Tunjuk Lystio Sebagai Calon Kapolri, Benarkah Jokowi Sedang Membangun Bargaining Power?

Listyo Sigit Prabowo terpilih sebagai calon Kapolri dari lima calon yang diusulkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Empat calon lainnya adalah Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Kalemdiklat Komjen Arief Sulistyanto, Kabaharkam Komjen Agus Andrianto, dan Kepala BNPT Boy Rafli Amar.  TEMPO/Muhammad Hidayat

Sebuah tanggapan dilontarkan oleh Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) bidang Kepolisian, Bambang Rukminto, terkait dengan penunjukkan Listyo Sigit Prabowo sebagai calon Kapolri menarik untuk dicermati. Bambang mengatakan posisi Polri dalam konteks politik akan banyak mendapat sorotan, jika Listyo Sigit Prabowo resmi menjadi Kapolri. Koq bisa?

Dilansir dari laman tempo.co, Posisi Listyo yang dinilai memiliki kedekatan dengan Presiden Joko Widodo, akan mendapat banyak pertanyaan. “Dengan penunjukan Listyo, yang orang dekatnya artinya Jokowi sedang membangun bargaining power,” ujar Bambang saat dihubungi Tempo, Ahad, 17 Januari 2021.

Lalu Bambang mengatakan di satu sisi, penunjukan Listyo sebagai calon Kapolri ini bisa berarti positif bagi pemerintahan Jokowi karena ada jaminan keamanan dalam empat tahun ke depan.

Namun, di sisi lain, ia melihat hal ini bisa menjadi ancaman bagi pihak oposisi. “Tak salah bila ke depan, sikap oposisi ini akan tiarap, atau menunggu momen untuk kembali merebut panggung publik,” kata dia.

Bambang mengingatkan bahwa dalam sistem demokrasi, oposisi sangat dibutuhkan sebagai kontrol dari kebijakan pemerintah. Namun, dengan ditunjuknya Listyo, ia mengatakan muncul kekhawatiran suara kritis dapat ditekan agar tak muncul.

“Ini yang harus jadi fokus perhatian. Apakah Kapolri Listyo Sigit memiliki visi jangka panjang, atau sekedar pragmatis sebagai alat penekan suara kritis? Tentunya itu hanya bisa kita lihat dalam prosesnya nanti,” kata Bambang.