terbatas di Hubei saja. Dikutip dari liputan6, beberapa kota bahkan diisolasi seperti kota Hangzhou, sekitar 175 km barat daya Shanghai, Zhejiang Timur, Taizhou, Wenzhou dan beberapa bagian Ningbo terdapat pagar untuk pemblokiran. Hal ini dilakukan tentu untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Sementara tempat lain, dikutip dari CNN Indonesia, etnis Uighur khawatir tertular virus corona terutama etnis yang kini berada di dalam kamp pengasingan. Etnis Uigur yang berada di Xianjing, Cina telah melaporkan sebanyak 55 pasien positif tertular virus corona. Diantara 55 pasien tersebut, 1 diantaranya sudah diperbolehkan untuk pulang.

Organisasi non-pemerintahan atau LSM mempertanyakan bagaimana nasib etnis Uighur yang berada di kamp. Dikutip dari Aljazeera, di kamp pengasingan terdapat paling tidak satu juga orang Uighur dan tak ada satupun tahu kondisi didalamnya. “Orang-orang mulai panik. Keluarga kami ada di sana, berurusan dengan kamp dan virus, dan kami tidak tahu apakah mereka punya cukup makanan atau masker,” kata Dilnur Reyhan,  sosiolog Prancis asal Uighur.

Hastag #VirusThreatInThecamps dan #WHO2Urumqi berseliweran di media sosial seraya berharap WHO mengirim perwakilan untuk melihat kondisi di Xianjing terutama di kamp pengasingan. Disamping itu otoritas Cina belum memberikan jawaban atas bagaimana proses pencegahan di kamp tersebut.